Ketegangan di Selat Hormuz dorong harga minyak dan biaya produksi plastik, berdampak pada industri hingga ritel dan berujung pada kenaikan harga barang konsumen di Indonesia.
Harga minyak Brent turun 0,6% menjadi US$ 113,74 per barel, sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,5% menjadi US$ 104,85 per barel.
Eskalasi di Timur Tengah yang kembali terjadi mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran pasar hingga membuat tiga bursa utama Wall Street memerah.
Harga minyak acuan dunia melambung mendekati US$ 120 per barel setelah Amerika Serikat (AS) meningkatkan tekanan terhadap Iran di tengah ketegangan yang sudah berlangsung berbulan-bulan.
Keputusan UEA keluar dari OPEC akan melemahkan pengaruh kartel dan pemimpinnya, Arab Saudi, di pasar minyak dunia dan bisa berdampak negatif terhadap harga minyak dalam jangka panjang.
Konferensi Santa Marta hadapi kebuntuan transisi energi fosil yang diperparah gejolak geopolitik dan lonjakan harga minyak global, termasuk dampaknya pada Indonesia.
Harga minyak mentah acuan Brent naik lebih dari 2% hingga menyentuh level tertinggi tiga minggu di US$107,97 per barel pada perdagangan awal hari ini di Asia.
Harga minyak dunia mencetak kenaikan lima hari beruntun, tertinggi sejak awal 2026, didorong ketegangan perundingan AS-Iran yang mengancam pasokan global.
Harga minyak acuan dunia turun tipis setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memperpanjang gencatan senjata dengan Iran sembari terus memblokade Selat Hormuz.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis bensin seperti Pertamax berpotensi naik.