Melemahnya Rupiah dan tekanan ekonomi sering dilihat negatif, namun sejarah dunia menunjukkan hal itu bisa memicu transformasi industri dan lompatan produktivitas.
Analis Doo Financial, Lukman Leong menyatakan, pelemahan rupiah dipicu oleh ketidakpastian proses perdamaian di kawasan Timur Tengah yang kembali memunculkan kekhawatiran investor global.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh persepsi pasar terhadap disiplin fiskal, isu MSCI, hingga outlook negatif di sektor perbankan.
Nilai Tukar Rupiah diprediksi kembali melemah akibat sentimen kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS yang dipicu ketegangan geopolitik Timur Tengah, sehingga menguatkan Dolar AS.
Nilai Tukar Rupiah diproyeksikan menguat terbatas terhadap Dolar AS didorong sentimen positif dari kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi yang dinilai meringankan beban APBN.
Nilai Tukar Rupiah berpotensi melemah hari ini akibat tekanan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, menyusul ancaman Donald Trump terkait Selat Hormuz.
Nilai tukar mata uang tak bergerak secara acak. Di baliknya ada pasar forex yang beroperasi 24 jam, mempertemukan permintaan dan penawaran global yang menentukan harga uang setiap hari.
Rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS hari ini, didorong oleh perbaikan sentimen pasar meskipun terdapat kecemasan geopolitik antara Cina dan Jepang dan kebijakan suku bunga The Fed.
Nilai tukar rupiah menguat sebesar 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.618 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.621 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa (28/10).