MIND ID Belum Putuskan Opsi Pembangunan Smelter Freeport di Halmahera

Ada pula opsi membangun smelter tembaga Freeport di Papua. Namun, rencana ini masih tahap pembicaraan awal dengan pemerintah daerah setempat.
Image title
31 Maret 2021, 19:03
Area pengolahan mineral PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Papua.
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Ilustrasi. MIND ID menyebut belum ada keputusan terkait pembangunan smelter tembaga Freeport di Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

Lokasi pabrik pemurnian atau smelter tembaga PT Freeport Indonesia masih tanda tanya. Ada dua opsi yang terbuka saat ini. Pertama, di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur. Kedua, di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara. 

Pembangunan smelter di Jawa Timur telah berjalan. Progres pekerjaannya sejak 2017 hingga 2020 baru sekitar 5,86% dengan total biaya US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,3 triliun. 

“Keputusannya belum diambil. Tetapi yang pasti, di Gresik kami tetap jalan," kata Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR, Rabu (31/2). MIND ID atau PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) merupakan pemegang saham mayoritas Freeport. 

Ada pula opsi lainnya untuk membangun pabrik tersebut, yaitu di Papua. Namun, rencana ini masih tahap pembicaraan awal dengan pemerintah daerah setempat.

Kepala Badan Koordinator Bidang Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengetahui usulan itu dan sudah ada investor tertarik membiayai pembangunan smelter-nya. “Nanti kami tinggal lihat kelanjutannya seperti apa," kata Orias.

Kesepakatan Freeport-Tsingshan

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya mengatakan, pekan ini akan ada kesepakatan kerja sama antara Freeport dengan perusahaan asal Tiongkok, Tsingshan Steel.

Keduanya akan membangun fasilitas pengolahan konsentrat tembaga menjadi katoda. "Mudah-mudahan minggu depan akan tanda tangan pembangunan smelter-nya,” ujar Luhut dalam Mining Forum Prospek Industri Minerba 2021, Rabu pekan lalu.

Nantinya, ada dua pabrik smelter yang terbangun di lokasi tersebut. "Satu untuk nikel dan satu tembaga," katanya.

Di lahan lahan seluas 12 ribu hektare tersebut semuanya terintegrasi menjadi satu. "Kami berharap smelter tembaga ini akan beroperasi pada 2023. Sedangkan, yang nikel sudah berproduksi," kata Luhut. 

Rencana awal, Freeport akan membangun pabrik pengolahannya di di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur. Nilai investasinya mencapai US$ 3 miliar atau Rp 42 triliun. Pemerintah lalu membuka opsi membangun pabrik pemurnian di Weda Bay, Maluku Utara. 

Direktur Utama Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan perusahaan bakal memilih opsi yang paling ekonomis dalam pembangunan smelter. Untuk membangun pabrik di Weda Bay biayanya menjadi US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 25 triliun. “Kami tentu lebih prefer ke Halmahera,” katanya beberapa waktu lalu.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing
Video Pilihan

Artikel Terkait