Harga minyak dunia menguat imbas kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah setelah insiden kapal tanker dan ancaman terhadap jalur pelayaran strategis.
Harga minyak dunia bergerak fluktuatif setelah kelompok Houthi menyerang kamp pelatihan militer di Yaman, serta kembali melancarkan serangan baru terhadap berbagai fasilitas di Arab Saudi.
Harga minyak acuan dunia mengalami tren kenaikan untuk pekan kedua selama berturut-turut. Hal ini terjadi seiring meningkatnya risiko pasokan dari Timur Tengah yang mengimbangi pelepasan cadangan
Harga minyak dunia terus menguat akibat meningkatnya serangan di Rusia dan Timur Tengah yang mengancam pasokan, dengan Brent mencapai US$106 per barel.
Harga minyak acuan dunia turun tipis setelah mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran meluasnya perang di Timur Tengah.
Harga minyak Brent turun 0,8% menjadi US$ 103,43 per barel pada pukul 09.41 waktu Singapura. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,7% menjadi US$ 90,81 per barel.
Harga minyak dunia naik menyusul eskalasi serangan Iran terhadap kapal di Selat Hormuz, yang membuat pedagang khawatir akan kelancaran pasokan energi global.
Berbeda dari era 1979, gejolak harga minyak dunia akibat ketegangan di Selat Hormuz kini menjadi beban baru bagi ekonomi Indonesia yang telah berubah menjadi importir energi.
Harga minyak acuan dunia turun 2% pada Selasa (6/10). Penurunan itu disebabkan meningkatnya ekspor minyak dari Teluk Persia dan pemangkasan harga oleh Arab Saudi.
Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan bahan bakar pesawat (Avtur) tak berubah per Oktober 2026. PT Pertamina (Persero) pun mengungkapkan alasan yang mendasarinya.