McKinsey menyebut salah satu penyebab penggunaan energi fosil masih tinggi adalah lonjakan permintaan listrik, khususnya dari sektor industri dan bangunan.
Fasilitas yang membakar bahan bakar fosil adalah sumber dominan polusi penjebak panas yang memicu krisis iklim dengan menggunakan langit seolah-olah sebagai saluran pembuangan terbuka.
Menurut data resmi pemerintah yang dirilis pada Jumat (15/8), permintaan listrik mencapai rekor tertinggi seiring dengan gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Cina.
BP akan membatalkan targetnya untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik terbarukan sebesar 20 kali lipat antara tahun 2019 dan 2030 menjadi 50 Gigawatt.
Laporan tersebut mengatakan emisi karbon dioksida (CO2) global akan mencapai 41,6 miliar metrik ton pada 2024, naik dari 40,6 miliar ton pada tahun lalu.
Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat dinilai dapat membuat penanganan krisis iklim berpotensi kembali berada pada titik kritis.