Jalur Cepat Bernuansa Politik Jenderal Pilihan Jokowi

Penulis: Amal Ihsan Hadian

Editor: Yura Syahrul

Jum'at 23/11/2018, 09.59 WIB

Laju karir Andika Perkasa yang melesat sebagai Kasad, dengan melangkahi banyak seniornya, mengundang dugaan kepentingan politik lebih mendominasi.

soldier toys
123RF.com

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengangkat Letnan Jenderal (Letjen) Andika Perkasa sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad). Laju karirnya yang melesat meraih posisi jenderal bintang empat, dengan melangkahi banyak seniornya, mengundang dugaan kepentingan politik lebih mendominasi alasan penunjukannya.

Kamis (22/11), lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 97 Tahun 218 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kasad, Jokowi resmi melantik Andika sebagai orang nomor satu di TNI Angkatan Darat (AD) di Istana Negara. Diiringi lagu "Bagimu Negeri", Jokowi mencopot pangkat Letjen Andika dan memasang pangkat bintang empat di pundaknya.

Jokowi mengaku, ada empat letjen yang diusulkan menjadi Kasad pengganti Jenderal Mulyono. Ia memutuskan untuk memilih Andika karena menilainya sebagai sosok yang komplit. Ini karena menantu Letjen (Purn) A.M. Hendropriyono tersebut sudah pernah menduduki berbagai posisi militer penting, antara lain Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dan Panglima Komando Strategis AD (Kostrad).

Melihat perjalanan karir Andika, lingkup penugasannya memang beragam, meski tak ada yang istimewa. Lulus dari Akademi Militer (Akmil) pada 1987, lelaki kelahiran Bandung tersebut langsung bergabung dengan satuan elit Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Dia memulai karirnya sebagai komandan peleton hingga menjadi komandan detasemen.

Setelah lulus dari Sekolah Staf dan Komando TNI AD (Seskoad), ia mulai bertugas sebagai perwira staf di Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan, Departemen Pertahanan. Sempat kembali ke Kopassus pada 2002, namun hanya sebentar. Di tahun yang sama, dia dimutasi ke Komando Resor Militer (Korem) 051/WKT Komando Daerah Militer (Kodam) Jakarta Raya (Jaya).

Posisi ini juga dijalaninya sebentar karena tak lama dia dimutasi ke Direktorat A Badan Intelijen Strategis (BAIS), organisasi intelijen TNI. Meski cukup lama bertugas di lembaga telik sandi tersebut, waktunya lebih banyak dihabiskan di luar negeri, khususnya di Amerika Serikat (AS), sebagai mahasiswa.

Andika menyelesaikan studi tingkat masternya pertama di Norwich University, universitas militer swasta tertua di AS. Selanjutnya, ia belajar di National War College (NWC) AS. Tak puas, dia juga belajar di Trachtenberg School of Public Policy and Public Administration, George Washington University.

(Baca: Dianggap Komplet, Jokowi Pilih Andika Perkasa jadi KSAD)

Setelah menyelesaikan studi, ia kembali bertugas di Resimen Induk Kodam (Rindam) Jaya. Setahun kemudian, suami Diah Erwiany ini diangkat menjadi komandan Korem 023/Kawal Samudera di Sibolga, Sumatera Utara. Kembali, hanya berselang setahun, ia ditarik ke Mabes TNI AD sebagai Kepala Dinas Penerangan (Kadispenad). Di jabatan ini, ia mendapat bintang pertama di pundaknya.

Karirnya makin bersinar setelah Jokowi terpilih sebagai Presiden RI di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Hanya sebelas bulan menjadi Kadispenad, Jokowi menunjuknya sebagai Komandan Paspampres, jabatan bintang dua. Belum genap dua tahun menjadi Danpaspampres, ia kemudian diangkat menjadi Pangdam XII/Tanjungpura.

Kembali, belum genap dua tahun, ia dipromosikan menjadi Letnan Jenderal sebagai Komandan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan (Kodiklat) TNI AD. Pertengahan tahun ini, ia diangkat menjadi Panglima Kostrad menggantikan Letjen Agus Kriswanto, yang pensiun.

Hanya lima bulan menjabat sebagai Pangkostrad, ayah satu orang putra ini memperoleh pangkat bintang empat sebagai pemimpin TNI AD. Artinya, dalam satu tahun, Andika mendapat tiga kali promosi jabatan dan dua kali kenaikan pangkat. Karirnya yang melesat seperti meteor itu jelas mengundang pertanyaan.

KSAD Andika Perkasa
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang baru Jenderal TNI Andika Perkasa (tengah) melakukan salam komando dengan Dankormar Mayjen TNI (Mar) Bambang Suswantono (kiri) dan Danpaspampres Mayjen TNI Suhartono seusai pelantikan oleh Presiden Joko WIdodo di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (22/11/2018). Presiden melantik Jenderal TNI Andika Perkasa menjadi KSAD menggantikan Jenderal TNI Mulyono yang akan memasuki masa pensiun. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
 

Direktur Riset Setara Institute Halili termasuk yang bingung atas terpilihnya Andika. Maklum, rekam jejak dinas kemiliterannya sesungguhnya juga diwarnai kontroversi karena namanya pernah disebut-sebut dalam kasus pembunuhan tokoh dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Papua, Theys Hiyo Eluay pada 2001.

Theys adalah ketua Presidum Dewan Papua (PDP), sebuah lembaga yang dibentuk oleh Presiden Abdurrahman Wahid ketika itu untuk mempersiapkan otonomi khusus bagi Papua. Theys dibunuh setelah menghadiri undangan peringatan Hari Pahlawan di markas Kopassus. Empat perwira dan tiga prajurit Kopassus diadili karena kasus ini.

Koran berbahasa Inggris The Jakarta Post edisi 27 Juli 2002 yang pertama mengungkapkan kemungkinan keterlibatannya dari sebuah surat yang dikirim oleh ayah salah seorang terdakwa dalam kasus pembunuhan Theys. Sang ayah yang juga seorang purnawirawan itu mengirim surat kepada Kasad ketika itu, Jenderal Ryamizard Ryacudu, yang mengungkap cerita mengapa anaknya tidak bersalah.

(Baca: Manuver Konsolidasi Panglima Hadi menyambut Tahun Politik)

Adapun Direktur Imparsial Al Araf termasuk yang mempertanyakan terpilihnya Andika yang lebih muda dibanding kandidat lainnya. Sebab, ia mencatat ada 10 perwira tinggi aktif yang juga potensial terpilih sebagai Kasad, baik dari perwira yang lebih senior dari Andika yakni alumni Akmil angkatan 1984, 1985, dan 1986, serta dari sesama angkatan 1987.

Mereka antara lain Letjen Agus Surya Bakti (Angkatan 1984/Sekretaris Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan), Letjen Doni Monardo (1985/Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional), Letjen Tatang Sulaiman (1986/Wakil Kasad), dan Letjen Anton Mukti Putranto (1987/Dankodiklat TNI AD).

Menurut Al Araf, Jokowi seharusnya mempertimbangkan angkatan yang lebih senior untuk dipilih menggantikan Mulyono untuk menjaga iklim dinamika regenerasi di tubuh TNI AD. Pilihan yang melompati beberapa angkatan sekaligus tersebut, selain bisa merusak iklim di TNI, juga bisa mengundang kecurigaan adanya kepentingan politik dalam pengangkatannya.

Hendropriyono, mertua Andika, merupakan salah satu tokoh yang punya kontribusi besar terhadap terpilihnya Jokowi di Pilpres 2014. Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) tersebut juga sempat memimpin Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), salah satu partai penyokong Jokowi di Pilpres yang lalu dan tahun depan.

Mantan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar termasuk yang menilai, relasi politik lebih berperan dalam terpilihnya Andika sebagai Kasad. Ia mengkhawatirkan militer akan kembali digiring untuk melindungi kepentingan rezim. "Kita ingat bagaimana Orde Baru dulu mengandalkan tentara. Janganlah TNI dikorban untuk politik praktis lagi," katanya.

Deputi Direktur Riset Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Wahyudi Djafar menilai, figur Kasad yang netral menjadi penting karena Angkatan Darat merupakan instrumen yang paling strategis untuk digunakan mendapatkan suara. Ini lantaran TNI AS memiliki struktur komando teritorial yang paling lengkap sampai ke desa-desa.

Meski pemerintah selalu melempar jargon netral, Wahyudi mengatakan, pengalaman dari pelaksanaan Pemilu di masa lalu sudah menunjukkan bagaimana komando teritorial juga bisa digunakan untuk kepentingan politik tertentu.

Andika sendiri tak ambil pusing dengan nada miring terkait pengangkatannya. Ia menegaskan, TNI AD akan tetap netral dalam Pemilu dan Pilpres tahun depan. Ia juga mempersilakan jika ada aktivis HAM yang mau kembali menginvestigasi keterlibatan dirinya dalam kasus Theys. "Monggo saja, mau ngomong apa juga. Saya begini saja kok dari dulu. Enggak ada yang akan saya komentari lagi," ujarnya.

(Baca: Jalur Cepat Panglima TNI Pilihan Jokowi)

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha