Ketatnya Persaingan di Balik Penolakan Gojek di Malaysia

Penulis: Safrezi Fitra

5/9/2019, 17.47 WIB

Peta persaingan bisnis transportasi online di Malaysia cukup ketat. Saat ini ada 31 perusahaan yang bersaing di negara tersebut.

Demo gojek
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Sejumlah driver Gojek melangsungkan aksi demo di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta Pusat (3/9). Para driver protes terhadap pernyataan bos Big Blue Taxi, perusahaan taksi Malaysia.

Penolakan rencana ekspansi Gojek ke Malaysia berbuntut panjang. Ratusan pengemudi ojek online kembali menyambangi Kantor Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, Selasa (3/9). Mereka menuntut Kedubes Malaysia membawa Bos Taksi Big Blue Shamsubahrin Ismail ke Jakarta untuk meminta maaf secara langsung, atas pernyataannya yang dinilai telah menyinggung perasaan rakyat Indonesia.

Masalah ini bermula dari rencana perusahaan transportasi online Indonesia, Gojek, yang ingin ekspansi ke Malaysia. Rencana ini mendapat penolakan dari pengusaha taksi online Malaysia. Shamsubahrin keberatan dengan rencana Gojek masuk ke Malaysia.

Dia siap mengajukan protes jika pemerintah Malaysia tetap mengizinkan Gojek hadir di negaranya. Bahkan, dia mengatakan Gojek adalah transportasi untuk negara miskin seperti Indonesia. "Gojek sebagai perusahaan transportasi tidak akan menjamin masa depan yang menjanjikan, anak muda Malaysia pantas mendapatkan yang lebih baik dari itu," katanya dikutip dari Free Malaysia Today, (21/8). 

(Baca: Bos Taksi Malaysia Berulah Lagi, Ratusan Ojek Online Demo di Kedubes)

Dia menganggap budaya Indonesia dan Malaysia berbeda. Di Indonesia perempuan dapat memeluk pengendara ojek yang kebanyakan laki-laki. “Gojek bisa diterapkan di Indonesia karena tingkat kemiskinannya sangat tinggi, tidak seperti di Malaysia,” ujarnya.

Video pernyataan Shamsubahrin ini pun viral di media sosial dan memicu kemarahan masrakat Indonesia, terutama pengemudi ojek online. Mereka mengancam akan menurunkan 10 ribu masa untuk mengepung Kedutaan Besar Malaysia, jika Shamsubahrin tidak mengklarifikasi pernyataannya.

Sebenarnya permasalahan ini sudah selesai. Beberapa hari sebelumnya, perwakilan asosiasi ojek online telah bertemu dengan pihak kedutaan Malaysia. Ketua Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Igun Wicaksono mengatakan dalam pertemuan tersebut dia menyerahkan surat terbuka mengenai pernyataan sikap mereka terkait pernyataan Shamsubahrin Ismail.

Igun menyatakan persoalan dengan Shamsubahrin Ismail telah selesai. "Jadi, kami sudah menutup kasus ini. Semoga ke depan tidak akan ada lagi aksi atau apa pun," ujarnya di Kantor Kedutaan Besar Malaysia, Jakarta, Jumat (30/8).

Dalam pertemuan tersebut, para pengemudi ojek online menyambut baik tanggapan dari pihak Kedubes Malaysia yang mengaku menyesalkan pernyataan Shamsubahrin. Tak hanya dari Gojek, perwakilan driver Grab juga ikut datang ke Kedubes Malaysia. Mayoritas dari mereka merupakan perwakilan ojek online di wilayah Jabodetabek.

(Baca: Akan Didatangi Ratusan Ojek Online, Dubes Malaysia Tanggapi Soal Gojek)

Dia juga mengungkapkan awalnya para pengemudi ojek online akan menggelar aksi di depan kantor Kedubes Malaysia pada Selasa (3/9). Karena sudah ada pernyataan maaf dari Shamsubahrin, mereka akhir datang lebih awal.

Akibat pernyataannya, Shamsubahrin mengaku banyak mendapat pesan singkat langsung di ponselnya dari rakyat Indonesia. "Saya memohon maaf atas kesalahan saya melabelkan Indonesia sebagai orang miskin," katanya.

Dia mengatakan rakyat Indonesia miskin berdasarkan laporan-laporan dari Indonesia sendiri yang sudah tersebar di seluruh dunia. Pernyataan tersebut dilontarkan sembari menunjukkan salinan artikel media asal Singapura, The Straits Times bergambar Prabowo Subianto.

Straits Times memberikan judul artikel tersebut "Prabowo Subianto vows to lift poor out of poverty as he sets out vision." Jika diartikan, Prabowo Subianto berjanji akan membebaskan orang miskin dari kemiskinan. Artikel ini ditayangkan dalam situs Straits Times pada 16 Januari 2019. Saat itu, Prabowo menjadi peserta Pemilihan Presiden 2019, menyampaikan misinya.

Karena banyak orang Indonesia yang tidak terima dikatakan miskin, Shamsubahrin akhirnya menganggap bahwa pernyataan Prabowo dalam artikel tersebut tidak benar. “Saya selaku pengasas Big Blue Taxi di Malaysia, mohon maaf kepada rakyat Indonesia atas pernyataan saya. Saya telah memahami bahwa mereka tidak miskin," ujarnya.

Namun, masalahnya belum selesai. Setelah meminta maaf, Shamsubahrin kembali membuat masalah baru. Dalam video yang berbeda, dia mengatakan rakyat Indonesia tidak salah jika dikatakan miskin. Yang seharusnya disalahkan adalah pemerintah Indonesia, karena membiarkan anak mudanya bergabung dengan Gojek.

"Pemerintah di Malaysia mengikuti kesalahan yang dilakukan pemerintah Indonesia. Kenapa kami harus membiarkan anak muda kami di Malaysia bekerja tanpa gaji tetap, dengan membawa Gojek," ujarnya. (Baca: Ojol Bakal Demo Lagi Jika Bos Taksi Malaysia Tak Penuhi Tuntutan Ini)

Pernyataan ini malah menambah kemarahan pengemudi ojek online dan pemerintah Indonesia. Para driver yang sebelumnya telah mengurungkan niat berdemonstrasi, malah kembali mendatangi Kedubes Malaysia dengan jumlah masa yang besar. Sekitar 500 orang pengemudi ojek online berunjuk rasa di kantor perwakilan negara tersebut.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun sampai angkat bicara mengenai hal ini. Dia mengatakan pernyataan tersebut tidak pantas dilontarkan. "Kemenhub sudah menyampaikan keberatan ke Kementerian Transportasi Malaysia," kata Budi seperti dikutip Detik.com, Senin (2/9).

Persaingan Transportasi Online di Malaysia Ketat

Pemerintah menyadari pernyataan Datuk Shamsubahrin Ismail yang dianggap telah menghina Indonesia merupakan pernyataan pribadi. Bukan bentuk sikap resmi Kerajaan Malaysia.

Kementerian Perhubungan menilai penolakan Gojek ekspansi ke Malaysia oleh pemilik taksi Big Blue karena kekhawatiran akan persaingan bisnis yang semakin ketat di negaranya. “Sebetulnya itu adalah ketakutan dia sendiri sebagai pengusaha, takut tersaingi," ujar Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi di Jakarta, Senin (2/9).

Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara mengatakan persaingan perusahaan antarnegara harus adil. "Perusahaan Malaysia saja boleh masuk ke Indonesia masak (perusahaan) Indonesia tidak boleh masuk ke Malaysia," kata Rudiantara di Pacific Place, Jakarta, Rabu (28/8).

Dia menyayangkan sikap pengusaha Malaysia yang menutup diri dari Gojek. Padahal, para menteri Malaysia sudah memberikan lampu hijau kepada Gojek untuk ekspansi ke Negeri Jiran. Rudiantara juga menegaskan bahwa Gojek bukan transportasi untuk masyarakat miskin.

(Baca: Didemo Ratusan Ojek Online, Bos Taksi Malaysia Akan Bawa Layanan ke RI)

Kendati demikian, dia memastikan pemerintah tidak akan membalas penolakan masuknya Gojek ke Malaysia dengan menutup operasional Grab. "Kami tidak menutup Grab dari Malaysia, masa kami ditutup? Asia Tenggara itu mengenal satu pasar," katanya.

Peta persaingan transportasi online di Malaysia memang sudah cukup ketat. Awalnya Myteksi (sekarang Grab) dan Uber mempelopori bisnis ini di Malaysia. Namun, kini sudah banyak perusahaan serupa yang bersaing.

Agensi Transportasi Umum Darat (APAD) Kementerian Transportasi Malaysia mencatat ada 31 perusahaan transportasi online yang beroperasi di negaranya, termasuk Grab dan Big Blue. Sementara di Indonesia tidak sampai sepuluh perusahaan dan hanya ada dua yang terbesar, yakni Grab dan Gojek.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha