Membaca Goenawan Mohamad: Bentuk Mengagumi dengan Cara Kritis

Membaca Goenawan Mohamad berisi sejumlah gagasan dari para tokoh mengenai kiprah GM di dunia kesusastraan, pemikiran, dan demokrasi.
Ade Rosman
29 Desember 2022, 21:38
Sastrawan Goenawan Mohamad menghadiri peluncuran buku 'Membaca Goenawan Mohamad' di Teater Utan Kayu, Jakarta
Katadata
Sastrawan Goenawan Mohamad menghadiri peluncuran buku 'Membaca Goenawan Mohamad' di Teater Utan Kayu, Jakarta

Komunitas Utan Kayu meluncurkan buku 'Membaca Goenawan Mohamad', yang di dalamnya memuat sejumlah tulisan dari para tokoh saat memperingati hari ulang tahun ke-80 sastrawan kenamaan Indonesia tersebut.

Ayu Utami, penyunting buku ini mengatakan 'Membaca Goenawan Mohamad' merupakan salah satu bentuk mencintai karya-karya pendiri Majalah Tempo itu dengan pembacaaan secara kritis.

Sebanyak 16 penulis, menelisik secara mendalam pemikiran GM, sapaan akrabnya, di seputar sastra, filsafat dan demokrasi dari seminar yang diselenggarakan Salihara dan Komunitas Utan Kayu pada 25-27 Maret 2022. 

"Nah, yang ingin saya lakukan bersama teman-teman adalah melakukan pembacaan yang serius dan kritis terhadap pemikiran mas Goen (Goenawan)," kata Ayu, saat peluncuran buku tersebut, di Jakarta, Kamis (29/12).

Ayu mengatakan, Goenawan merupakan sosok yang sangat hebat, namun, sayangnya, tambah Ayu, karya-karyanya yang luar biasa, masih kurang dibaca dengan kritis.

"Novelnya mas Goen itu bagus sekali sebenarnya. Tapi kajian mengenai itu tidak banyak. Kenapa ini terjadi? Saya gak tahu. Mungkin orang memandang mas Goen ini udah kayak begitu saja," kata Ayu.

Dalam perjalanannya sebagai sastrawan sekaligus tokoh jurnalisme, Goenawan dikenal sebagai penulis esai yang diterbitkan rutin setiap pekan di Majalah Tempo, Catatan Pinggir yang kini telah dibukukan dalam 14 jilid.

Terbaru, Goenawan juga telah menerbitkan sejumlah buku mengenai pemikiran seni seperti Estetika Hitam: Adorno, Seni, Emansipasi (2021) dan Rupa, Kata, Obyek, dan yang Grotesk: Esai-Esai Seni Rupa dan Filsafat Seni 1961-2021 (2021). 

Ayu menegaskan, buku Membaca Goenawan Mohamad isinya bukan hanya sebuah ritual puja-puji terhadap sosoknya. 

"Buku ini membaca pemikiran Goenawan Mohamad. Saya sendiri sebagai pribadi menyukai puisi mas Goenawan, dan mencoba—berharap, melanggengkan atau mengajak teman-teman yang lebih muda untuk menikmati puisi mas Goenawan," kata Ayu.

Adapun, penulis yang menuangkan gagasannya perihal GM di buku ini adalah: 

1. Setyo Wibowo (Dosen STF Driyarkara)
2. Agus Sudibyo (Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga Luar Negeri Dewan Pers 2019-2022)
3. Andy Budiman (pendiri Serikat Jurnalis untuk Keberagaman dan juga salah satu Ketua AJI 2006-2010)
4. Ayu Utami (Direktur Literature and Ideas Festival)
5. Bambang Sugiharto (Pengajar di Unpar, Pascasarjana FSRD ITB, dan UIN Sunan Gunung Djati)
6. Donny Danardono (Pengajar di Program Studi Ilmu Hukum dan Program Magister Lingkungan dan Perkotaan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang)
7. Fitzerald Kennedy Sitorus (Dosen ilmu filsafat di Universitas Pelita Harapan, Tangerang)
8. Martin Suryajaya (Penulis asal Semarang yang mendapatkan beberapa penghargaan)
9. Ni Made Purnama Sari (tim bidang program di Bentara Budaya)
10. Nirwan Dewanto (Sastrawan, editor, dan kurator seni)
11. Rizal Mallarangeng (pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Freedom Institute)
12. Sri Indiyastutik (Direktur Fundraising di YAPPIKA-ActionAid)
13. Triyanto Triwikromo (sastrawan dan dosen penulisan kreatif)
14. Ulil Abshar-Abdalla (penulis dan pemikir muslim)
15. Y. D. Anugrahbayu (penerjemah)
16. Yulius Tandyanto (penekun filsafat secara akademis) 

Reporter: Ade Rosman
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait