Langkah Ambisius Tiongkok Jadi Negara Netral Karbon Tahun 2060

Untuk mencapai target netral karbon di 2060, proyek-proyek pembangunan pembangkit listrik bertenaga batu bara Tiongkok kemungkinan terkena dampak paling besar.
Image title
Oleh Sorta Tobing
27 Oktober 2020, 12:52
tiongkok, netral karbon, perubahan iklim, emisi karbon, target netral karbon 2060
ANTARA FOTO/REUTERS/Jason Lee
Presiden Tiongkok Xi Jinping berjanji untuk membawa negaranya menjadi netral karbon pada 2060.

Para pemimpin Tiongkok mulai membahas langkah ambisius untuk mengatasi perubahan iklim. Pada sidang pleno kemarin, Senin (26/10), pemerintah akan menyelesaikan rencana pembangunan nasional yang baru untuk lima tahun ke depan.

Presiden Tiongkok Xi Jinping berjanji untuk membawa negaranya menjadi netral karbon pada 2060. Hal ini pun telah ia sampaikan di depan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September lalu. Sinyal yang menunjukkan Negeri Manufaktur itu akan mengalami perubahan sistematis untuk strategi ekonomi dan politiknya.

Departemen pemerintah yang melakukan penyusunan rencana itu dijadwalkan menyelesaikan draf pertama pada April 2021. Mantan pejabat tinggi soal iklim Tiongkok Xie Zhenhua mengatakan kepada Reuters target baru itu membuat semua sektor harus melakukan penyesuaian.

Proyek-proyek pembangunan pembangkit listrik bertenaga batu bara Negeri Panda kemungkinan terkena dampak paling besar. Pasalnya, untuk mencapai target netral karbon, pemakaian batu bara harus turun dari 58% dari total seluruh pembangkit listriknya menjadi hanya 50% pada 2025. “Saat ini setiap tingkat pemerintahan sibuk mengerjakan Rencana Lima Tahun ke-14,” kata Associate Director David C Lam Institute for East-West Studies Kevin Lo, dikutip dari Reuters.

He Jiankun, Wakil Direktur Komite Ahli Nasional untuk Perubahan Iklim, mengatakan Beijing harus membatasi emisi dan bahkan mencapai "pertumbuhan negatif" dalam konsumsi batu bara pada 2025. Tiongkok juga perlu berhenti membangun dan mendanai pembangkit listrik tenaga batu bara. Langkah ini akan mempengaruhi 300 gigawatt (GW) proyek yang sedang berjalan.

Dalam komentar yang beredar di media sosial, Li Tianxiao dari Development Research Center, memperkirakan Tiongkok perlu menggandakan kapasitas angin dan matahari menjadi masing-masing sekitar 500 gigawatt pada tahun 2025.

Tiongkok hanya punya sedikit waktu luang. Konsultan Wood Mackenzie mengatakan kapasitas matahari, angin, dan penyimpanannya harus meningkat 11 kali lipat pada 2050. Lalu, pemakaian tenaga batu bara harus dikurangi setengahnya. “Bagian yang paling menantang dari perubahan ini bukanlah investasi atau besarnya penambahan kapasitas yang dapat diperbarui, tetapi transisi sosial yang menyertainya,” kata analis Wood Mackenzie, Prakash Sharma.

Kondisi saat ini bertolak belakan dengan tahun lalu. Ketika itu Tiongkok menjadikan keamanan energi sebagai prioritas utama. Pemerintah mendukung peningkatan produksi bahan bakar fosil dan menghidupkan kembali proyek pembangkit listrik tenaga batu bara.

Beijing juga bertaruh pada infrastruktur baru untuk mendorong pemulihan ekonominya. Permintaan untuk produk padat energi seperti baja dan semen melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Tapi kini negera itu harus memikirkan kembali rencananya.

Perekonomian Tiongkok Mulai Pulih di Tengah Pandemi

Ekonomi Tiongkok semakin pulih dari pandemi Covid-19 pada kuartal ketiga 2020 dengan pertumbuhan mencapai 4,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perekonomian terbesar kedua di dunia itu mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,9% sepanjang Januari-September 2020 dibandingkan tiga kuartal pertama tahun lalu.

Angkanya sebenarnya lebih rendah dari proyeksi ekonom sebelumnya. Rata-rata ekonom di Tiongkok memprediksi ekonomi Negara Tembok Raksasa tersebut tumbuh 5,2% pada kuartal ketiga.

Pemulihan yang lebih lambat dari komponen konsumsi tetap menjadi hambatan bagi ekonomi Tiongkok di tengah pandemi corona. Ketidakpastian terus berlanjut karena berbagai negara di belahan dunia lain masih terlihat kesulitan dalam mengendalikan pandemi dan dampaknya ke perekonomian.

Penjualan ritel naik 3,3% pada September atau 0,9% pada kuartal ketiga. Namun selama sembilan bulan pertama tahun ini, penjualan ritel mengalami kontraksi 7,2%.

Selama tiga kuartal tersebut, penjualan barang secara online naik 15,3% dari tahun lalu, menyumbang 24,3% dari penjualan ritel. "Kembalinya Tiongkok ke dinamika ekonomi lebih cepat dari rekan-rekannya adalah langkah pertama menuju pemulihan global," kata Bruce Pang, Kepala Penelitian Makro dan Strategi di China Renaissance, dalam sebuah catatan.

Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait