Kejar Target Bauran Energi, Jateng Genjot Pemasangan PLTS Atap

Jawa Tengah menargetkan bauran energi baru terbarukannya mencapai 21,32% pada 2025 dan 28,82% pada 2050.
Image title
16 Februari 2021, 13:37
plts atap, jateng, pembangkit listrik, energi baru terbarukan, pembangkit listrik tenaga surya
ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
Ilustrasi. Pemerintah Pronvisi Jawa Tengah menggenjot pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Atap untuk mencapai target bauran energi terbarukan sebesar 21,32% pada 2025.

Realisasi target bauran energi baru terbarukan atau EBT di Jawa Tengah mencapai 11,89% pada 2020. Targetnya adalah 21,32% pada 2025 dan 28,82% pada 2050.

Guna mencapai angka-angka tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah gencar mendorong pemanfaatan energi bersih. Salah satunya dengan memasang pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS Atap di kantor pemerintah daerah dan sektor industri. 

Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Jateng Prasetyo Ari Wibowo mengatakan upaya itu pun untuk mengantisipasi permintaan energi yang naik, sementara energi fosil terus berkurang. "Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan PLTS Atap," ujarnya dalam Central Java Solar Day 2021, Selasa (16/2).

Potensi energi surya di provinsi tersebut mencapai 4,05 kilowatt hour (kWh). Kapasitas pembangkit matahari yang terpasang saat ini mencapai 5,6 megawatt (MW) di berbagai sektor, seperti industri, pondok pesantren, pelelangan ikan, dan rumah tangga.

Sebagian besar pemasangan PLTS Atap tersebut memakai anggaran pendapatan dan belanja negara daerah atau APBD. Pada 2017 kapasitas yang terpasang mencapai 35 kilowatt-peak (kWp). Di tahun berikutnya dan 2019 masing-masing mencapai 30 kilowatt-peak. “Kegiatan instalasi di 2020 (tertunda) karena pandemi, anggarannya dialihkan,” ucap Prasetyo. 

Pemanfaatan energi surya tahun ini, menurut dia, sangat relevan dengan transisi menuju energi bersih. Apalagi Pemprov Jateng telah menandatangani komitmen pengurangan emisi karbon dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 

Selain matahari, potensi energi terbarukan lainnya di provinsi itu adalah panas bumi, hidro, biofuel, biomassa, dan biogas. Pemprov juga sedang mendorong kendaraan listrik berbasis baterai dan sumber energi lainnya pengganti elpiji. 

Cara Dorong Pemanfaatan PLTS Atap

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan butuh pemerataan informasi mengenai teknologi, harga, dan EPC (kontraktor) untuk mendorong pemanfaatan PLTS Atap. 

Lalu perlu pula fasilitas purna jual pembangkit untuk menjamin keberlanjutan sistem. "Ini menjadi penting bagaimana menciptakan dukungan layanan after sales," kata dia.

Skema pembiayaan yang menarik juga akan meningkatkan pemasangan pembangkit tersebut. “Mungkin dapat dipikirkan bangunan komersial gedung dan hotel kalau memasang PLTS Atap selama lima tahun dapat diskon pajak bumi dan bangunan, misalnya,” ujar Fabby.

Kementerian Eneergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat pelanggan PLN yang telah memasang PLTS Atap terus bertambah. Angkanya mencapai 2.346 pelanggan pada Juni 2020 dengan total kapasitas mencapai 11,5 Megawatt (MW).

Para pelanggan PLN yang telah memasang PLTS Atap tersebut tersebar di 16 provinsi. Saat ini, Kementerian ESDM sedang menggodok program pengalihan dana subsidi listrik yang selama ini diterima masyarakat untuk membangun PLTS Atap. 

Pemasang PLTS Atap terbanyak berada di Jakarta. Posisi berikutnya adalah Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing
Video Pilihan

Artikel Terkait