Kementerian ESDM: Tahun Politik Tak Pengaruhi Harga Komoditas Energi

Image title
1 April 2019, 17:11
Jonan
ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengatakan, kondisi penerimaan sektornya di 2019 lebih banyak dipengaruhi kondisi global.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai harga komoditas tak terganggu tahun politik yang sedang terjadi di Tanah Air. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, penerimaan sektornya di 2019 lebih banyak dipengaruhi kondisi global.

Kondisi yang paling mempengaruhi fluktuasi harga komoditas energi adalah negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. “Tren internasional yang jelas berpengaruh,” katanya dalam sebuah seminar di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Senin (1/4).

(Baca: Kebutuhan Batu Bara Diprediksi Turun, Indonesia Perlu Antisipasi)

Ia mencontohkan, turunnya harga batu bara saat ini karena Tiongkok menghentikan impor komoditas itu dari Australia. Begitu pula di bidang minyak dan gas bumi (migas). Permintaan dan penawaran global menjadi penentu utama penggerak harganya.

“Tahun politik Indonesia hampir tidak memberi impact. Kecuali sampai ada yang tak berporduksi,” ujar Jonan. Yang penting, menurut dia, upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas keamanan selama pemilihan umum (Pemilu) 2019 berlangsung.

(Baca: Produksi Dunia Berkurang, Harga Minyak Indonesia Februari Naik 8,4%)

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor migas dan minerba di tahun 2018 meningkat, bahkan melampaui target. Migas menyumbang Rp163,4 triliun dari Rp86,5 triliun yang ditargetkan. Sementara Minerba sebesar Rp50 triliun dari Rp32,1 triliun.

Target penerimaan sektor migas

Jonan sebelumnya mengatakan target penerimaan negara dari sektor migas akan mengalami tantangan besar tahun ini. Penyebabnya, harga minyak Indonesia (ICP) tidak bergerak sesuai harapan.

Kementerian menetapkan target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada sektor migas sebesar Rp 168 triliun. Asumsinya, harga ICP mencapai US$ 70 per barel. Namun, per Januari kemarin nilainya masih di US$ 56,55 per barel. Lalu, sebulan kemudian menjadi US$ 61,31 per barel.

(Baca: Tak Terpengaruh Kritik Trump, Harga Minyak Dunia Terus Menanjak)

"Kami lihat Januari sampai Februari ICP tidak mencapai US$ 70 per barel, itu jadi tantangan ke depan untuk 10 bulan ke depan," katanya. Berdasarkan grafik Databoks, realisasi PNBP sektor migas sepanjang dua bulan lalu mengalami penurunan sebesar 1,59% dibandingkan tahun sebelumnya.

sektor minyak dan gas (migas) dalam dua bulan pertama 2019 mengalami penurunan sebesar 1,59%,

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul ["Meskipun Tertekan Pendapatan Migas, Realisasi PNBP Februari 2019 Masih Positif"] , https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/03/25/meskipun-tertekan-pendapatan-migas-realisasi-pnbp-februari-2019-masih-positif

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait