Hingga Maret, Jumlah Pemasang PLTS Atap Capai 3.472 Pelanggan

Kementerian ESDM mendorong pemasangan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS atap di gedung-gedung pemerintah, lembaga, dan perkantoran.
Image title
9 Juni 2021, 16:57
plts, pembangkit listrik, energi baru terbarukan, kementerian esdm
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS atap.

Kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS atap hingga Maret 2021 mencapai 26,51 megawatt peak (MWp). Jumlah yang memasang mencapai 3.472 pelanggan.

Dari angka itu, sebanyak 141 pelanggan berada di Bali. Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Chrisnawan Anditya mengatakan pemanfaatan PLTS di provinsi tersebut dapat digenjot secara signifikan.

Kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga matahari di sana hingga Maret 2021 mencapai 1,07 MWp. “Kami harapakan Bali dapat mendorong pemakaian PLTS atap karena potensinya sangat luas,” katanya dalam diskusi virtual, Bali Menuju Energi Bersih, Rabu (9/6).

 

Advertisement

Kementerian ESDM juga mendorong pemasangan PLTS atap di gedung-gedung pemerintah, lembaga, dan perkantoran. Selain mengurangi tagihan listrik, penggunaan PLTS atap juga sejalan upaya pemerintah menurunkan emisi karbon.

Guna menarik minta investasi pembangkit tersebut, pemerintah tengah merevisi aturannya. Terutama yang berkaitan dengan perhitungan ekspor-impor listrik antara pelanggan dengan PLN.

Dalam revisinya, nilai transaksi ekspor energi dari PLTS atap ke PLN didorong akan lebih dari 65%, tidak seperti saat ini. Mekanisme pelayanannya pun berbasis aplikasi. “Sehingga memudahkan proses pengawasan,” ucap Chrisnawan.

Manajer Program Akses Energi Berkelanjutan Institute for Essential Services Reform (IESR) Marlistya Citraningrum mengatakan provinsi Bali mempunyai potensi yang cukup besar dalam pemanfaatan PLTS atap. 

Berdasarkan pemetaan IESR berbasis geospasial, citra satelit, dan penggunaan lahan, potensinya dapat mencapai 26,4 Giga Watt peak (GWp). "Ini cukup besar dengan memperhitungkan kesesuaian lahan dan produksi teknisnya bisa mencapai hingga 40,5 Terawatt hour (TWh)," ujarnya. 

Di samping itu, Bali juga memiliki potensi penyimpanan energi dalam bentuk pumped hydro energy storage (PHES) alias teknologi penyimpanan daya hidroelektrik terpompa dengan total kapasitas 34 TWh. Selain itu potensi PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikrohidro) mencapai 61.379,6 kWh per bulan (2.046 kWh per hari).

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait