Menanti Diskon Besar-Besar Iuran Jamsostek

Pemerintah akan memberikan potongan atau diskon iuran BP Jamsostek hingga 99%, khusus untuk program jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKM).
Image title
Oleh Sorta Tobing
27 Agustus 2020, 15:50
diskon iuran jamsostek, bpjs ketenagakerjaan, covid-19, jokowi, subsidi gaji
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Ilustrasi. Pemerintah akan memberikan diskon khusus untuk program jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKM) pada iuran BP Jamsostek.

Draf peraturan pemerintah pengganti undang-undang atau Perppu relaksasi iuran BPJS Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek sudah ada di meja Presiden Joko Widodo. Nantinya, pemerintah akan memberikan keringanan khusus untuk program jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKM). Besarnya potongan atau diskon tersebut mencapai 99%.

Melansir dari Liputan6.com, Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BP Jamsostek Sumarjono mengatakan draf itu sedang menunggu tanda tangan Presiden. “Hanya 1% dari iuran yang nantinya dibayarkan. Jadi, hampir gratis,” katanya.

Relaksasi tersebut menjadi upaya pemerintah untuk membantu perusahaan yang terdampak pandemi Covid-19. Untuk iuran jaminan pensiun, pemerintah akan memberikan penundaan iuran selama enam bulan. Para peserta dapat kembali membayar pada bulan depan.

Sumarjono memperkirakan para peserta baru dapat kembali membayar iuran secara normal pada Mei 2021. Khusus iuran jaminan hari tua atau JHT tidak mendapatkan pemotongan atau penundaan iuran. “Kalau JHT tidak ada relaksasi,” ujarnya.

Pemerintah memberikan potongan iuran ini untuk perusahaan yang secara aktif membayar jaminan sosial sampai Juli 2020. Perusahaan yang menunggak, wajib membayar dulu sebelum mendapat manfaat program tersebut.

Buruh Tolak Relaksasi Iuran Jamsostek

Program relaksasi iuran Jamsostek mendapat penolakan dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia atau KSPI. Organisasi buruh ini menilai kebijakannya mengada-ada dan tidak tepat. “Dengan disetopnya iuran yang diuntungkan adalah perusahaan,” kata Presiden KSPI Said Iqbah, dilansir dari Tempo.co.

Program relaksasi iuran Jamsostek membuat pengusaha tidak wajib membayar. Buruh menjadi dirugikan karena nilai jaminannya tidak bertambah.

Justru yang pemerintah harus lakukan ketika terjadi krisis, menurut Said, adalah meningkatkan manfaat atau benefit dari jaminan sosial dengan jumlah iuran yang tetap, bukan menurunkan nilai iurannya.

Subsidi Gaji untuk Para Pekerja

Selain memberi relaksasi untuk perusahaan, pemerintah juga meluncurkan program subsidi gaji bagi para pekerja dan buruh sebesar Rp 600 ribu selama empat bulan. Sebanyak 15,7 juta pekerja swasta dan pegawai honorer di pemerintahan dengan upah di bawah Rp 5 juta per bulan akan mendapatkan subsidi ini.

Jokowi resmi meluncurkan program bantuan subsidi upah pada hari ini. Pada tahap awal, jumlah pekerja yang akan menerima bantuan sebesar 2,5 juta orang.

Penerima bantuan terdiri dari berbagai latar belakang profesi, seperti pekerja honorer, guru honorer, karyawan hotel, hingga tenaga medis. "Kami harapkan nanti di bulan September selesai 15,7 juta pekerja," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta.

Presiden menyebut program tersebut sebagai bentuk apresiasi bagi perusahaan yang selama ini patuh membayar BPJS Ketenagakerjaan. Bantuannya akan diberikan setiap dua bulan sekali. Artinya, dalam satu kali pencairan bantuan subsidi upah sebanyak Rp 1,2 juta.

Dengan bantuan ini, Jokowi berharap konsumsi rumah tangga masyarakat akan meningkat supaya dapat mendongkrak perekonomian. Konsumsi rumah tangga melemah pada saat ini karena banyak pekerja terkena pemutusan hubungan kerja di tengah pandemi virus corona.

Selain itu, banyak perusahaan yang mengalami penurunan omzet. "Semuanya terpengaruh dan itu di dalam angka-angka yang setiap pagi saya lihat, memang faktanya seperti itu," kata Jokowi.

Selama pandemi corona, total pekerja yang terdampak mencapai 1,7 juta orang. Angka ini merupakan hasil data Kementerian Ketenagakerjaan dan BP Jamsostek per 1 April hingga 27 Mei 2020, seperti terlihat pada grafik Databoks di bawah ini.

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait