Pelemahan Rupiah tidak selalu negatif, yang terpenting adalah kepercayaan terhadap daya beli dan stabilitasnya dalam jangka panjang menurut teori impossible trinity.
Rupiah melemah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu (8/7), dibuka di Rp 17.987 dan terpantau melemah hingga ke level Rp 17.994 per dolar AS.
Rupiah menunjukkan perbaikan setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas, didukung respons positif investor dan masuknya dana asing.
Melemahnya Rupiah dan tekanan ekonomi sering dilihat negatif, namun sejarah dunia menunjukkan hal itu bisa memicu transformasi industri dan lompatan produktivitas.
Analis Doo Financial, Lukman Leong menyatakan, pelemahan rupiah dipicu oleh ketidakpastian proses perdamaian di kawasan Timur Tengah yang kembali memunculkan kekhawatiran investor global.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh persepsi pasar terhadap disiplin fiskal, isu MSCI, hingga outlook negatif di sektor perbankan.
Nilai Tukar Rupiah diprediksi kembali melemah akibat sentimen kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS yang dipicu ketegangan geopolitik Timur Tengah, sehingga menguatkan Dolar AS.
Nilai Tukar Rupiah diproyeksikan menguat terbatas terhadap Dolar AS didorong sentimen positif dari kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi yang dinilai meringankan beban APBN.
Nilai Tukar Rupiah berpotensi melemah hari ini akibat tekanan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, menyusul ancaman Donald Trump terkait Selat Hormuz.
Nilai tukar mata uang tak bergerak secara acak. Di baliknya ada pasar forex yang beroperasi 24 jam, mempertemukan permintaan dan penawaran global yang menentukan harga uang setiap hari.