Jelang Debat, Jokowi dan Prabowo Perlu Bahas Dua Isu Utama Ekonomi

Menurut Direktur Riset Center of Reform on Economics Piter Abdullah Redjalam, dua isu itu adalah suku bunga tinggi dan struktur ekonomi yang lemah.
Image title
9 April 2019, 18:39
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto berjabat tangan saat mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto berjabat tangan saat mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan Internasional.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah Redjalam berharap dua pasangan calon presiden dan wakil presiden pada debat pamungkas 13 April nanti akan membahas dua isu utama sektor keuangan. Dua masalah itu adalah suku bunga yang tinggi dan struktur ekonomi yang lemah.

"Suku bunga yang tinggi ini mengakibatkan high cost economy," kata Piter dalam Diskusi Jelang Debat Capres di Jakarta, Selasa (9/4). Sementara, struktur ekonomi yang lemah dipicu oleh tingginya defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Hal ini turut berdampak pada nilai tukar rupiah yang rentan terhadap kondisi perekonomian global.

Defisit transaksi berjalan merupakan masalah menahun yang terjadi sejak 2011. Bila permasalahan ini dapat diselesaikan, Piter menilai akan ada banyak permasalahan yang ikut terselesaikan. Contohnya, peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi.

(Baca: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5%, Prabowo: Ndasmu)

Advertisement

Ia berharap, pemerintah dapat bercermin pada Thailand yang dapat membalikkan defisit transaksi berjalan menjadi surplus. Pada 2012, Thailand mengalami defisit transaksi berjalan sebesar 0,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit semakin dalam menjadi 1,2% terhadap PDB pada 2013.

Namun, angka itu kembali surplus mulai 2014 hingga mencapai 10,6% terhadap PDB. Pendorong perbaikan itu karena pemerintah Thailand berhasil meningkatkan devisa dari sektor pariwisata. Karena itu, Piter menyarankan pemerintah untuk menambal neraca finansial untuk menutup defisit transaksi berjalan.

(Baca: Janji Pangkas Tarif Pajak, Jokowi dan Prabowo Diminta Hati-hati)

Peningkatan neraca finansial dapat dilakukan dengan menarik aliran masuk modal asing melalui portofolio dan Surat Berharga Negara (SBN). Ia berharap, langkah-langkah ini akan diangkat dalam debat yang membahas ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, serta industri pada empat hari mendatang.

Pada Sabtu nanti, Komisi Pemilihan Umum akan menyelenggarakan debat pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor 01 Jokowi-Ma’ruf dan nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga. Debat akan dilaksanakan di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta.

Piter menilai, selama ini Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga hanya membahas isu ekonomi secara parsial. Pembahasannya hanya fokus pada masalah tanpa mencari solusi yang tepat. "Selain itu, tidak ada grand strategy untuk mengatasi masalah utama perekonomian," ujarnya.

(Baca: Jokowi Ajak Masyarakat Kenalkan Program Tiga Kartu Sakti)

Reporter: Rizky Alika
Editor: Sorta Tobing
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait