Nadiem Makarim: Go-Jek Tawarkan Solusi Infrastruktur Logistik

Investor dalam negeri belum berani menginvestasikan dananya untuk perusahaan perintis di Indonesia.
Safrezi Fitra
29 Februari 2016, 11:23
No image
Arief Kamaludin | Katadata

KATADATA - Kesuksesan Nadiem Makarim mendirikan Go-Jek membuka mata banyak kalangan bahwa perusahaan perintis atau start up di bidang teknologi informasi bisa bertahan bahkan berkembang dengan cepat di Indonesia. Keberhasilan pria 30 tahun lulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat, ini tidak lepas dari pembelajaran dan modal dana dari luar negeri.

Saat menjadi pembicara dalam “The Economist Event Indonesia Summit 2016” di Hotel Shangri La, Jakarta, Kamis, 25 Februari 2016, Nadiem menceritakan awal mula mendirikan Go-Jek. Saat itu dia melihat lalu lintas begitu padat dan sangat tidak nyaman menggunakan transportasi roda empat di Jakarta. Ojek pun menjadi satu solusi yang dipilih masyarakat. Sayangnya, ojek punya segudang masalah. Mulai dari tidak ada patokan tarif sehingga kerap dianggap tidak masuk akal sampai masalah keamanan.

Dia menceritakan pengalamannya menggunakan ojek. Pengemudi ojek yang ditumpanginya memasang tarif tinggi dengan jarak tempuh dekat. Seiring berjalannya waktu, Nadiem menemukan jawaban. Pengemudi ojek jarang mendapat order. Ketika mendapat penumpang, dia pun memasang tarif tinggi. Jika tidak, belum tentu mereka mendapat penumpang lagi pada hari itu.

Dengan bekal pengetahuan di dunia digital, Nadiem berinisiatif membuat aplikasi seluler yang memungkinkan orang mudah menggunakan jasa ojek dengan patokan tarif. Pengemudi tidak perlu lagi menunggu penumpang di pangkalan. Calon penumpang bisa memanggil ojek lewat aplikasi yang diberi nama Go-Jek. Aplikasi ini kemudian berkembang tidak hanya menyediakan jasa ojek, tapi jasa memindahkan barang hingga layanan pijat.

Melihat perkembangan Go-Jek saat ini, Nadiem merasa layanan digital adalah masa depan industri. Makanya, banyak start up atau perusahaan perintis di bidang teknologi dan informasi (IT) seperti Go-Jek dan layanan perdagangan via internet (e-commerce) menjamur dan sukses. “Market place (cabang e-commerce) seperti Lazada dan Matahari Mall, itu berkembang dengan layanan digital,” kata Nadiem.

Bagaimana pandangannya mengenai kondisi start up di Indonesia dan apa yang akan dilakukan Go-Jek ke depan, Katadata berkesempatan mewawancarai langsung Nadiem Makarim usai menjadi pembicara di acara “The Economist Event Indonesia Summit 2016”. Berikut ini petikan wawancaranya.

Bagaimana pasar e-commerce di Indonesia?

Menurut saya potensinya luar biasa. Salah satu hal yang mungkin menghadang pertumbuhan ekonomi adalah infrastruktur logistik dan itu bagian yang ditawarkan Go-Jek. Pengantaran barang dan orang itu adalah krusial untuk bisa benar-benar melepaskan potensi di Indonesia. 

Pasar terbesar e-commerce saat ini masih berada di Jakarta, bagaimana peluang untuk daerah lain? 

Dalam 10 tahun ke depan perkembangan e-commerce masih fokus ke kota-kota besar. Mayoritas orang Indonesia tinggal di kota-kota besar dan tren urbanisasi masih terjadi. Belum bisa masuk ke kota-kota kecil atau ke kampung-kampung. Karena di sana akses logistik masih susah, meski sudah banyak orang yang menggunakan smartphone (telepon seluler pintar).

Bagaima penetrasi internet ke depan?

Saya yakin dalam 10-15 tahun ke depan tidak akan ada orang yang tidak punya smartphone. Mungkin lima tahun lagi harga smartphone sudah Rp 100 ribu. Dengan begitu penetrasi internet di Indonesia semakin besar. (Baca: Paket Kebijakan X, Asing Bebas Masuk 35 Jenis Usaha)

Apakah Anda pernah terbayang akan memiliki 200 ribu mitra pengemudi (driver)?

Sama sekali enggak. Sebenarnya kami mengantisipasi pada akhir tahun 2015, akan ada 10 ribu driver Go-Jek. Itu rencana awal kami. Tetapi kenyataan dengan banyaknya pengguna, terpaksa kami mencari driver sebanyak itu.

Saat ini berapa total karyawan dan mitra Go-Jek?

Kalau karyawan sekitar 1.000 orang, mencakup IT, engineering, dan operasional di 15 kota. Total mitra pengemudi Go-Jek yang terdaftar mencapai 200 ribu. Tetapi tidak semuanya aktif, ada sebagian mitra yang hanya sebagai pekerjaan sampingan. Untuk mitra Go-Box, jumlahnya mencapai 5.000 unit truk dan Go-Masage totalnya 2.000, namanya service professional.

Mau buka di kota mana lagi?

Sekarang Go-Jek sudah ada di 15 kota besar, kemungkinan kota-kota yang potensial ke depannya kami akan buka. Tapi saya belum bisa bilang kota mana saja.

Pengembangan bisnis apa lagi yang akan dilakukan?

Saya belum bisa bilang apa yang akan kami luncurkan, tetapi banyak hal yang terkait untuk membantu ekosistem logistik yaitu e-commerce. Seperti sekarang, kami sudah bekerjasama dengan Tokopedia. Kemudian berbagai hal yang bisa memudahkan pelanggan kami dari sisi pembayaran.

Bagaimana update akuisisi dua perusahaan India? 

Akuisisi itu sudah selesai. Mereka (C42 Engineering dan CodeIgnition) resmi bergabung dengan tim kami. Seru sekali, kami memiliki engineer di Yogyakarta, Jakarta, dan Bangalore (India). Mereka saling belajar satu sama lain. Yang di Yogyakarta senang sekali datang ke India. Yang dari India senang bisa ke Indonesia.

(Baca: Akuisisi Dua Perusahaan, Go-Jek Buka Kantor di India)

Jadi semacam transfer pengetahuan?

Betul. 

Apa keuntungan utama untuk Go-Jek, dari akuisisi itu?

Menambah pengalaman dan bisa mengembangkan arsitektur teknologi dan bisnis yang rumit. Di India banyak sekali start up yang skalanya besar, mereka juga sudah berpengalaman. 

Reporter: Nur Farida Ahniar, Ameidyo Daud Nasution
    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait