Harga minyak kontrak berjangka minyak mentah Brent turun US$ 7,24, atau hampir 7%, menjadi US$ 96,30 per barel pada perdagangan kemarin di tengah harapan damai Iran-AS.
Wall Street cetak rekor penutupan baru dengan Dow Jones tembus 50.285,66 poin meski harga minyak dunia mengalami pelemahan dan pasar waspadai konflik Timur Tengah.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan kenaikan harga minyak mentah utama di pasar internasional pada April 2026 dipengaruhi oleh tensi di Timur Tengah.
Harga minyak dunia turun setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan serangan ke Iran atas permintaan sekutu dan adanya proposal perdamaian dari Teheran.
Wall Street ditutup bervariasi, dengan tekanan pada saham teknologi akibat kekhawatiran kapasitas cip dan sentimen geopolitik Timur Tengah yang mengerek harga minyak.
Dengan kondisi harga minyak dunia yang bertahan di level tinggi, Purbaya memutuskan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak dengan cara mengalihkannya pada kendaraan listrik.
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (12/5) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump Menyebut kondisi gencatan senjata dengan Iran berada dalam situasi kritis.
Ketegangan di Selat Hormuz dorong harga minyak dan biaya produksi plastik, berdampak pada industri hingga ritel dan berujung pada kenaikan harga barang konsumen di Indonesia.
Harga minyak Brent turun 0,6% menjadi US$ 113,74 per barel, sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,5% menjadi US$ 104,85 per barel.