Produksi dan Penjualan Produk Tambang Sesuai Target Tahun Ini

Dari tujuh produk mineral tambang, hanya timah yang produksinya masih jauh dari target 2020.
Image title
16 Desember 2020, 20:06
mineral, minerba, pertambangan, kementerian esdm
www.npr.org
Ilustrasi. Realisasi produksi dan penjualan produk mineral tambang, menurut catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga November 2020 masih sesuai target.

Pandemi Covid-19 ternyata tidak menurunkan minat produk mineral tambang. Realisasi produksi dan penjualannya, menurut catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga November 2020 masih sesuai rencana.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak mengatakan beberapa komoditas angkanya masih stabil, bahkan ada yang melebihi target. “Produksinya tidak turun," ujar Yunus dalam acara Indonesia Mining Outlook, Rabu (16/12).

Ada tujuh produk mineral tambang yang tercatat di Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba). Untuk katoda tembaga, realisasinya hingga November hampir 267 ribu ton atau 91,7% dari target yang sebesar 291.000 ton.

Kemudian, produksi emas mencapai 60,1 ton atau 85,1% dari rencana 2020. Lalu, komoditas perak telah mencapai 305,2 ton atau 89% dari target.

Berikutnya, produksi feronikel sudah mencapai 1,32 juta ton atau 101,9% dari target. Sedangkan produksi nickel pig iron (NPI) mencapai 797,9 ribu ton setara 127% dari target, dan produksi nickel matte sebanyak 85,2 ribu ton atau 118,8% dari target.

Sedangkan komoditas mineral yang produksinya per November jauh dari target yakni timah. Realisasi 49,3 ribu ton atau baru 70,5% dari rencana produksi 70 ribu ton di 2020.

Dari segi penjualan, katoda tembaga yang dijual ke luar negeri alias ekspor realisasinya mencapai 204,3 ribu ton atau 102,1% dari target. Begitu juga dengan penjualan emas yang juga melebihi target, yakni 39,6 ton (104,4%), serta perak mencapai 226,6 ton (124,3%).

Penjualan timah hingga November mencapai hampir 60 ribu ton (81,3%). Lalu nickel matte 79,1 ribu ton atau (108,8%) dan NPI 275,4 ribu ton (80,4%). Sementara, ekspor Feronikel sebesar 1,13 juta ton atau 65,9% dari target.

Yunus mengatakan rendahnya ekspor feronikel lantaran mundurnya jadwal operasional pabrik pemurnian atau smelter PT Aneka Tambang (Persero) Tbk di Halmahera Timur, Maluku Utara.”Karena suplai listrik belum ada. Ini lagi-lagi perlu kesesuaian antara smelter dengan industri listrik," kata dia.

Realisasi Produksi Batu Bara 94% dari Target

Untuk realisasi produksi batu bara, angkanya pun telah mendekati target. Per 10 Desember, realisasinya di 514,2 juta ton. “Sudah mencapai 94% dari target 2020,” kata Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batu Bara Sujatmiko pada pekan lalu.

Dari realisasi itu, sebanyak 218,17 juta ton dipasok ke pasar ekspor. Sedangkan 108,45 juta ton untuk kebutuhan dalam negeri atau DMO. 

Target produksinya pada 2021 tidak berbeda dengan tahun ini. Kementerian menetapkan angkanya di 550 juta ton. Sujatmiko beralasan konsumsinya masih akan terpengaruh pandemi Covid-19. “Kami masih mempertimbangkan (aspek) pemulihannya, baik untuk pasar domestik dan ekspor,” ujarnya. 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait