Bebas dari Utang, Grup Media Bakrie Jual 39% Saham ANTV Rp 2,4 Triliun

Presiden Direktur VIVA Anindya Novyan Bakrie mengatakan setelah transaksi ini, VIVA akan menjadi perseroan bebas utang.
Image title
15 Maret 2021, 16:31
viva, bakrie, grup bakrie, bakrie group, antv, viva visi media, viva jual saham antv
Saham KATADATA | Arief Kamaludin
Saham KATADATA | Arief Kamaludin

PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) mengantongi persetujuan pemegang saham untuk melakukan penjualan 39% saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), perusahaan induk stasiun televisi ANTV.

Persetujuan ini didapatkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar Senin (15/3) di Jakarta. Adapun nilai penjualan saham MDIA mencapai US$ 171,8 juta atau setara dengan Rp 2,43 triliun atau Rp 158 per saham.

Besaran saham yang dilepas emiten media Grup Bakrie ini setara dengan 15,29 miliar unit saham kepada Reliance Capital International Limited (RCIL). Ini merupakan pihak yang disetujui kreditur untuk melaksanakan jual-beli saham tersebut. 

Presiden Direktur VIVA Anindya Novyan Bakrie mengatakan transaksi dilakukan dengan cash settlement. Setelah transaksi ini, utang perusahaan menjadi lunas, dengan tetap memperhatikan ketentuan mengenai harga penjualan minimal saham objek.

Advertisement

"VIVA akan menjadi perseroan bebas utang atau debt free company, Targetnya selesai pada Maret 2021," kata putra pertama pebisnis dan politikus Aburizal Bakrie tersebut dalam acara konferensi pers usai RUPSLB.

Anindya menjelaskan transaksi penjualan saham MDIA merupakan bagian dari skema penyelesaian atau pelunasan seluruh utang Grup VIVA. Skema ini berdasarkan Debt Settlement Agreement (DSA) yang ditandatangani pada 22 Desember 2020 bersama para kreditur.

Ada beberapa hal yang disepakati dalam DSA, di antaranya posisi akhir total pinjaman VIVA sebesar US$ 239,76 juta atau setara Rp 3,3 triliun. Utang itu terdiri dari utang pokok berdasarkan Junior Facility Agreement US$ 78,37 juta dan utang pokok berdasarkan Senior Facility Agreement US$ 161,39 juta.

Sebagian utang Senior Facility yang menjadi tanggung jawab ANTV, akan diselesaikan melalui fasilitas pembiayaan (refinancing). Fasilitas ini akan didapat dari perbankan nasional sebesar Rp 960 miliar atau setara dengan US$ 67,94 juta yang disebut juga sebagai cash settlement.

Total utang pokok, setelah dikurangi cash settlement, menjadi US$ 171,82 juta atau setara dengan Rp 2,43 triliun. Nah, selisih ini yang akan dibayarkan melalui transaksi penjualan saham MDIA sebesar 39%.

Dalam kesepakatan tersebut, kedua pihak setuju seluruh bunga dan biaya-biaya yang telah timbul dan belum dibayarkan terkait Senior Facility dan Junior Facility dihapuskan.

Anindya mengatakan penyelesaian utang secara komprehensif ini diharapkan akan memberikan manfaat yang signifikan kepada Grup VIVA. Beberapa manfaatnya, mengurangi utang berdenominasi dolar Amerika Serikat. Dengan begitu, VIVA bisa menghilangkan risiko fluktuasi penurunan nilai mata uang rupiah terhadap dolar dan biaya hedging valas.

Manfaat lainnya, perbaikan posisi keuangan VIVA dengan meningkatnya ekuitas. Karena jual-beli saham obyek dilaksanakan dengan harga Rp 158 per saham, lebih tinggi dari nilai buku.

Neraca keuangan pun diklaim lebih sehat dan arus kas menjadi kuat. Sehingga, dipercaya memberikan keleluasaan kepada VIVA untuk mengembangkan bisnis di ranah media digital dengan memanfaatkan ANTV dan tvOne.

Anindya optimistis dengan level utang di yang sangat baik, Grup VIVA semakin lincah bergerak mengembangkan bisnis media digital. Pengembangan ini dilakukan melalui entitas anak perusahaan dan portofolio bisnis digital lainnya.

"Proses transformasi digital seluruh bisnis inti VIVA sudah kami mulai. Inisiatif diversifikasi konten-konten VIVA dan memperluas jangkauan (reach) melalui berbagai platform digital untuk memanjakan konsumen milenial dan centennial akan diluncurkan dalam waktu dekat," ujarnya.

Pengamat pasar modal Lucky Bayu Purnomo menilai langkah VIVA menjual saham MDIA untuk pelunasan seluruh utang, merupakan langkah yang cerdas. Sebab, tidak memberikan efek dilusi terhadap kepemilikan pemegang saham lainnya di MDIA, serta tidak menyebabkan perubahan pengendalian.

 

"Harga jual beli saham MDIA dilakukan di atas nilai buku. Utang dapat di-management dengan baik dan kendali atas MDIA tetap berada di tangan VIVA,” kata Lucky.

Saat ini saham MDIA mayoritas dipegang VIVA sebesar 89,99%, sisanya sekitar 10% dimiliki oleh publik. Namun, setelah adanya transaksi ini, VIVA akan hanya memiliki 51% saham MDIA, lalu RCIL sebesar 39%, dan porsi publik tidak berubah.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait