Shell Hadapi Tuntutan di Pengadilan Belanda Terkait Emisi Karbon

Tujuh kelompok aktivis, germasuk Greenpeace dan Friends of the Earth, mengajukan gugatan ke pengadilan Belanda agar Shell mengurangi emisi karbonnya.
Image title
Oleh Sorta Tobing
1 Desember 2020, 12:41
shell, emisi karbon, perubahan iklim
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Royal Dutch Shell menghadapi gugatan di pengadilan Belanda pada hari ini, Selasa (1/12), terkait emisi karbon dan komitmennya terhadap perubahan iklim.

Raksasa perusahaan energi, Royal Dutch Shell, akan menghadapi pengadilan Belanda pada siang ini, Selasa (1/12). Kelompok lingkungan dan hak asasi manusia telah menuntut perusahaan pada April lalu untuk menghentikan ketergantungannya pada bahan bakar fosil. 

Tujuh kelompok aktivis, germasuk Greenpeace dan Friends of the Earth, mengajukan gugatan atas nama lebih dari 17 ribu warga Belanda. Mereka menuntut perusahaan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi nol pada 2050. 

Para penggugat mengatakan Shell dengan sengaja merusak tujuan iklim internasional. Pasalnya, perusahaan terus-menerus berinvestasi miliaran euro dalam eksploitasi bahan bakar fosil. “Kami yakin keputusan akhir hakim akan memaksa Shell mematuhi kesepakatan iklim dan berhenti menyebabkan pemanasan global yang berbahaya,” kata Direktur Friends of the Earth  Donald Pols, dikutip dari Reuters, Selasa (1/12). 

Shell telah berulang kali mengatakan dukungannya terhadap Kesepakatan Paris 2015. Target pengurangan emisi karbon dari penjualan produk energinya akan berkurang 30% pada 2035 dibandingkan level 2016. Lalu, pada 2050 angkanya menjadi 0%. 

Kelompok lingkungan itu menilai target Shell kurang maksimal. Perusahaan seharusnya melakukan pengurangan emisi sebesar 45% pada 2030 dibandingkan pada 2019. Angka ini akan sesuai untuk mencapai produksi netral karbon pada dua dekade berikutnya. 

Langkah melakukan gugatan ini seiring dengan perintah Pengadilan Tinggi Belanda pada tahun lalu, yang disebut Urgenda. Pengadilan memerintahkan pemerintahnya untuk meningkatkan perang melawan perubahan iklim dan mengurangi emisi gas rumah lebih cepat dari rencana. 

Pengadilan distrik di Den Haag, lokasi yang sama dengan markas besar Shell, merencanakan sidang selama empat hari untuk kasus itu. 

Shell, menurut data Climate Accountability Institute, termasuk dalam daftar 20 perusahaan penyumbang emisi terbesar di dunia. Periode penghitungannya, seperti terlihat pada grafik Databoks di bawah ini, memakai data emisi 1965 hingga 2017. Total 20 perusahaan yang tercatat ini menyumbang 480.168 metrik ton setara karbon (MtCO2e) atau 35,45% dari total emisi global. 

Wilayah Operasi Shell di Jerman Akan Bebas Emsi Karbon

Shell sebelumnya berencana menjadikan wilayah operasinya di Jerman menjadi bebas emisi karbon. Rencana ini sejalan dengan target perusahaan untuk mencapai emisi 0% pada 2050. 

Kapasitas produksi hidrogen hijau di kilang Cologne Rheinland bakal naik sepuluh kali lipat pada 2030. Rencana meningkatkan produksi kilang terbesar di Jerman ini merupakan upaya jangka panjang untuk mengganti pemrosesan minyak mentah di sana.

Perusahaan akan menyiapkan ladang angin lepas pantai yang sebagian listriknya untuk menghasilkan hidrogen hijau. Hidrogen dianggap sebagai bahan bakar ramah lingkungan karena memakai listrik dari sumber energi terbarukan. Shell juga akan melengkapi seribu unit stasiun pengisian bahan bakar di Jerman agar dapat dipakai kendaraan elektronik pada 2030.

Pembuat baterai surya milik Shell di negara itu, sonnen, juga mengatakan akan memperluas kapasitas produksinya. Permintaan untuk sistem penyimpanan energi di dalam rumah diperkirakan akan tumbuh tinggi dalam beberapa tahun ke depan. 

 

Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait