Marak IPO BUMN, Nilai Penggalangan Dana Bisa Lebih Besar daripada 2021

Saat ini terdapat 36 perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan saham (IPO) di BEI. Mayoritas didominasi korporasi dengan aset skala besar di atas Rp 250 miliar.
Image title
10 Mei 2022, 15:15
BUMN Ramaikan IPO di BEI, Nilai Emisinya Bisa Lebih Besar dari 2021
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/ama. Covid-19
Ilustrasi perdagangan di Bursa Efek Indonesia

Sejumlah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menyampaikan rencana untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini.

Menyebut beberapa nama perusahaan yang digadang-gadang akan melakukan penawaran umum perdana saham di tahun ini antara lain, PT Pertamina Geothermal Energy, PT Pupuk Kaltim, PT Inalum Operating, PT ASDP Indonesia Ferry. Sedangkan, MIND ID baru dijadwalkan IPO setelah Inalum Operating lebih dulu melantai di bursa saham.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Setia menyampaikan, hingga saat ini, telah tercatat 19 perusahaan yang mencatatkan saham di BEI dengan total dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp 18,3 triliun.

"Di samping itu masih terdapat 36 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," kata Nyoman, Senin (9/5).

Advertisement

Bila merujuk pada klasifikasi aset perusahaan berdasarkan POJK Nomor 53/POJK.04/2017 sebagai berikut, dari pipeline tersebut, terdapat 6 perusahaan yang masuk kategori aset skala kecil di bawah Rp 50 miliar. 14 perusahaan mempunyai aset skala menengah antara Rp 50 miliar sampai dengan Rp 250 miliar. Kemudian, 16 perusahaan masuk kategori aset skala besar di atas Rp 250 miliar.

Berdasarkan sektornya, 36 perusahaan itu terdiri dari 2 perusahaan dari sektor barang baku, 2 perusahaan dari sektor industri, 3 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik, 7 perusahaan dari sektor barang konsumer primer.

Kemudian sebanyak 7 perusahaan dari sektor barang konsumer non-primer, 2 perusahaan dari sektor teknologi, 2 perusahaan dari sektor kesehatan, 3 perusahaan dari sektor energi, 3 perusahaan dari sektor properti dan real estat dan sebanyak 5 perusahaan dari sektor infrastruktur.

IHSG DITUTUP MENGUAT JELANG LIBUR LEBARAN
IHSG DITUTUP MENGUAT JELANG LIBUR LEBARAN (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/tom.)

Nyoman meyakini, pada tahun ini penggalangan dana di pasar modal bisa melampaui capaian tahun 2021. Hal ini dengan mempertimbangkan pemulihan ekonomi Indonesia yang semakin membaik dan beberapa indikator pasar modal yang juga menunjukkan pertumbuhan positif.

Selain itu, otoritas bursa juga memberikan kemudahan bagi semua tingkatan perusahaan untuk dapat melakukan penggalangan dana di pasar modal. Berdasarkan data pipeline saham saat ini, terlihat minat perusahaan mencari alternatif pendanaan melalui pasar modal Indonesia relatif kondusif.

Beberapa kemudahan dan relaksasi telah diberikan bagi semua tingkatan perusahaan yang diwujudkan dengan berbagai penyesuaian peraturan dan penyusunan kajian terkait mekanisme pencatatan saham.

"Kami yakin bahwa semua hal positif tersebut turut memberikan optimisme tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya," imbuh Nyoman.

Secara terpisah, Wakil Menteri BUMN, Pahala Nugraha Mansury mengatakan Kementerian BUMN akan mengajukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) Pertamina Geothermal Energy (PGE) tahun ini. IPO dimaksudkan untuk meningkatkan transparansi kinerja sekaligus meraup dana tambahan dari investor pasar modal.

"Saat ini adalah berencana untuk bisa melakukan IPO. Rencananya akan dilakukan pada tahun ini, Kuartalnya belum tahu. Dan misalnya ada mitra strategis yang ingin masuk dalam transaksi IPO tersebut, akan kami lihat," ungkap Pahala saat ditemui di Graha Pertamina, Gambir, Jakarta, pada Senin (9/5) malam.

Sebelumnya Pahala mengungkapkan, pihaknya akan melakukan IPO Pertamina Geothermal Energy pada semester pertama tahun ini. "Targetnya semester I 2022 dan mendaftar Maret. IPO mungkin Juni," kata Pahala, medio Januari lalu, Rabu (12/1).

IPO bertujuan untuk mengamankan sekitar US$ 400-500 juta atau Rp 5,72-7,15 triliun (kurs Rp 14.300 per dolar AS). IPO PGE penting karena Indonesia membutuhkan dana yang besar untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait