Konsumsi Listrik Masih Lesu, Target Pembangkit Panas Bumi Diturunkan

Dalam rencana umum energi nasional alias RUEN, kapasitas pembangkit listrik panas bumi akan mencapai 9.300 megawatt (MW) di 2030. Akibat pandemi, angkanya menurun menjadi 7.780 megawatt.
Image title
26 Februari 2021, 15:58
pembangkit listrik, kementerian esdm, listrik, energi baru terbarukan, panas bumi, geothermal
Pertamina
Ilustrasi. Pemerintah menurunkan target kapasitas pembangkit panas bumi karena konsumsi listrik menurun di tengah pandemi Covid-19.

Konsumsi listrik selama pandemi Covid-19 mengalami penurunan. Hal ini pun berdampak pada rencana usaha penyediaan tenaga listrik atau RUPTL periode 2021-2030, khususnya pembangkit listrik tenaga panas bumi alias PLTP.

Kepala Subdirektorat Penyiapan Program Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Havidh Nazif mengatakan konsumsi yang belum pulih maka pemerintah memasang target yang lebih realistis.

Dalam rencana umum energi nasional alias RUEN, kapasitas PLTP akan mencapai 9.300 megawatt (MW) di 2030. Akibat pandemi, angkanya berubah menjadi 7.780 megawatt.

Pergeseran target tersebut berubah sesuai asumsi pertumbuhan ekonomi. “Perubahannya juga untuk menyeimbangkan permintaan dan pasokan,” kata dia dalam I-4 Lecture Series Energy #1: Panas Bumi, Tulang Punggung Masa Depan Energi Indonesia, Jumat (26/3).

Kapasitas terpasang pembangkit energi baru terbarukan (EBT) itu hingga 2020 mencapai 2.130 megawatt. Angkanya belum berubah sejak 2019. Untuk tahun ini, pemerintah menargetkan penambahan sebesar 196 megawatt. 

Tantangan pengembangan panas bumi, masih serupa dengan tahun-tahun selanjutnya, yaitu pembiayaan. Belum ada lembaga keuangan besar yang mau membiayai proyek eksplorasinya. 

Pelan-pelan keadaan itu berubah. Potensi pendanaan hijau atau ramah lingkungan mulai terbuka pasarnya selama pandemi. “Ini yang menjadi harapan kami karena banyak green fund yang dapat diadopsi,” ujar Havidh. 

Pemerintah memiliki ruang pencarian dana tersebut melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) alias SMI. Kolaborasi keduanya saat ini masih berjalan. 

Direktur Utama Geo Dipa Energi Riki Ibrahim mengatakan model pembiayaan dan insentif untuk panas bumi atau geothermal cukup lengkap ketimbang energi baru terbarukan lainnya. “Kondisinya sekarang sangat mudah mendapatkan pembiayaan,” katanya. 

Badan usaha harus bergerak cepat meningkatkan kredibilitasnya agar bankable.  “Jadi, jangan menuntut bunga murah, minta penjaminan, tapi tidak meningkatkan kredibilitas," ujar Riki. 

Pemerintah Akan Bentuk Holding BUMN

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berancang-ancang membentuk holding panas bumi. Perusahaan induk ini akan diisi oleh tiga kongsi pelat merah yang fokus menggarap PLTP.

Ketiganya yakni PT Pertamina Geothermal Energy, PT Geo Dipa Energi (Persero), dan PT PLN Gas & Geothermal. Wakil Menteri BUMN Pahala Mansury mengatakan dengan holding itu kerja operasional perusahaan bisa lebih efisien.

Dia menargetkan penggabungan aset panas bumi ketiga perusahaan akan selesai di tahun 2021 ini. "Berpotensi jadi perusahaan geothermal terbesar di dunia," kata Pahala kepada Katadata.co.id, Senin lalu. 

Penggabungan aset panas bumi nantinya akan memperkuat holding. Kekuatan Pertamina adalah pengembangan dan pengeboran sumur panas bumi. "PLN nanti untuk transmisi dan distribusi. Lalu, pemerintah dalam kebijakan dan pendanaan," ujarnya.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait