• Grab akan merger dengan Altimeter dan mencatatkan sahamnya di bursa Amerika Serikat.
  • Valuasi Grab setelah merger dan IPO bisa mencapai US$ 39,6 miliar (Rp 575 triliun)
  • Grab menargetkan profitabilitasnya bisa positif di 2023, dengan capaian EBITDA US$ 500 juta (Rp 7,3 triliun)

 

Perusahaan digital asal Singapura Grab Holdings Inc telah mengumumkan rencananya untuk menjadi perusahaan terbuka di Amerika Serikat (AS). Banyak investor yang sudah berkomitmen membeli saham decacorn ini. Tak hanya investor kakap AS, investor lokal Indonesia pun ikut masuk dalam daftar tersebut.

Decacorn ini menargetkan terdaftar di bursa saham AS pada Juli 2021. Upaya Grab menjadi perusahaan publik dilakukan melalui kerja sama dengan Altimeter Growth, perusahaan khusus untuk tujuan akusisi (SPAC). Nantinya, Altimeter dan Grab akan dimiliki penuh oleh perusahaan induk baru hasil merger.

Menurut Kepala Center of Innovation and Digital Economy Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nainul Huda, salah satu pertimbangan Grab memilih melantai di bursa saham AS, karena adanya kemudahan melalui SPAC. Biasanya perusahaan digital melakukan pencatataan saham perdana (initial public offering/IPO) melalui SPAC.

“Jadi perusahaan digital tidak perlu melantai secara pribadi melainkan dengan perusahaan yang sudah terdaftar di bursa, namun tidak aktif,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (23/4).

Dalam IPO ini, Altimeter juga membawa komitmen investasi swasta pada ekuitas publik atau private investment in public equity (PIPE), sekelompok investor besar berskala global senilai US$ 4 miliar. Altimeter juga berkomitmen memegang saham yang dimiliki sponsornya selama tiga tahun.

Investor yang berpartisipasi dalam penawaran PIPE ini antara lain BlackRock, Counterpoint Global (Morgan Stanley Investment Management), T. Rowe Price Associates, Inc, Fidelity International, Fidelity Management and Research LLC, Janus Henderson Investors, Mubadala, dan Nuveen.

Ada juga Permodalan Nasional Berhad dan Temasek. Grup konglomerasi besar Indonesia pun ikut dalam daftar tersebut, yakni Grup Djarum, Keluarga Sariaatmadja (Elang Mahkota Teknologi/Emtek), dan Grup Sinar Mas.

Peran investor lokal menunjukkan kepercayaan terhadap masa depan Grab, khususnya di Indonesia. Ini perkembangan yang menarik, di tengah ramainya berita merger Gojek-Tokopedia dan rencana IPO mereka di Bursa Efek Indonesia.

Mengutip Reuters, Rabu (21/4), penggalangan dana Grab dari investor global ini berhasil memecah rekor penawaran ekuitas perusahaan Asia Tenggara terbesar yang dilakukan di Bursa AS. Masuknya tiga konglomerasi besar Indonesia dalam daftar PIPE ini memberikan sinyal investor lokal tidak ingin kehilangan kesempatan.

Menurut Nailul Huda, beberapa perusahaan yang bersedia membeli saham publik Grab melalui PIPE mendapatkan harga yang lebih rendah dari harga jual perdana di bursa saham. Artinya Djarum, Emtek, dan Sinarmas akan mendapatkan saham publik grab dengan harga yang lebih murah.

"Keuntungan bagi Grab adalah kepastian penjualan saham dari Djarum dan Sinarmas. Sedangkan bagi Djarum dan Sinarmas mendapatkan saham Grab dengan harga yang lebih murah," ujarnya.

Biasanya harga saham perusahaan digital ketika IPO meningkat. Jika ini terjadi, investor yang sudah memegang saham sebelum IPO akan mendapat untung besar. Mungkin ini juga yang diincar oleh Djarum, Emtek, dan Sinarmas.

Sementara Co-Founder sekaligus Managing Partner Ideosource dan Gayo Capital Edward Ismawan Chamdani mengatakan mungkin saja sederet konglomerasi tersebut memang sudah pernah ditawarkan  masuk Grab sebelumnya. Bahkan, bisa saja mereka sudah memiliki saham Grab sebelum go public.

Menurutnya, Altimeter merupakan perusahaan manajemen investasi yang sebelumnya sudah melayani investasi atau penempatan dana di beberapa jaringan pendanaan yang sama. Bisa jadi, sederet investor yang akan masuk, merupakan jaringan Altimeter.

Di sisi lain, investasi perdana biasanya cukup menarik bagi para investor termasuk konglomerasi. Untuk mendapatkan jatah slot saham perdana tidaklah mudah. "Apalagi untuk perusahaan ternama atau menjanjikan," ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (23/4).

Infografik_Grab pilh masuk bursa saham AS
Infografik_Grab pilh masuk bursa saham AS (Katadata)

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.