Survei: 44,5% Warga Jakarta Pernah Kena Covid, Mayoritas Tanpa Gejala

Hasil survei juga menunjukkan banyak warga Jakarta pernah terinfeksi Covid-19 tapi tidak terdeteksi. Sebagian besar dari mereka tidak mengalami gejala.
Image title
11 Juli 2021, 10:00
jakarta, covid-19, virus corona, pandemi corona
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Petugas medis merawat pasien Covid-19 yang menunggu di pelataran untuk mendapatkan tempat tidur perawatan di IGD RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu, (23/6).

Hampir separuh atau 44,5% penduduk Jakarta pernah terinfeksi Covid-19. Fakta ini berdasarkan hasil survei serologi kerja sama Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Lembaga Eijkman, dan CDC Indonesia.

Serologi merupakan teknik berbasis imunologi untuk mengukur respons imun terhadap suatu antigen dari sediaan darah seseorang. “Apabila seseorang pernah terpapar pada agen infeksius tertentu, tubuhnya akan terpicu menghasilkan antibodi spesifik yang dapat dideteksi,” tulis survei berjudul Prevalensi Antibodi Positif SARS CoV-2 di DKI Jakarta, Sabtu (10/7).

Survei ini melibatkan 4.919 sampel dari target 5 ribu penduduk usia setahun atau lebih. Sampelnya tersebar di 100 kelurahan di enam wilayah kabupaten atau kota DKI Jakarta.

Pengumpulan data dan spesimen dilakukan pada 15 sampai 31 Maret 2021. Untuk pendeteksian antibodi virus corona alias SARS-CoV-2, para peneliti memakai tes tetracore-luminex.

Dari hasil survei itu sebanyak 53,7% warga Jakarta Pusat telah terinfeksi virus corona. Untuk Jakarta Barat 45,5%, Jakarta Utara 44,5%, Jakarta Selatan 44,4%, Jakarta Timur 40.9%, dan Kepulauan Seribu 39,3%. 

Penduduk yang bermukim di wilayah kumuh lebih banyak pernah terinfeksi. Lalu, kelompok perempuan lebih tinggi jumlahnya daripada laki-laki. 

Dari sisi kelompok umur, yang terbanyak dan pernah terinfeksi di usia 30 sampai 49 tahun. Kelompok yang berisiko tinggi adalah warga dengan indeks massa tubuh dan kadar gula darah tinggi. 

Survei tersebut juga menemukan banyak warga yang pernah terinfeksi, tidak terdeteksi. Angka yang mengalami keduanya mencapai 81,6%. Sebagian besar dari mereka tidak mengalami gejala. 

Dari angka-angka tersebur, prevalensi penduduk yang pernah terinfeksi mencapai 44,5% atau mencapai 4,717 juta orang dari total 10,6 juta penduduk. 

Kasus yang terkonfirmasi sampai 31 Maret lalu adalah 382 ribu pasien. Artinya, jumlah warga yang terinfeksi dan terkonfirmasi hanya 8,1%. 

Dengan kondisi tersebut, para peneliti merekomendasikan agar setiap warga Jakarta dan pendatang harus tervaksinasi untuk mengatasi Covid-19. Vaksinasi dapat menekan risiko perawatan di rumah sakit dan kematian, walaupun tidak menghentikan penularan.

Banyaknya kasus yang tidak bergejala berarti banyak pula kasus yang tidak terdeteksi. “Maka perlu strategi penanganan pandemi secara cepat dan signifikan untuk jangka pendek, serta antisipasi jangka menengah dan Panjang bila Covid-19 berubah menjadi endemi di masa depan,” tulis hasil survei tersebut. 

Hasil survei serologi tersebut juga menunjukkan pentingnya menuntaskan vaksinasi seluruh penduduk Jakarta. Masyarakat juga harus dilatih dan dibiasakan untuk menilai risiko dan menjaga pola hidup sehat.

Praktik protokol kesehatan 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas, perlu selalu dilakukan. “Agar masyarakat siap berkegiatan secara produktif di tengah ancaman jangka panjang endemi Covid-19,” tulisnya. 

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait