Rujuk Lagi, Menimbang Untung-Rugi Kerja Sama Garuda-Sriwijaya

Penulis: Sorta Tobing

Editor: Sorta Tobing

4/10/2019, 06.00 WIB

Pasar maskapai penerbangan Indonesia semakin terkonsentrasi menjadi duopoli sejak Garuda menjalin kerja sama manajemen dengan Sriwijaya.

Telaah - Kerja Sama Garuda & Sriwijaya Air
123RF.com/Rikkyal
Kerja sama manajemen antara Garuda Indonesia Group dengan Sriwijaya Air Group berlanjut kembali. Sriwijaya menanggung hutang lebih Rp 2 triliun saat ini. Garuda berkepentingan mempertahankan pangsa pasarnya.

Ketika itu Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan sempat mencatat dari 30 pesawat yang dimiliki Sriwijaya, 18 pesawat langsung kena grounded. Dengan 12 pesawat tersisa, frekuensi penerbangannya pun anjlok dari 120 penerbangan rata-rata per hari menjadi hanya 72 penerbangan.

Kurangnya suku cadang dan ketersediaan mekanik menyebabkan pesawat Sriwijaya Air dan NAM Air terbengkalai. “Belum lagi ada pencopotan logo Garuda di badan pesawat Sriwijaya. Itu juga membuat masyarakat khawatir,” kata Arista.

Namun, di sisi lain Garuda juga berkepentingan mengambil alih operasional Sriwijaya. Pasalnya, sejak kerja sama manajemen berjalan, pangsa pasarnya naik dari 33% menjadi 46%.

Seperti terlihat dari grafik Databoks berikut ini, Garuda menjadi maskapai penerbangan dengan pangsa pasar terbesar kedua di Indonesia. Posisi Lion Air belum terkalahkan sebagai pemimpin pasar.

Di sisi lain, pengambilalihan operasional Sriwijaya tersebut membuat kompetitor di dunia aviasi berkurang. Yang tersisa adalah Garuda dan Lion. Gara-gara itu, Komisi Pengawasan Persaingan Usaha menduga kerja sama manajemen tersebut melanggar aturan persaingan usaha yang sehat.

Komisioner KPPU Guntur Saragih sebelumnya mengatakan KSM merupakan salah satu rangkaian kartel harga tiket pesawat oleh Garuda dan Lion. Pasalnya, kartel tidak akan efektif kalau pelaku usaha lainnya tidak ikut dalam kongkalikong tersebut, dalam hal Sriwijaya dan AirAsia.

Jika tidak ikut menaikkan harga tiket pesawat, maka kemungkinan konsumen akan berpindah ke Sriwijaya dan AirAsia. Namun, Sriwijaya saat ini dikendalikan oleh Garuda Indonesia. Sementara, AirAsia diboikot oleh beberapa travel agen.

Salah satu yang sempat ramai adalah pemboikotan tiket AirAsia di platform Traveloka. “Jadi, sempurna kartelnya. Ke mana konsumen harus beralih? Jadi, ini satu rangkaian dugaan pelanggaran di maskapai,” ucap Guntur pada 11 September lalu.

(Baca: Tiket Mahal, Antara Dugaan Kartel dan Penyelamatan Maskapai)

Herfindhal-Hirschman Index (HHI), indikator konsentrasi pasar maskapai penerbangan, menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 858 poin pada 2018 menjadi 4.624 poin. Pada 2017, nilai HHI maskapai penerbangan Indonesia berada di level 3.766 poin. 

Penambahan nilai HHI ini disebabkan adanya pengambilalihan operasional maskapai Sriwijaya Group oleh Garuda Indonesia Grup. Nilai HHI yang semakin tinggi menunjukkan pasar maskapai Indonesia semakin terkonsentrasi menjadi duopoli.

Menurut Peneliti Indef Nailul Huda, pengambilalihan Sriwijaya telah mengurangi potensi perusahaan penerbangan lainnya untuk bersaing dengan dua maskapai besar lain, yaitu Garuda dan Lion.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha