Bos Tesla: Konsumsi Listrik Energi Terbarukan Akan Berlipat Ganda

Bos Tesla, Elon Musk, memprediksi pergeseran bahan bakar dari beremisi karbon tinggi ke energi hijau membutuhkan waktu dua dekade.
Image title
2 Desember 2020, 12:32
elon musk, tesla, mobil listrik, energi baru terbarukan
ANTARA FOTO/REUTERS/Aly Song/nz/cf
Bos dan pendiri Tesla Elon Musk konsumsi listrik energi baru terbarukan akan meningkat seiring dengan bertambahnya penjualan mobil listrik.

 Konsumsi listrik diperkirakan akan berlipat ganda seiring dengan peningkatan pemakaian mobil listrik alias EV. Bos dan pendiri Tesla Elon Musk menyebut kondisi ini akan mendorong perluasan sumber pembangkit energi baru terbarukan, termasuk nuklir, matahari, panas bumi, dan angin.

Ketersediaan energi bersih itu merupakan tantangan besar. Tidak mungkin pembangunannya terabaikan karena mobil listrik saat ini digerakkan oleh baterai, tak lagi memakai bahan bakar fosil. 

Prediksinya, pergeseran bahan bakar dari beremisi karbon tinggi ke energi hijau membutuhkan waktu dua dekade. “Ini seperti dengan teknologi telepon. Anda tidak dapat mengganti semuanya sekaligus,” ujar Musk, dikutip dari Reuters, Selasa (1/12).

Ketika mobil listrik menjadi norma baru dalam masyarakat, teknologi pembangkit akan berubah. Baterai akan memegang peranan penting untuk menyimpan listrik di pembangkit energi terbarukan yang pasokannya tidak terus-menerus atau intermittent.  

Tesla sedang memulai rencana untuk membangun pabrik pembangkit energi terbarukannya yang keempat di negara dengan perekonomian terbesar Eropa. "Turbin angin terbaik  sedang kami buat di Jerman," katanya.

Perusahaan baru saja memperoleh lisensi menjual listrik di seluruh Eropa barat. Tesla telah melakukan survei pelanggan di Jerman tentang penggunaan listrik produksinya pada mobil mereka. 

Penjualan Mobil Listrik Melonjak Selama Pandemi

Selama sembilan bulan pertama 2020, melansir dari Bloomberg, penjualan mobil secara global mengalami penurunan. Setiap produsen otomotif terpengaruh penurunan konsumsi, kecuali Tesla.

Produsen mobil lsitrik itu menjual lebih banyak produknya dari tahun-tahun sebelumnya. Tesla membukukan keuntungan kuartalan berturut-turut dan sahamnya langsung masuk dalam indeks S&P 500. Musk pun berhasil menggeser posisi bos Microsoft, Bill Gates, sebagai orang terkaya nomor dua dunia. 

Hal serupa juga terjadi pada Volkswagen dan Daimler. Penurunan penjualan mobil berbahan bakar minyaknya anjlok sampai memecahkan rekor. Namun, divisi EV-nya mencetak penjualan berlipat ganda. 

Sekarang tiga kekuatan besar dunia, yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, dan Eropa, sedang mendorong kebijakan transisi dari minyak ke listrik. ​​Ketiganya selama ini bertanggung jawab telah membakar lebih dari setengah minyak mentah dunia.

Eropa menempuh langkah untuk melawan dominasi Tiongkok. Tahun ini, peraturan efisiensi bahan bakar kendaraan berlaku keras di Benua Biru. Perusahaan yang gagal mengurangi emisinya harus membayar denda besar.

Tiongkok telah memberikan stimulus dan subsidi kendaraan listrik pada April lalu hingga 2022. Lalu, Presiden Xi Jinping juga mengejutkan dunia dengan komitmennya menjadi negara netral karbon di 2060.

AS kemungkinan besar akan melaju di industri kendaraan listrik setelah Joe Biden terpilih menjadi presiden ke-46. Biden berkali-kali menyatakan komitmennya untuk menurunkan emisi karbon dan bergabung kembali dalam Kesepakatan Paris. 

Industri EV semakin terdorong dengan penurunan harga produksi baterai. Biayanya saat ini sekitar US$ 100 per kilowatt hour (kWh), hampir serupa dengan BBM. 

Musk pada September lalu sempat menunjukkan rencananya memroduksi sel baterai dengan pemotongan ongkos mencapai 56% pada 2023. Target yang dianggap terlalu optimistis, tapi Tesla selama ini selalu terdepan dalam pengembangan teknologi mobil lsitrik. 

Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait