Saham-saham Tambang Nikel Terkoreksi Usai Cetak Rekor Tertinggi

Harga komoditas pertambangan, khususnya nikel pada perdagangan Rabu pagi ini kompak melemah setelah menyentuh rekor tertinggi kemarin ke level US$ 100.000/ton.
Image title
9 Maret 2022, 10:47
Saham-saham Tambang Nikel Terkoreksi Usai Cetak Rekor Tertinggi
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.
Karyawan melintas di dekat layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/5/2021). IHSG pada perdagangan menjelang libur cuti lebaran 2021 ditutup melemah 37,44 poin atau 0,6 persen ke level 5.938,35.

Harga komoditas pertambangan, khususnya nikel pada perdagangan Rabu pagi ini kompak melemah setelah menyentuh rekor tertinggi Selasa (8/3) kemarin ke level US$ 100.000/ton. 

Berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham berbasis komoditas nikel sejak Rabu (9/3 pagi kompak terkoreksi, antara lain, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melemah 3,52% ke level Rp 6.175 per saham, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga hampir menyentuh batas auto reject bawah (ARB) sebesar 6,69% ke level Rp 2.650 per saham. 

Sedangkan, harga saham PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) melemah 6,82% ke level Rp 1.025 per saham. 

Kenaikan harga komoditas nikel global ini meningkat terpicu kekhawatiran pasokan nikel  terganggu sebagai dampak perang Rusia dan Ukraina. Sebab, Rusia tercatat sebagai pemasok 10% dari kebutuhan nikel di dunia atau yang terbesar ketiga. 

Advertisement

Tak hanya nikel, komoditas batu bara juga melonjak ke level US$ 425/ton. Kenaikan itu membuat pelaku pasar asing mengakumulasi pembelian bersih senilai Rp 614 miliar terutama di saham-saham berbasis komoditas seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). 

Analis Mirae Asset Sekuritas, Handiman Soetoyo mengungkapkan, pelaku pasar asing terus mengumpulkan saham terkait batubara dan nikel di tengah kenaikan harga komoditas.

Kemarin, indeks ekuitas AS ditutup lebih rendah karena investor mempertimbangkan implikasi sanksi AS terhadap impor energi Rusia. 

Sanksi tersebut membuat harga energi melonjak. Harga minyak naik menjadi US$ 125/barel, sedangkan harga batu bara naik menjadi US$ 425/ton. 

"Harga nikel melonjak ke rekor US$ 100,000/ton kemarin karena kekhawatiran bahwa pasokan Rusia akan terganggu dan pedagang menutupi posisi short mereka," ungkap Handiman, dalam publikasi riset, Rabu (9/3).

Sementara itu, UOB Kay Hian Sekuritas memaparkan, bursa saham Wall Street pada perdagangan kemarin masih terkoreksi terimbas dari meningkatnya tekanan inflasi menyusul kenaikan harga komoditas akibat perang Rusia-Ukraina. 

"Investor terus mengamati pergerakan harga-harga komoditas seperti minyak mentah, gasoline, gas alam, nickel dan palladium, sebagai acuan untuk melihat pengaruh kenaikan harga-harga terhadap melambatnya ekonomi global," tulis UOB Kay Hian. 

Investor hari ini akan terus mencermati perkembangan faktor global seperti indeks Dow Futures dan harga komoditas di pasar global sebagai acuan untuk melakukan trading harian. 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait