Tak Hanya Resesi, Ancaman Deflasi pun Dekati RI

Bila daya beli masyarakat tidak kunjung terangkat, selain resesi, Indonesia pun berpotensi mengalami deflasi.
Image title
Oleh Sorta Tobing
26 Agustus 2020, 16:08
deflasi adalah, apa itu deflasi, resesi, sri mulyani, pertumbuhan ekonomi, pandemi corona
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Ilustrasi. Pandemi corona yang telah menurunkan aktivitas ekonomi membuat ancaman resesi dan deflasi semakin mendekati Indonesia.

Ancaman resesi semakin mendekati Indonesia. Setelah pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 berada di minus 5,32%, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pada triwulan berikutnya kemungkinan berada di negatif 2%.

Meskipun indikator ekonomi sudah menunjukkan tren positif, namun data ekonomi belum menunjukkan perbaikan. “Outlook (kuartal ketiga) adalah antara negatif 2% hingga 0%,” katanya dalam konferensi video, Selasa (25/8).

Dengan demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjan 2020 adalah minus 1,1% hingga 0,2%. Konsumsi dan investasi akan menjadi penggerak utama perekonomian agar angka pertumbuhan dapat naik.

Namun, jika keduanya masih dalam zona negatif, mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini merasa akan percuma jika pemerintah terus menggenjot belanja. “Akan sangat sulit tahun ini masuk zona netral 0%,” ucap Sri Mulyani.

Presiden Joko Widodo sebelumnya mengatakan kuartal ketiga 2020 sebagai periode penting dalam pemulihan ekonomi nasional. Harapannya, aktivitas ekonomi di era kenormalan baru dapat terjadi dan mendorong konsumsi rumah tangga. “Kita berharap kuartal III ini ekonomi naik. Kalau enggak, saya enggak ngerti lagi, betapa akan lebih sulit kita,” ujarnya pada 23 Juli lalu.

Pemerintah pun menggelontorkan stimulus dana bagi berbagai kalangan dalam bentuan bantuan sosial atau bansos. Yang teranyar, Jokowi meluncurkan program Bantuan Presiden (Banpres) produktif sebesar Rp 2,4 juta yang menyasar 12 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sebagai informasi, konsumsi rumah tangga terkontraksi hingga 5,51% pada kuartal II-2020, dibandingkan pada 2019 dalam periode yang sama. Padahal kuartal I-2020 masih berada di titik 2,83%. Konsumsi rumah tangga merupakan kontributor utama produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Bila daya beli masyarakat tidak kunjung terangkat, Indonesia pun berpotensi mengalami deflasi. Deflasi merupakan salah satu dampak yang timbul bila PDB turun selama dua kuartal berturut-turut alias resesi.

Apa itu Deflasi?

Melansir dari situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK), deflasi adalah keadaan yang menunjukkan daya beli uang meningkat dalam masa tertentu karena jumlah uang yang beredar relatif lebih kecil daripada jumlah barang dan jasa yang tersedia (deflation).

Resesi tidak terpisahkan dari deflasi. Ketika ekonomi mengalami resesi parah, perekonomian pun melambat. Permintaan atas konsumsi dan investasi anjlok. Kondisinya merupakan kebalikan dari inflasi atau kenaikan harga barang secara terus-menerus dalam waktu singkat. Turunnya harga barang bukanlah indikasi baik bagi suatu negara, melainkan tanda adanya krisis ekonomi.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat inflasi Indonesia secara tahunan menunjukkan tren penurunan. Pada Juli 2020, terjadi inflasi sebesar 1,54% (year on year/yoy). Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan terjadi pada transportasi sebesar 0,71% (yoy), serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,31% (yoy). 

Sementara secara bulanan, terjadi deflasi sebesar 0,1%, seperti terlihat pada grafik Databoks berikut ini. Angka ini merupakan yang terendah sejak September 2018.

Apa Dampak Deflasi?

Deflasi punya dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pasalnya, hasil produksi yang tidak diserap oleh masyarakat membuat perusahaan mau tidak mau harus mengurangi kapasitas produksinya. Imbasnya, kondisi deflasi bisa memunculkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Hal ini pun tengah nampak di Indonesia. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Manoarfa sebelumnya menyebut total pengangguran di Indonesia sudah mencapai 10,7 juta orang.

Lesunya roda perekonomian juga berimbas pada kinerja investasi yang terus terdepresiasi. Investor yang melihat penurunan kinerja perusahaan dapat menarik modalnya sehingga laju perdagangan di pasar modal dapat mengalami penurunan.

Melansir dari Warta Ekonomi, kondisi deflasi juga berpotensi membuat kredit macet meningkat. Banyak orang mengalami gagal bayar karena maraknya pengangguran. Hal ini memicu sektor keuangan mengalami kerugian besar dan kehilangan likuiditas.

Cara Atasi Deflasi

Menambah peredaran uang merupakan salah satu cara mengatasi kondisi deflasi. Hal ini pula yang tengah digenjot pemerintah Indonesia dengan memberikan berbagai bantuan berupa uang tunai.

Selain itu, meningkatkan peredaran uang juga dilakukan lewat penurunan suku bunga acuan di bank sentral. Kebijakan ini tengah ditempuh Bank Indonesia.

Saat ini, BI mempertahankan suku Bungan acuan BI-7days reverse di level 4%. Penurunan ini diharapkan menjadi solusi pelonggaran likuiditas. “Bank Indonesia menekankan pada jalur kuantitas untuk meningkatkan likuiditas, termasuk memberikan dukungan kepada pemerintah dalam merealisasikan APBN,” tutur Gubernur Perry Warijoyo.

Pemerintah biasanya juga menempuh penurunan tarif pajak untuk merangsang pengeluaran masyarakat dan sektor usaha. Namun, jika kondisi ini berlangsung berkepanjangan, penerimaan negara akan ikut merosot.

Penyumbang bahan: Muhamad Arfan Septiawan (magang)

Reporter: Agatha Olivia Victoria, Dimas Jarot Bayu
Editor: Sorta Tobing

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait