Produksi Migas Nasional Dapat Digenjot Melalui Digitalisasi

Penerapan digitalisasi yang tepat dapat membuat perusahaan energi mengambil keputusan dengan lebih cepat. Termasuk di dalam teknologi ini adalah kecerdasan buatan dan komputasi awan.
Image title
4 Desember 2020, 15:36
produksi migas, skk migas, digitalisasi
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Produksi migas Indonesia dapat meningkat apabila pemerintah dan pelaku usaha di sektor ini memanfaatkan digitalisasi.

 

Digitalisasi dapat menggenjot produksi migas dalam negeri. Direktur Senior Center for Energy Impact Boston Consulting Group (BCG) Jamie Webster mengatakan data saat ini menjadi aset strategis dalam pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam secara digital. 

Dengan teknologi yang tepat, perusahaan energi dapat mengambil keputusan dengan lebih cepat. Apalagi di tengah penurunan konsumsi karena pandemi Covid-19, dunia usaha membutuhkan informasi dan data yang tepat untuk tetap mempertahankan kegiatan ekonominya. 

Teknologi itu juga termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence. “Untuk mensimulasikan aktivitas pengeboran,” kata dia dalam International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas 2020, Jumat (04/12).

Petronas telah melakukan cara tersebut. Head of Upstream Digital Petronas Shaharuddin Hamid Mustapha mengatakan teknologi telah menghasilkan efektivitas aktivitas di sektor hulu. Hasilnya, perusahaan dapat melakukan efisiensi.   

Digitalisasi yang perusahaan lakukan awalnya pada kegiatan peningkatan produksi. Semua fungsi Petronas terkoneksi pada satu sistem yang tersimpan dalam cloud alias komputasi awan. Dengan begitu, semua divisi dapat berbagai data dan berinteraksi. “Keberhasilan digitalisasi ini kami kembangkan untuk mendukung kegiatan eksplorasi,” ucapnya. 

Peran Digitalisasi di Industri Hulu Migas RI

Perusahaan migas dunia saat ini sedang mendorong pengembangan kecerdasan buatan untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi. Teknologi AI ini harapannya dapat memberi akurasi, kualitas, dan kecepatan pemrosesan data. 

Data-data yang telah terkumpul nantinya dapat tampil dalam bentuk tiga dimensi sehingga memberi perspektif lengkap dalam mengambil keputusan. Proses mengubah cadangan menjadi produksi pun semakin cepat dan akurat. 

Berdasarkan The Professional Petroleum Data Management Association (PPDM Association), dalam satu blok migas yang memiliki nilai aset US$ 470 miliar (sekitar Rp 6,6 triliun), maka nilai datanya mencapai US$ 155 miliar (Rp 2,3 triliun). 

Indonesia saat ini juga sedang memulai pemrosesan secara digital data hulu migas. Kegiatan ini Pertamina lakukan bersama SKK Migas dan Professional Petroleum Data Management Association (PPDM). 

Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno menyebut peran digitalisasi sangat penting bagi industri hulu migas Indonesia. Banyak lokasi eksplorasi dan produksi berada di wilayah terpencil sehingga perlu langkah efektif dan efisiensi untuk menjalankan operasional perusahaan.

Digitalisasi melalui integrated operation center (IOC) sudah SKK Migas lakukan. Manfaatnya terasa di tengah pandemi Covid-19 dan harga minyak yang jatuh. Kinerja produksi siap jual atau lifting minyak mencapai 100,3% dari target 705 ribu barel per hari pada triwulan ketiga 2020. “Sebanyak 14 dari 12 proyek (hulu migas) akan kami selesaikan tahun ini,” ucapnya. 

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait