Kabar Gembira Vaksin Cpvid-19, Bos Medco Ramal Harga Minyak Akan Pulih

Perkembangan vaksin Covid-19 yang positif akan membuat permintaan dan harga minyak pulih. Hilmi Panigoro memprediksi angkanya di US$ 50 hingga US$ 60 per barel pada kuartal ketiga tahun depan.
Image title
8 Desember 2020, 14:14
medco energi, hilmi panigoro, vaksin virus corona, harga minyak
Arief Kamaluddin | Katadata
Direktur Utama PT Medco Energi Internasional Tbk Hilmi Panigoro mengatakan harga minyak akan pulih tahun depan seiring dengan kemajuan perkembangan vaksin Covid-19.

Perkembangan vaksin Covid-19 cukup positif dalam sebulan terakhir. Bahkan vaksin buatan Sinovac dari Tiongkok telah tiba di Indonesia pada akhir pekan lalu. Direktur Utama PT Medco Energi Internasional Tbk Hilmi Panigoro berharap hal itu akan mengakhiri pandemi dan memperbaiki harga minyak mentah dunia.

Prediksinya pada kuartal III tahun depan, harga minyak bisa berada di level US$ 50 hingga US$ 60 per barel. “Asalkan distribusi vaksin virus corona berjalan lancar, permintaan bisa balik lagi,” kata Hilmi dalam diskusi secara virtual, Selasa (8/12). 

Pandemi Covid-19, menurut dia, telah menekan bisnis industri minyak dan gas bumi alias migas. Permintaan bahan bakar melemah sehingga harga emas hitam pun ikut tertekan. 

Level terendahnya, seperti terlihat pada grafik Databoks di bawah ini, sempat menyentuh minus US$ 37,63 untuk minyak mentah acuan Amerika Serikat, yaitu West Texas Intermediate. Peristiwa ini terjadi pada 20 April lalu, ketika virus corona mulai menginfeksi dunia. 

Permintaan dan harga minyak yang belum pulih hingga sekarang, memaksa Medco menentukan skala prioritas. Hilmi mengatakan, perusahaan terpaksa memangkas belanja modalnya tahun ini. “Target produksi migas kami turunkan sedikit, dari 115 ribu barel ekuivalen minyak per hari (BOEPD) menjadi 100 hingga 105 ribu barel ekuivalen minyak per hari,” ujarnya. 

Meskipun banyak perusahaan migas dunia mulai bertransformasi ke energi baru terbarukan, namun kebutuhan minyak domestik masih akan cukup besar. Saat ini kebutuhannya sekitar 1,6 juta barel per hari. Produksi dalam negeri hanya berkisar di angka 700 ribu barel per hari.

Karena itu, perusahaan akan tetap menggenjot bisnis hulu migasnya. “Kami masih akan agresif melakukan ekspansi, baik melalui akuisisi maupun eksplorasi,” kata Hilmi. 

Imbas dari pandemi Covid-19, pada kuartal III tahun ini Medco merugi US$ 130,11 juta (sekitar Rp 1,8 triliun). Padahal, di periode yang sama tahun sebelumnya perusahaan meraih untung US$ 19,27 juta.

Pendapatannya anjlok 18,27% menjadi US$ 793 juta. Di tiga segmen usahanya, hanya pendapatan jasa yang naik. Tapi kontribusinya kecil dibandingkan penjualan migas dan listrik.

Pelaksana Tugas Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Susana Kurniasih berpendapat kinerja beberapa kontraktor kontrak kerja sama atau KKKS hingga akhir tahun ini masih cukup baik. Salah satunya adalah Medco.

Perusahaan masih tetap menggenjot kegiatan eksplorasinya di perairan Natuna. “Bahkan Medco panen menemukan sumur-sumur eksplorasi,” ucap Susana. 

Medco Temukan Tambahan Cadangan Migas di Natuna

Pada September lalu, Medco EP Natuna mengumumkan temuan tambahan cadangan migas di Sumur Eksplorasi Terubuk-5 yang berlokasi di Wilayah Kerja South Natuna Sea Block B. Dari hasil pengeboran ditemukan 2.287 barel minyak per hari (BOPD), 32,89 juta kaki kubik per hari gas (MMSCFD), dan 304,1 barel kondesat per hari (BCPD).

Sumur Terubuk-5 sudah lama tidak dikembangkan. Potensi blok migas di area itu pertama kali ditemukan oleh ConocoPhillips Indonesia pada 1972. 

Kinerja migas Medco di Lapangan Kerisi South Natuna Block B juga terlihat moncer. Produksinya mampu melebihi target yang ditetapkan SKK Migas. Penambahannya dapat meningkatkan produksi siap jual alias lifting migas tahun ini.

Tambahan produksi migasnya berasal dari pengeboran dua sumur di Lapangan Kerisi. Sumur KA-09 yang berproduksi mulai 29 Juli 2020 mengalirkan gas sebesar 20 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Lalu, sumur KA-08 mulai berproduksi pada 9 Agustus 2020 mengalirkan minyak sebesar 5 ribu barel minyak per hari (BOPD).

Produksi migas dari Lapangan Kerisi kemudian dialirkan melalui pipa ke fasilitas Belanak. Lapangan ini  berada di Kepulauan Anambas, Provinsi Riau. Produksinya pertama kali pada pada Desember 2007. 

Wilayah kerja itu sebelumnya dioperasikan oleh ConocoPhillips Indonesia, lalu diakuisisi dan dioperasikan oleh Medco E&P Natuna Ltd sejak 2016.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait