Harga minyak Brent turun 0,57% menjadi US$115,15 pada pukul 00.00 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,43% menjadi US$101,32 per barel.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, membuka kemungkinan untuk kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran di tengah perang yang telah mendekati delapan bulan.
Kelompok Houthi menyatakan mereka menargetkan Arab Saudi karena dukungan negara itu terhadap pasukan pemerintah dalam perang saudara di Yaman, serta akibat serangan udara terhadap bandara di Sanaa.
Harga minyak Brent turun 0,8% menjadi US$ 103,43 per barel pada pukul 09.41 waktu Singapura. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,7% menjadi US$ 90,81 per barel.
Sebuah kapal dilaporkan terkena serangan di Selat Hormuz pada Minggu (13/9). Insiden itu menambah kekhawatiran terhadap ancaman yang berkaitan dengan Iran terhadap pasokan energi global.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan empat kapal tanker minyak mentah diserang di Teluk Oman. Satu kapal lainnya menjadi sasaran di dekat Pulau Kharg, Teluk Persia.
Harga minyak Brent naik 0,3% menjadi US$ 95,76 per barel pada pukul 09.04 waktu Singapura. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,4% menjadi US$ 91,65 per barel.
Harga minyak telah naik lebih dari 45% sepanjang tahun ini. Hal ini terjadi setelah konflik enam bulan yang dilancarkan AS dan Israel pada akhir Februari menghambat pengiriman minyak dari Teluk Persia
Kontrak berjangka minyak WTI, yang menjadi acuan harga minyak AS, turun sekitar 1,3% menjadi US$ 85,93 per barel. Harga minyak mentah Brent, acuan internasional, turun menjadi US$ 93,22 per barel.
Pemimpin baru Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak ikut dalam upaya Amerika Serikat (AS) menekan perekonomian Teheran.
Trump juga mengklaim pembicaraan informal sedang berlangsung dengan Garda Revolusi Iran (IGRC), namun ia "tidak terburu-buru" untuk mencapai kesepakatan.
Keterlibatan Arab Saudi dalam perang Iran patut diperhatikan karena kerajaan tersebut sebelumnya menolak untuk sepenuhnya terlibat dalam konflik Timur Tengah baru-baru ini.