Pembangunan Jargas Ditargetkan Capai 120 Ribu Sambungan di 2021

Supaya pembangunan jargas berjalan lancar, pemerintah mendorong kontraktor pemenang lelang langsung mengurus perizinan. Dengan begitu pembangunannya dapat terlaksana pada pertengahan tahun depan.
Image title
4 Desember 2020, 14:46
jaringan gas, jargas, pipa gas, sambungan jargas, kementerian esdm
ANTARA FOTO/Reno Esnir/wsj.
Warga melintas di sekitar jaringan pipa gas milik PGN di Kompleks Rusun Boing, Kemayoran, Jakarta, Sabtu (30/5/2020).

Pembangunan jaringan gas bumi untuk rumah tangga atau jargas pada tahun depan akan mencapai 120.776 sambungan rumah atau SR. Jaringan ini targetnya akan tersebar di 21 kabupaten atau kota.

Sebagian besar jargas tersebut berlokasi di Jawa Timur dan Jawa Barat. Kepala Sub Direktorat Perencanaan dan Pengadaan Pembangunan Infrastruktur Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wahyudi Akbari mengatakan supaya pembangunan jargas berjalan lancar, pemerintah mendorong kontraktor pemenang lelang langsung mengurus perizinan . “Kami juga meminta dukungan daerah soal ini,” kata dia dalam siaran pers, Jumat (4/12). 

Harapannya, pada April atau Mei 2021 semua perizinan telah rampung. Proses pembangunan pun dapat segera berjalan.

Pembangunan jargas pada 2021 merupakan akumulasi jaringan yang tidak terbangun pada tahun ini. Pandemi Covid-19 membuat jumlah jaringannya terpangkas separuh menjadi 127.864 sambungan rumah dengan alokasi anggaran Rp 1,4 triliun. 

Realisasinya saat ini telah melampaui target. Angkanya di 135.286 sambungan di 23 kabupaten atau kota. Penambahan sebanyak hampir 6% tersebut dipicu permintaan dari pemerintah daerah. 

Berikut beberapa kabupaten/kota yang akan mendapat sambungan jargas pada tahun depan:

1. Kabupaten Bojonegoro: 10 ribu sambungan

2. Kabupaten Lamongan: 5.935 sambungan

3. Kota Surabaya: 6.088 sambungan

4. Kabupaten Sidoarjo: 11.418 sambungan

5. Kota Mojokerto: 5.699 sambungan

6. Kabupaten Mojokerto: 5.935 sambungan

7. Kabupaten Jombang: 6.137 sambungan

8. Kabupaten Pasuruan: 5.750 sambungan

9. Kota Pasuruan: 7.0003 sambungan

10. Kabupaten Probolinggo: 5.737 sambungan 

11. Kota Probolinggo: 5.080 sambungan 

12. Kabupaten Aceh Utara: 3.510 sambungan

13. Kota Lhokseumawe: 3 ribu sambungan

14. Kabupaten Aceh Timur: 5.016 sambungan

15. Kabupaten Banyuasin: 6.889 sambungan

16. Kabupaten Banggai: 5.005 sambungan 

17. Kabupaten Wajo 5.750 sambungan

Wahyudi mengatakan pemerintah mematok pembangunannya dapat mencapai 4 juta sambungan pada 2024. Sebagai informasi, hingga 2019 baru 537.936 sambungan rumah menerima jaringan gas.

Sebanyak 400.269 sambungan jargas atau 74,41% dibangun melalui anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN. PT Perusahaan Gas Negara Tbk membangun jaringan sebanyak 132.977 SR atau 24,72%. Pertamina ikut berkontribusi membangun jargas sebanyak 4.680 SR. Lokasinya berada di 17 provinsi dan tersebar di 49 kabupaten/kota. 

Untuk mencapai 4 juta sambungan, pemerintah menyiapkan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha alias KPBU. Dukungan dari seluruh pemegang kepentingan ini bertujuan untuk membuat proyeknya berjalan lancar. 

Tantangan besarnya adalah pipa jargas yang melewati jalan, jalur rel kereta api, dan jembatan. Pembangunannya pun kerap mengalami kesulitan ketika harus berdampingan dengan utilitas lain, seperti pipa saluran air, jaringan listrik, dan telekomunikasi. “Tantangan lainnya, fasilitas jarga smembutuhkan lahan untuk penempatan alat ukur regulator sector (RS) dan metering regulator system (MRS),” katanya. 

Jargas Dapat Hemat Subsidi Elpiji

PT Perusahaan Gas Negara Tbk telah membangun 537.936 sambungan jargas sejak 2009 hingga akhir 2019. Pembangunan tersebar di 23 kabupaten dan kota. 

Untuk tahun ini, pembangunan jargas terbesar berada di  Balikpapan dan Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur serta Tarakan di Kalimantan Utara. 

Direktur Utama PGN Suko Hartono pada Juli lalu menyebut jargas memberi manfaat untuk menghemat keuangan negara. “Sampai 2024, penurunan impor elpiji mencapai US$ 17,2 juta per tahun dan penghematan subsidinya mencapai Rp 3,3 triliun per tahun,” ujarnya. Masyarakat pun mendapatkan selisih dari memakai jargas ketimbang membeli elpijji, sekitar Rp 300 miliar per tahun. 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait