Perang Urat Syaraf Buntut Lobi Mega - Prabowo dan Manuver Surya Paloh

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Hari Widowati

26/7/2019, 11.07 WIB

Pertemuan Megawati dan Prabowo Subianto menjadi sinyal PDIP akan menggandeng Gerindra. Surya Paloh ingin menaikkan posisi tawarnya di kabinet Jokowi.

Telaah Megawati vs Surya Paloh
123RF.com/Lightwise
Persaingan Megawati vs Surya Paloh menjelang pembentukan kabinet Jokowi periode kedua.

Pertemuan politik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto diikuti pertemuan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Kedua momen itu seolah menunjukkan perang urat syaraf antara PDIP dan Partai Nasdem menjelang pembentukan kabinet baru Presiden Joko Widodo atau Jokowi

Bersuanya Prabowo dan Megawati, yang diselingi makan siang dengan menu nasi goreng Jawa buatan Megawati, itu awalnya membahas silaturahmi kedua tokoh usai kontestasi politik April lalu. Namun pembicaraan juga sempat menyinggung koalisi antara kubu Prabowo dan Jokowi.

Meski demikian, keputusan mengenai kelanjutan koalisi ini berada dalam genggaman Jokowi. "Karena pada beliaulah hak prerogatif itu ada, bukan pada saya. Kalau usul dan saran, saya bisa sampaikan,” kata Megawati, di Jalan Teuku Umar, Jakarta, Rabu (24/7).

Prabowo merasa terhormat atas undangan Megawati apalagi ia mengaku sudah memiliki hubungan kekerabatan yang cukup erat dengan putri Presiden Soekarno tersebut. Mantan Danjen Kopassus ini mengatakan perjalanan politiknya membuat adanya perbedaan pandangan, namun persahabatan akan tetap terjalin. "Kalau ada perbedaan, itu biasa," kata Prabowo.

Bukan hanya makan siang bersama, keduanya bersepakat menindaklanjuti pertemuan tersebut. Megawati mengundang Prabowo ke Kongres PDIP yang digelar Agustus mendatang. Sebaliknya, Prabowo menyampaikan ajakan agar Mega  menginjakkan kaki di kediamannya. "Kami juga menunggu Ibu jalan-jalan ke Hambalang,” kata dia.

(Baca: Politik Nasi Goreng ala Megawati Luluhkan Hati Prabowo)

Makan siang bersama Megawati dan Prabowo
Makan siang bersama Megawati dan Prabowo (Dok. PDIP)

 

Manuver Surya Paloh untuk Pemilu 2024 

Hangatnya aura politik bukan hanya di Teuku Umar. Pada hari yang sama, Surya Paloh mengundang Anies Baswedan ke kantor Nasdem di Gondangdia, Jakarta Pusat, tak jauh dari kediaman Mega. Sebelumnya, Ketua Umum Partai Nasdem ini menggelar pertemuan dengan elite partai koalisi Joko Widodo - Ma'ruf Amin. Mereka yaitu Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, hingga Plt Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa.

Pertemuan Paloh dan Anies awalnya berbicara tentang perkembangan Provinsi DKI Jakarta. Pemilik Media Group itu mengatakan Nasdem mendukung Anies dalam menjalankan roda pemerintahan Ibu Kota. Meski demikian, Paloh lantas berbicara mengenai peta politik lima tahun ke depan terkait Pemilihan Umum 2024.

Ia menyatakan Anies berpotensi didorong sebagai calon presiden meski semua kembali pada mantan menteri pendidikan dan kebudayaan tersebut. “Niatnya sudah pasti ada, dan semua niat baik harus terjaga," kata dia.

(Baca: Usai Bertemu 4 Parpol, Surya Paloh Bahas Pilpres 2024 dengan Anies)

Surya Paloh dan Anies Baswedan
Surya Paloh dan Anies Baswedan (ANTARA FOTO/Fauzi Lamboka)


Anies enggan berkomentar terlalu banyak mengenai pertemuan tersebut. "(Hanya) berbicara tentang (pemerintahan) Jakarta," kata Anies dikutip dari Kompas.com.

Tentu hal ini menimbulkan tanda tanya, apalagi dalam pertemuan Surya Paloh dengan koalisi, tidak ada elit PDIP yang hadir. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, PDIP belum berpikir jauh hingga 2024 mengingat Jokowi baru menyiapkan pemerintahan periode keduanya. "Itu dari Pak Surya, kalau kami boro-boro berpikir 2024," kata Hasto.

(Baca: Manuver Elite Politik saat Jokowi Menyusun Kabinet Baru)

Perang Urat Syaraf Paloh dan Penegasan Posisi Mega

Pengamat menyebut nuansa perang urat syaraf (psywar) terasa dalam pertemuan Paloh-Anies. Apalagi jika Gerindra masuk koalisi dan menjadi partai terbesar kedua, otomatis akan mereposisi Nasdem yang merupakan partai terbesar kelima dalam pemerintahan mendatang.

"Dengan manuver ini berarti ketum Nasdem memberi psywar atau memberi uppercut," kata Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar kepada Katadata.co.id, Kamis (25/7).

Bukan tanpa sebab Paloh berani bermanuver seperti ini. Perolehan suara Nasdem serta pengaruh Paloh terhadap pemerintahan Jokowi-Kalla menjadi bekal dalam beraksi. Cara ini akan digunakan untuk menawar posisi penting seperti Kabinet hingga pimpinan Dewan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

“Tanpa menutup peluang lain kerja sama politik dalam Pilkada 2020 dan Pilpres 2024,” kata Analis Politik Exposit Strategic Arif Susanto kepada Katadata.co.id.



Di sisi lain, Megawati seperti memberi sinyal bahwa perannya dalam konfigurasi politik dan pembentukan pemerintahan Jokowi-Ma'ruf sangat vital. Apalagi saat kemenangan Jokowi-Jusuf Kalla empat tahun lalu, ia seakan tersingkir dalam mengunci dominasi politik. "Momen ini tentunya akan dijaga oleh Megawati dengan mengajak Prabowo dan Gerindra untuk memberi perimbangan politik," kata Arif.

Dampak perang urat syaraf antara Megawati dan Paloh juga dirasakan Prabowo serta Anies. Pertemuan kemarin merupakan tanda bahwa Prabowo menjaga peluang Gerindra mendapat kue kekuasaan. Selain itu, namanya juga akan tetap menjadi bagian penting dalam menentukan konfigurasi politik Indonesia. "Prabowo menemukan pijakan baru melalui kedekatannya dengan Megawati untuk memulihkan pengaruh politiknya," kata Arif.

Adapun Anies juga mendapat berkah karena berpotensi mendapatkan kendaraan politik besar lewat Nasdem. Rully mengatakan, dengan menggandeng Anies, bisa jadi Nasdem sedang mencari pasar politik yang lebih luas dari saat ini. "Di sisi lain, Anies juga sedang memegang jabatan strategis di DKI Jakarta," kata Rully.

Muara dari manuver-manuver ini tentu saja berada di tangan Jokowi. Menurut Rully, Jokowi dihadapkan pada dua pilihan: memperbesar koalisi tetapi dianggap tidak demokratis atau membiarkan ada oposisi yang akan mengkritisi kebijakannya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa apapun keputusan Jokowi, akan selalu muncul barisan sakit hati dari pihak-pihak yang tidak kebagian jatah kekuasaan.

"Biasanya yang sakit hati sudah dapat bensin (logistik) dan dapat kendaraan politik. Apalagi 2024 tidak ada inkumben sehingga akan sikut-sikutan mulai tahun ketiga (pemerintahan kedua Jokowi)," katanya.

Meski demikian, PDIP dan Nasdem mencoba menepis keretakan hubungan antara Megawati dan Surya Paloh. Megawati disebut sedang berada di luar Jakarta ketika pertemuan Paloh dengan para ketum koalisi dilakukan. Sang Ketum juga disebut anak buahnya akan menggelar pertemuan dengan internal Koalisi Indonesia Kerja tidak lama lagi.  "Dalam waktu dekat ketua umum seluruh anggota Koalisi Indonesia Kerja akan diundang beliau," kata Bendahara PDIP Eriko Sotarduga.

Sekretaris Jenderal Nasdem Johnny G. Plate membantah adanya hubungan yang surut antara kedua tokoh usai Pilpres 2019. Johny mengatakan, saat ini Megawati dan Paloh memang belum sempat bertemu karena kesibukan internal masing-masing. "Kami menyiapkan kongres November, PDIP juga sedang menyiapkan kongres," katanya.

(Baca: TKN Jokowi-Ma’ruf Dibubarkan Sore Ini)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha