Permainan Harga yang Membuat Peternak Ayam Merugi

Penulis: Safrezi Fitra

Editor: Safrezi Fitra

2/7/2019, 12.36 WIB

Kementerian Pertanian menilai ada mafia ayam yang mempermainkan harga di tingkat peternak.

Telur
KATADATA | Ajeng Dinar Ulfiana

 Mafia Permainkan Harga Ayam

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan ada disparitas harga dari peternak ke konsumen hingga 400 persen. Disparitas yang sangat tinggi ini menunjukkan hal yang tidak wajar. Dia mengaku telah menurunkan Satgas Pangan di seluruh sentra industri untuk menyelidiki anjloknya harga daging ayam. Beberapa daerah yang diselidiki di antaranya Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung.

Berdasarkan laporan sementara yang diterimanya, ada sebagian oknum yang mempermainkan harga. "Ada broker, dan kami akan tindak tegas nanti. Mudah-mudahan dalam waktu singkat bisa normal, itu target kami," ujarnya di Surabaya, Jumat (28/6).

(Baca: Harga Ayam Anjlok, Mentan: Setelah Mafia Beras, Mafia Ayam Kami Sikat)

Menurutnya, ada yang salah dalam mata rantai distribusi, termasuk proses yang sangat panjang dan menyebabkan disparitas harga ayam potong. "Seperti halnya para mafia pangan lainnya, bawang putih, beras, dan bawang bombay. Kami akan menindak tegas para broker yang mempermainkan harga ayam potong ini," ujarnya. Dia menyebut, saat ini sudah ada 400 mafia pangan yang ditetapkan sebagai tersangka dan ada 782 perusahaan yang sedang menjalani proses hukum.

Ketut Diarmita pun mengungkapkan hal yang sama. Dia menengarai ada oknum yang mempermainkan harga ayam, sehingga anjlok di tingkat peternak. Menurutnya anjloknya harga ayam merupakan kejahatan ekonomi. Ia minta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) segera melakukan intervensi.

"Analisa saya, kalau dari peternak harga Rp 8 ribu, sedangkan di pasar basah Rp 22 ribu. Di Jakarta malah Rp 30 ribu - Rp 45 ribu per kg. Di mana teori berlebihnya, kalau pasar belum menikmati harga murah. Siapa yang beruntung dengan disparitas harga yang jauh begini?" kata Ketut.

(Baca: KPPU Menduga Anjloknya Harga Ayam Akibat Pelanggaran "Middle Man”)

Kebijakan impor ayam pun menjadi salah satu penyebab berlebihnya pasokan bibit dan daging ayam. Berdasarkan catatan Kementan, kelebihan pasokan bibit anak ayam DOC mencapai 1,5 juta ekor per hari. Suplai daging ayam ras pada 2018 mencapai 3,64 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan daging ayam ras rata-rata hanya 3,25 juta ton per tahun.

Upaya Menyelamatkan Peternak Ayam

Pemerintah berencana mengkaji ulang pengajuan impor DOC perusahaan peternakan terintegrasi (integrator). Pengkajian ulang perlu dilakukan agar lebih teliti lagi dalam menghitung kebutuhan dan suplai ayam. Untuk diketahui, integrator mendapatkan Surat Persetujuan Impor (SPI) yang diterbitkan Kementerian Perdagangan, berdasarkan rekomendasi dari Kementan.

“Sebelum ada impor, harusnya integrator mengajukan analisa kebutuhan perusahaannya. Sehingga ketika ada kondisi seperti oversupply begini, pemerintah tidak disalahkan,” kata Ketut Diarmita, di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (1/7).

(Baca: Harga Ayam Anjlok, Mentan Kembali Menduga Ada Peran Tengkulak Nakal)

Upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah memotong ayam hidup (parent stock/PS) broiler yang berumur di atas 68 minggu. Pemotongan dilakukan oleh seluruh pembibit PS ayam ras broiler selama dua pekan, dari 26 Juni sampai 9 Juli 2019. Langkah ini juga diikuti Pakta Integritas antara pemerintah dengan perusahaan pembibit PS ayam ras broiler tersebut.

Kementan juga meminta pelaku usaha perunggasan meningkatkan kapasitas pemotongan di Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) sampai 30 persen dari jumlah produksi live bird internal. Hal ini sesuai ketentuan Pasal 12 Ayat (1) Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi. Kemudian mewajibkan pelaku usaha yang memiliki live bird di atas 300 ribu ekor per minggu memiliki RPHU dan cold storage untuk menampung karkas mereka sendiri.

Ayam Broiler
Ayam Broiler (Katadata)

 

Untuk membantu menaikkan harga, Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menyerap pasokan daging ayam langsung dari peternak. Ayam-ayam ini akan dijual melalui bazar di lingkungan Kemendag dengan harga Rp 32 ribu per kg.

"Kemendag mengimbau kementerian dan instansi lain untuk turut menyerap pasokan daging ayam ras potong dari peternak," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Tjahya Widayanti lewat keterangannya, Senin (1/7).

(Baca: BUMN Belum Diminta Serap Ayam untuk Atasi Anjloknya Harga)

Kemendag juga meminta Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) melakulan hal yang sama sesuai harga acuan pembelian di peternak yang ditetapkan dalam Permendag 96 Tahun 2018. Dalam hal ini Aprindo dapat berkoordinasi dengan Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin).

Dengan serangkaian upaya yang dilakukan, Kementan mengklaim saat ini harga ayam di tingkat peternak sudah mulai merangkak naik. Ketut Diarmita harga ayam peternak di sejumlah wilayah berkisar Rp 15 ribu-Rp 18 ribu per kg. Kenaikan harga hampir di semua wilayah sentra meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Lampung. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan harga naik, salah satunya pengurangan bibit ayam DOC dan final stock (FS) oleh integrator.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha