Warga RI Kian Gemar Transaksi Digital, Bayar via Uang Kartal Hanya 7%

Terus bertumbuhnya transaksi keuangan secara digital dapat menjadi pintu makin berkembangnya ekonomi digital di Tanah Air.
 Zahwa Madjid
29 November 2022, 18:28
Warga RI Kian Gemar Transaksi Digital, via Uang Kartal Hanya 7%
Freepik
Ilustrasi, dompet digital.

Nilai transaksi uang elektronik di Indonesia terus tumbuh pesat. Selama setahun terakhir ini, nilainya bertumbuh hingga 58,6% dengan volume transaksi yang meningkat 37,49%. Adapun, nilai transaksi uang elektronik secara bulanan mencapai Rp 35,1 triliun.

Ekonom dan peneliti Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai hal ini dapat menjadi pintu untuk perkembangan ekonomi digital. Karena, adanya perubahan perilaku di masyarakat yang sangat cepat sejak merebaknya pandemi Covid-19.

“Seperti Gopay misalnya berangkat dari kebutuhan, sebagai multiplatform yang signifikan, perubahan perilaku masyarakat menjadi terakselerasi," tutur Fithra dalam acara E-Wallet Industry Outlook di Jakarta, dikutip Selasa (29/11). 

Apalagi, kata Faisal, jika melihat data terbaru dari Bank Indonesia, pada kuartal ketiga secara tahunan uang elektronik bertumbuh 35,79%. Kemudian, perkembangan digital banking tercatat tumbuh 25,49%.

"Sementara jika kita melihat uang kartal yang diedarkan, itu cuma 7%. Artinya, ini memang kita sudah sangat tinggi sekali ada percepatan-percepatan transaksi,” kata dia.  

Riset InsightAsia juga menemukan, kecenderungan penggunaan dompet digital saat ini makin berkembang. Dompet digital kini tak lagi hanya sekadar pembayaran ke pengelolaan uang seperti transfer uang, menyediakan riwayat transaksi, dan fitur bayar belakangan atau paylater. 

Ada 10 macam penggunaan dompet digital, paling besar adalah belanja di e-commerce, kemudian top-up pulsa telepon seluler, diikuti oleh transfer uang dalam platform, melihat riwayat transaksi, transfer bank, pesan kuliner, pembayaran tagihan, pembayaran offline pengeluaran rumah tangga dan pay later.

Tak hanya itu, Fithra juga menilai pertumbuhan yang pesat dalam sektor teknologi, informasi dan komunikasi (ICT) seperti dompet digital bisa menggandeng sektor lain untuk tumbuh bersama.

“Sektor ICT ini adalah sektor yang pertumbuhannya inklusif artinya ketika sektornya tumbuh dapat menggandeng sektor lain untuk ikut tumbuh. Seperti UMKM, dengan go digital menjadi pintu awal untuk scale up bisnis mereka,” lanjut Fithra.

Simple Grafik Persaingan Dompet Digital
Simple Grafik Persaingan Dompet Digital (Katadata)

 

Demi mendukung pertumbuhan tersebut, Fithra menghimbau agar pemerintah untuk tidak menetapkan regulasi yang berlebihan pada aktivitas dompet digital. Karena dengan regulasi yang berlebihan dapat menunda potensi pertumbuhan dompet digital.

“Belajar dari apa yg kita alami sepanjang kita tumbuh ya, keadaan pemerintah adalah jangan terlalu banyak memberi regulasi ketika overregulate ada semacam gejolak di market," kata dia.

Yang dibutuhkan, lanjut Faisal, sebenarnya adalah dengan memfasilitasinya. "Fasilitasi aja ga perlu terlalu banyak regulasi, ketika overegulate yang ada menjadi tidak tumbuh sebagaimana potensinya,” tandas Fithra.

 

Reporter: Zahwa Madjid
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait