• Mutasi baru varian virus corona E484K sudah menyebar di beberapa negara dan dikhawatirkan muncul gelombang keempat pandemi Covid-19.
  • Penularan virus mutasi ini lebih cepat dan diduga kebal terhadap vaksin yang ada saat ini.
  • Virus mutasi baru ini mulai terindikasi ada di Indonesia pada Februari 2021

 

Mutasi varian baru virus corona E484K menghebohkan Jepang. Stasiun televisi NHK pada Minggu (4/4), melaporkan 70% pasien positif Covid-19 di sebuah rumah sakit di Tokyo terinfeksi mutasi virus corona E484K ini. Temuan kasus ini memunculkan kekhawatiran adanya gelombang keempat pandemi Covid-19. Ternyata kasus mutasi E484K ini juga sudah ditemukan ada di Indonesia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan temuan pertama mutasi varian virus corona E484K terdeteksi di Jakarta. Temuan ini didapat dari beberapa pemeriksaan sampel dari salah satu rumah sakit di Jakarta Barat.

"Tetapi dilaporkannya (temuan kasus) pada dua atau tiga hari yang lalu di GISAID oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman," kata Nadia seperti dikutip Antara, Senin (5/4).

Eijkman adalah lembaga penelitian pemerintah di bidang biologi molekuler dan bioteknologi kedokteran. Lembaga ini bernaung di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi. GISAID merupakan organisasi nirlaba bank data yang kini menjadi acuan untuk data genom virus corona.

E484K merupakan hasil mutasi varian B117 seperti yang ditemukan di Afrika Selatan dan Brasil. Namun, kata Nadia, pasien yang terpapar varian baru Covid-19 E484K tidak memiliki riwayat perjalanan keluar negeri.

Berbeda dengan varian Covid-19 E484K, B117 justru masuk ke Indonesia melalui pelaku perjalanan internasional dari Arab Saudi. Pelaku perjalanan ini masuk ke Tanah Air dan menjalani proses surveilans Whole Genome Sequencing (WGS) pada awal Februari 2021.

Sudah Menyebar di Beberapa Negara

Menurut Nadia, saat ini pasien dengan varian mutasi E484K di Indonesia dinyatakan telah sembuh. Hasil pelacakan (tracing) pun tak ada satupun yang dinyatakan positif corona dari kontak erat dengan pasien tersebut.

Namun, Langkah preventif tetap harus dilakukan pemerintah, karena virus ini lebih cepat menular. Apalagi, sebelum masuk ke Indonesia dan heboh di Jepang, virus mutasi ini juga sudah ada di beberapa negara.

Afrika Selatan

Afrika Selatan menjadi negara pertama yang mencatatkan kasus E484K. Mutasi ini menempel pada varian B1351 yang berkembang di negara itu pada tahun lalu.

Inggris

Di Inggris, mutasi E484K muncul pada varian B117 yang merebak di Inggris pada September 2020. Varian ini diklaim lebih kuat 70% dalam penyebarannya dibandingkan virus corona biasa. Public Health England (PHE) mengaku telah mengidentifikasi 11 kasus varian B117 Inggris yang membawa mutase E484K, di beberapa wilayah seperti Bristol dan Liverpool. E484K sempat membuat fasilitas kesehatan di wilayah tersebut kewalahan, hingga Inggris kembali memberlakukan lockdown.

Brasil

Mutasi E484K ditemukan dalam varian baru bernama P1 yang ditemukan dari empat pelancong asal Manaus, Brasil, yang sedang berkunjung ke Jepang. Setelah itu infeksi yang meluas di kota Manaus.

Amerika Serikat

Mutasi E484K masuk ke Amerika Serikat (AS) melalui varian B117 Inggris. Mutasi itu pertama kali ditemukan di negara Bagian Oregon. Setelah itu mutasi ini ditemukan di beberapa negara bagian lain seperti Arizona, New Mexico, dan Texas.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS telah mencatatkan virus itu dalam sebuah laporan akademik. Laporan itu juga menunjukkan kemungkinan bahwa vaksin akan mengalami penurunan efektivitas saat melawan mutasi ini.

Malaysia

Otoritas Malaysia juga mendeteksi adanya dua kasus infeksi varian baru corona yang dikenal dengan B1525. Setelah dianalisis, varian ini menunjukkan adanya mutasi E484K.

Menurut Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah, mutasi E484K itu terdeteksi pada dua orang yang melakukan perjalanan dari Dubai, Uni Emirat Arab. "Mutasi ini dilaporkan mampu melawan sistem kekebalan tubuh," jelas Noor Hisham yang dikutip dari Reuters.