Ketegangan di Selat Hormuz mendorong harga minyak dunia dan berisiko membebani APBN Indonesia, memperlihatkan kerentanan serta pentingnya kedaulatan energi nasional.
Harga minyak acuan dunia naik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam Iran akan menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur lainnya.
Harga minyak naik hampir 7% usai Presiden Donald Trump menyebut Amerika Serikat akan terus menyerang Iran tanpa menyebut batas waktu untuk mengakhiri perang.
Defisit APBN akan terjadi apabila konflik di Timur Tengah berlangsung selama 3-5 bulan. Defisit anggaran diperkirakan akan bertambah sekitar 51,5 triliun, sehingga defisit menjadi 2,88% dari 2,68%.
Pemerintah melaporkan defisit APBN sebesar 135 triliun rupiah atau sekitar 0,53% dari GDP setelah dua bulan berjalan, dengan pendapatan negara hanya 358 triliun rupiah dan belanja mencapai 493 triliun
Pemerintah melaporkan defisit APBN sebesar 135 triliun rupiah atau sekitar 0,53% dari GDP setelah dua bulan berjalan, dengan pendapatan negara hanya 358 triliun rupiah dan belanja mencapai 493 triliun
Konfilk geopolitik antara Israel dan Iran pada tahun 2026 telah menyebabkan kenaikan harga minyak, namun polanya mirip dengan perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022.
Gejolak geopolitik di sekitar Selat Hormuz mengancam stabilitas energi global, yang berdampak pada komposisi dan keamanan pasokan minyak mentah serta olahan Indonesia.
Konflik geopolitik di Timur Tengah mengguncang stabilitas pasokan dan harga energi global, mengancam pertumbuhan ekonomi serta pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).