• Kasus Covid-19 di negara produsen vaksin meningkat, sehingga pasokan vaksin Covid-19 terhambat
  • Jokowi khawatir terhambatnya pasokan Covid-19 dari luar negeri akan menghambat program vaksinasi
  • Bio Farma menambah kapasitas produksi vaksin Covid-19

 

Target program vaksinasi Covid-19 terancam molor. Pangkal masalahnya, pasokan vaksin yang bergantung dari luar negeri seret. Beberapa produsen memprioritaskan produksi untuk negaranya sebelum diekspor, sehingga banyak negara berebut mendapatkan jatah vaksin tersebut.

Terancam molornya program vaksinasi ini dikeluhkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia khawatir ketersediaan vaksin dari luar negeri tidak dapat memenuhi kebutuhan warga Indonesia saat ini. Padahal, ia menargetkan proses vaksinasi dapat dilakukan kepada jutaan orang per harinya.

Target yang ditetapkan pemerintah mengacu pada 29 ribu vaksinator di Indonesia. Jika satu vaksinator dapat menyuntik 30 orang dalam satu hari, maka total masyarakat yang disuntik per hari mencapai 1,2 juta orang. Namun, ketersediaan vaksin masih menjadi masalah besar.

Menurut Jokowi, pemerintah sudah mendapatkan 3 juta vaksin untuk tenaga Kesehatan dan 7 juta vaksin untuk pelayan publik atau pekerja publik, guru, lansia, dan pekerja di pusat ekonomi. Setelah itu, pemerintah akan mendistribusikan untuk masyarakat umum.

Sejauh ini, pemerintah sudah mengamankan 426 juta vaksin covid-19 dari empat perusahaan produsen. 100 juta dosis dari Sinovac di China dan 100 juta dosis dari Novavax di Kanada. Kemudian 100 juta dosis dari AstraZeneca di Inggris, dan 100 juta dosis dari Pfizer atau perusahaan gabungan Jerman-AS.

Namun, kata Jokowi, ada 215 negara yang berebut mendapatkan vaksin. Makanya, meski Indonesia sudah mendapatkan jatah, Jokowi belum bisa memastikan kapan vaksin tersebut dikirim.

"Masalah besar adalah ketersediaan vaksin itu sendiri yang tidak bisa dalam jumlah yang kami inginkan dalam waktu sekarang," kata Jokowi saat Perayaan Imlek Nasional Tahun 2021 di Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu (20/2).

Stok vaksin COVID-19 terancam menipis pada April 2021. Hanya tersedia 7,8 juta dosis vaksin Sinovac. Dengan 7,8 juta dosis vaksin Sinovac produksi Bio Farma yang Indonesia miliki untuk April 2021 sebenarnya bisa habis digunakan dalam waktu kurang dari sebulan. Bila saat ini 500 ribu dosis vaksin COVID-19 yang disuntikkan per hari, maka dengan jumlah tersebut bisa habis dalam 15 hari.

"Kita nyuntiknya sudah 500 ribu dosis per hari. Bahkan, mungkin bisa meningkat jadi 600 ribu dosis sehari. Artinya 7,8 juta itu (untuk) suntik 15 hari bisa habis," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat diskusi daring penanggulangan pandemi COVID-19 pada Sabtu (27/3).

Menipisnya ketersediaan vaksin COVID-19 pada April disebabkan pengiriman vaksin AstraZeneca melalui skema COVAX-GAVI Facility yang tertunda, kemungkinan hingga Mei. Sejumlah negara di Eropa mengalami lonjakan kasus Corona dan mengembargo vaksin AstraZeneca di India.

Rencananya Indonesia bakal menerima 2,5 juta vaksin AstraZeneca pada Maret 2021. Total vaksin AstraZeneca yang akan diterima 11,7 juta dengan pengiriman direncanakan selesai Mei 2021. Namun, yang diterima Indonesia saat ini baru 1,1 juta dosis vaksin pada 8 Maret 2021.

Akibat seretnya pasokan vaksin, pemerintah mengantisipasinya dengan memperlambat program vaksinasi. Budi menjelaskan stok vaksin pada Maret 2021 yang masih tersisa akan didistribusikan bulan ini. “Jadi, kita menggunakan vaksin Sinovac sekarang, dengan rentang suntikan dosis pertama dan kedua itu 14 hari, tapi bisa juga 28 hari. Kita ambil yang 28 hari," ujarnya.

Dia menegaskan program vaksinasi akan terus berjalan meski lajunya diperlambat. Terbatasnya pasokan vaksin tidak akan menghambat vaksinasi COVID-19 secara nasional karena masih ada stok Sinovac yang akan digunakan.

Pemerintah akan memprioritaskan vaksinasi pada orang lanjut usia (lansia) karena jumlahnya belum memenuhi target 21,5 juta. Budi mengaku saat ini lebih banyak pejabat publik yang divaksinasi ketimbang lansia. “Padahal, lansia lebih rentan terinfeksi apalagi dengan munculnya beberapa varian virus COVID-19," kata Budi.