Houthi Serang Fasilitas Saudi Aramco, Harga Minyak Melonjak Lebih 1%

Seorang juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan serangan ke fasilitas minyak Saudi Aramco memakai rudal bersayap tipe Quds-2.
Image title
23 November 2020, 13:36
houthi, saudi aramco, arab saudi, harga minyak
Katadata
Kelompok pemberontak Houthi mengatakan telah menembakkan rudal ke fasilitas distribusi minyak Saudi Aramco di Jeddah, Laut Merah.

Kelompok pemberontak Houthi mengatakan telah menembakkan rudal ke fasilitas distribusi minyak Saudi Aramco di Jeddah, Laut Merah. Belum ada konfirmasi langsung dari Arab Saudi tentang klaim dari kelompok militer asal Yaman yang berpihak pada Iran tersebut.

Reuters melaporkan, pemerintah Saudi telah memperingatkan perusahaan asing dan penduduknya untuk berhati-hati dengan serangan lanjutan. Fasilitas produksi dan ekspor miyak Aramco sebagian besar berada di sebelah timur negara itu.

Seorang juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan serangan itu memakai rudal bersayap tipe Quds-2. “Serangan itu sangat akurat. Ambulans dan mobil pemadam kebakaran langsung bergerak menuju ke sasaran,” katanya dalam akun media sosialnya, Senin (23/11).

Yaman telah terperosok dalam konflik sejak koalisi pimpinan Saudi ikut campur tangan memulihkan pemerintahannya pada Maret 2015. Genjatan sempat antar kedua pihak berakhir pada Mei lalu. Imbasnya, serangan lintas batas pasukan Houthi meningkat ke Saudi.

Kelompok Houthi menguasai sebagian besar Yaman utara dan wilayah perkotaan besar. Mereka memberontak dengan tujuan melawan sistem yang korup. Sarea menyebut serangan hari ini sebagai tanggapan atas tindakan Saudi di negaranya.  

Harga Minyak Melonjak

Harga minyak melonjak lebih 1% usai serangan tersebut. Melansir dari data Bloomberg, minyak jenis Brent naik 1,31% menjadi US$ 45,55 per barel. Lalu, minyak West Texas Intermediate alias WTI naik 1,06% ke US$ 42,87 per barel.

Kenaikan minyak mentah telah terjadi sejak pekan lalu. Pelaku pasar sedang mengamati pemulihan permintaan berkat uji coba vaksin Covid-19 yang menunjukkan keberhasilan. Namun, lonjakan kasus di beberapa negara, termasuk Jepang, membuat kenaikan harga minyak menjadi terbatas.

Sentimen positif juga muncul dari harapan organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) bersama Rusia dan produsen lainnya menahan produksi minyak mentah. “Kelompok ini kemungkinan besar akan memperpanjang produksinya hingga tiga sampai enam bulan ke depan,” kata Kepala Strategi Pasar Global Axi Stephen Innes.

Rencananya, OPEC dan sekutunya alias OPEC+ akan bertemu pada 30 November hingga 1 Desember nanti. Mereka akan mencari opsi untuk mengurangi produksinya demi menjaga harga minyak dunia. Pasalnya, perusahaan minyak Rusia skala kecil masih berencana memompa lebih banyak tahun ini.

Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait