Pembahasan RUU EBT, Muncul Usulan Pembentukan Badan Usaha Investasi

PJCI berpendapat kehadiran badan usaha ini berfungsi untuk mengejar target bauran energi bersih 23% di 2025. DPR mempertanyakan perbedaan fungsinya dengan PLN.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
1 Oktober 2020, 17:16
energi terbarukan, energi baru terbarukan, ebt, ruu ebt, dpr
YOUTUBE
Ilustrasi. Dalam pembahasan rancangan undang-undang energi baru terbarukan (RUU EBT), muncul usulan pembentukan badan usaha perencanaan dan investasi EBT.

Pembahasan rancangan undang-undang energi baru terbarukan atau RUU EBT terus berlangsung. Setelah muncul usulan badan pengelola, kali ini adalah pembentukan badan usaha perencanaan dan investasi alias BPI-EBT.

Pendiri Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) Eddie Widiono mengatakan kehadiran badan usaha ini berfungsi untuk mengejar target bauran energi bersih 23% di 2025. "Misi utamanya melakukan debottlenecking pengembangan dan investasi EBT dengan melaksanakan agenda transisi energi," katanya ketika rapat bersama Komisi VII DPR, Kamis (1/10).

BPI-EBT berfungsi menjadi aggregator dan melakukan perjanjian jual beli tenaga listrik (PJBL) dengan produsen listrik swasta (IPP), lalu menjualnya ke PLN. Tugas lainnya adalah merancang skema insentif, subsidi, tarif khusus, dan pungutan pendukung energi baru terbarukan.

Untuk meminimalkan risiko pengembangan EBT, badan itu juga melakukan investasi bersama badan usaha milik pemerintah, daerah, dan swasta. "Investasi bersama sesuai dengan pedoman atau mandat yang disetujui oleh Kementerian Keuangan," ujarnya.

Menanggapi usulan tersebut, Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto mempertanyakan perbedaan antara BPI-EBT dengan PLN. Pasalnya, perusahaan setrum negara itu juga bertugas melakukan investasi di sektor energi baru terbarukan.

Eddie beralasan usulan pembentukan badan usaha sebagai terobosan untuk menyukseskan jalannya transisi ke energi bersih. PLN telah mempunyai tugas berat dengan program 35 ribu megawatt (MW). "Kami menilai tidak adil jika semua ini dibebankan ke PLN," katanya.

Sebelumnya, Masyarakat Energi Baru Terbarukan (METI) mengusulkan adanya badan pengelola yang bertanggung jawab mengatur sumber energi tersebut secara independen. Ketua METI Surya Darma mengatakan badan ini bertugas menyusun strategi implementasi energi terbarukan. "Ini sama sekali belum diatur dalam draft UU EBT. Ini perlu dibentuk," ujarnya pada Kamis pekan lalu.

Dalam menjalankan tugasnya, badan pengelola energi terbarukan atau BPET diharapkan dapat berkoordinasi dengan kementerian atau lembaga terkait, badan usaha milik negara (BUMN), BUMD, BUMDes, koperasi, swasta, maupun perorangan. Badan ini juga mengelola dana, menetapkan alokasi pemanfaatan, serta mempromosikan investasi energi terbarukan.

Pembentukan BPET tidak perlu lembaga atau badan negara baru. Surya mengusulkan agar pemerintah menggabungkan dua lembaga yang sebelumnya pernah ada, yakni Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

NELAYAN GUNAKAN PANEL SURYA
Ilustrasi panel surya. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Energi Terbaukan Ciptakan 11,5 Juta

Sektor energi terbarukan menciptakan 11,5 juta pekerjaan secara global tahun lalu. Data terbaru dari Badan Energi Terbarukan Interansional atau IRENA mencatat, sekitar 3,8 juta pekerjaan berasal dari panel surya.

Edisi ketujuh laporan berjudul Renewable Energy and Jobs – Annual Review itu menyebut 63% pekerjaan baru tersebut tercatat berada di Asia. Angka ini membuat posisi Benua Kuning menjadi pemimpin pasar energi terbarukan.

Di bawah panel surya adalah biofuel yang menciptakan 2,5 juta tenaga kerja. Banyak dari pekerjaan ini berada dalam rantai pasokan padat karya, terutama di Brasil, Kolombia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. “Energi terbarukan menciptakan lapangan kerja dan pendapatan di pasar berkembang dan sedang berkembang,” kata Direktur Jenderal IRENA Francesco La Camera kemarin.

Energi lainnya yang menciptakan banyak pekerjaan adalah tenaga air dan angin, masing-masing 2 juta dan 1,2 juta pekerjaan. Angka-angka ini menunjukkan investasi energi terbarukan menghasilkan keuntungan lebih besar dibanding energi fosil, menurut CEO Global Wind Energy Council (GWEC) Ben Backwell.

Dalam perhitungannya, dengan dana US$ 1 juta untuk energi bersih, lapangan kerja yang tercipta tiga kali lebih banyak daripada bahan bakar fosil. IRENA memprediksi tenaga angin bakal menghasilkan sepertiga listrik dunia pada 2050 dan bakal menciptakan 42 juta pekerjaan.

Di sektor angin lepas pantai, GWEC memperkirakan sekitar 51 gigawatt (GW) akan tercipta di seluruh dunia pada 2024. Proyek ini menciptakan hampir 900 ribu pekerjaan baru dalam lima tahun ke depan.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait