Mandiri Sekuritas Perkirakan IHSG Akhir Tahun Tembus 6.800

Mandiri Sekuritas menilai, di tengah panasnya perang dagang, pasar modal domestik terlihat lebih mampu beradaptasi dibandingkan negara berkembang lainnya.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
29 Mei 2019, 19:04
prediksi ihsg, ihsg hari ini
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Mandiri Sekuritas memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir 2019 berada di level 6.800.

Mandiri Sekuritas memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir 2019 berada di level 6.800. Pasar saham dalam negeri masih terlihat lebih mampu beradaptasi dibandingkan negara berkembang lainnya, di tengah memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

"Concern lebih ke eksternal, yaitu perang dagang. Akibatnya, negatif ke growth. Tapi Indonesia lebih resilience (tahan banding) dibanding dengan emerging market lainnya," kata Head of Equity Mandiri Sekuritas Adrian Joezer dalam acara buka puasa bersama media di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (28/5).

Adrian mengatakan, prediksi tersebut masih terkait dengan proyeksi rasio laba per saham alias earning per share (EPS). Mandiri Sekuritas meproyeksikan tahun ini, pertumbuhan EPS emiten berada di kisaran 8% dan untuk tahun depan tumbuh sebesar 10%.

Prediksi IHSG akhir tahun ini sebenarnya sudah dipangkas dari yang sebelumnya berada di level 7.000 lantaran mereka memperkirakan EPS di level 10%. "Namun, karena di Triwulan I-2019 ternyata hanya 7%. Maka kami coba sesuaikan EPS akan ada di angka 8% hingga akhir tahun," kata Adrian.

Target EPS yang meleset pada tiga bulan pertama 2019 tersebut disebabkan oleh tekanan pada beberapa sektor, terutama emiten komoditas. Adrian mengatakan, jika sektor ini dikeluarkan, maka pertumbuhan EPS berada di level 10%. "Jadi, IHSG bertahan di level 6.800 hingga akhir tahun bukanlah tidak mungkin," katanya.

(Baca: Investor Asing Belanja Saham Rp 421 Miliar, IHSG Naik 1,18%)

Tertekannya sektor komoditas tersebut dipicu oleh turunnya harga minyak sawit, minyak, dan batu bara. Hal ini merupakan efek dari perang dagang antara AS dengan Tiongkok yang terus berlanjut.

Adrian mengatakan, saat ini valuasi IHSG menjadi lebih murah lantaran indeks yang terkoreksi beberapa waktu lalu. Dia memperkirakan, target price to earning (PE) di angka 15,5 kali di akhir tahun ini. Hal itu membuat indeks akan berpotensi upside lebih baik karena tekoreksinya hingga di bawah 13 kali.

Menurut dia, di semester kedua 2019 nanti, kondisi global dan domestik akan lebih baik dibandingkan dengan awal tahun ini. Bank Sentral Amerika Serikat diperkirakan bakal menurunkan tingkat suku bunga karena pertumbuhan ekonomi AS yang kurang memuaskan dibandingkan 2018.

Dari dalam negeri, Adrian memperkirakan defisit neraca perdagangan alias current account deficit (CAD) bisa berada di level 2,6%. Selain itu, berakhirnya Pemilu dan Pilpres, bisa membuat investor kembali nyaman berbisnis dan berinvestasi di dalam negeri. 

"Indikator investasi yang kurang baik di Semester I-2019, seperti semen dan kendaraan yang masih wait and see, sekarang sudah selesai," katanya.

(Baca: Ditopang Tiga Sektor, IHSG Diprediksi Tembus 6.800 pada Akhir Tahun)

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait