Pemerintah Akan Fokus Kembangkan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan

Sampai dengan Juni 2020 kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga energi baru terbarukan mencapai 10,43 gigawatt.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
23 September 2020, 14:49
pembangkit listrik, energi baru terbarukan, pln, kementerian esdm, arifin tasrif
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyebut pemerintah akan fokus mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar energi baru terbarukan.

Pemerintah akan menggenjot pengembangan energi baru terbarukan atau EBT di Indonesia. Dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PLN 2019-2028, target penambahan kapasitas pembangkit listrik EBT sebesar 16,7 gigawatt (GW). Sampai dengan Juni 2020 kapasitas terpasangnya mencapai 10,43 gigawatt.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan pemerintah akan fokus pada energi rendah karbon. "Seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTB), matahari (PLTS), dan terus melakukan peningkatan pemanfaatan teknologi batu bara bersih," ujar dia dalam acara PLN International Conference 2020 secara virtual, Rabu (23/9).

Namun, pengembangan EBT masih memiliki tantangan. Salah satunya, harga jual listrik yang lebih mahal dibandingkan pembangkit konvensional sehingga pengembangannya pun cenderung stagnan. Masalah berikutnya, beberapa PLTB dan PLTS memerlukan kesiapan sistem yang mumpuni untuk menjaga kontinuitas pasokan tenaga listrik.

Tantangan lainnya yakni lokasi. Pembangkit EBT yang biayanya rendah, seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA),  minihidro (PLTM), dan panas bumi (PLTP), terletak di daerah  yang jauh dari pusat beban. Kondisi ini membuat waktu pembangunannya relatif lama.

Dalam pemenuhan target bauran energi bersih, pemerintah telah merencanakan penambahan jaringan listrik cerdas atau smartgrid dalam sistem kelistrikan. Pemasangannya tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020.

Smartgrid merupakan jaringan listrik digital untuk memantau dan mengelola transportasi listrik dari pembangkit. Manfaat pengembangannya, yaitu penyaluran listrik yang lebih efisien, pemulihan gangguan yang lebih cepat, serta penurunan biaya operasional.

Dengan jaringan pintar itu, PLN pada akhirnya dapat menurunkan tarif listrik. "Meningkatkan efisiensi kualitas dan sistem keandalan, mengurangi loses jaringan distribusi," ujarnya.

Pengembangan smartgrid telah dimulai di Pulau Jawa. Untuk yang di luar itu telah terealisasi di Selayar, Tahuna, Medang, Semau, Bali, dan Sumba. "Seluruh program ini akan terus berkelanjutan untuk menghasilkan target elekrifikasi yang sempurna," kata Arifin.

Target Bauran Energi RUPTL 2019-2028

Direktur Utama PT PLN, Zulkifli Zaini, mengatakan perusahaan tengah gencar menggunakan pembangkit listrik yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Salah satu upayanya, yakni dengan melakukan inovasi. "Misinya adalah menjadi bersih dan berinovasi," kata dia.

Dalam RUPTL 2019-2028, pemerintah menargetkan bauran EBT pembangkit meningkat menjadi sebesar 23,2% pada 2028 atau dua kali lipat dari 11,4% pada 2019. Untuk pembangkit listrik dari batu bara turun menjadi 54,45% pada 2028 dari 62,7% pada 2019, seperti terlihat pada Databoks di bawah ini.

Batu bara masih mendominasi bahan bakar pembangkit listrik di Indonesia saat ini. Di posisi berikutnya adalah gas. Baru setelah itu energi baru terbarukan, sesuai data triwulan III-2018.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait