Fenomena Bank Digital di Indonesia, dari Bank Artos lalu Bank Royal

Penulis: Pingit Aria

29/10/2019, 18.50 WIB

OJK pun mendukung pembentukan bank digital yang lebih efisien karena tak memerlukan kantor fisik.

Edsus Cashless
Arief Kamaludin|KATADATA
Suasana Stan Bank BCA pada Indonesia Banking Expo (IBEX) 2015 di Jakarta, Kamis, (10/09).

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan mengubah PT Bank Royal Indonesia menjadi bank digital. Targetnya, transformasi Bank Royal sebagai bank digital bakal mulai dilaksanakan pada kuartal II-2020 mendatang.

“Bank Royal akan kita proyeksikan sebagai bank digital, saat ini kami masih merampungkan proses akuisisi. Juni 2020 akan mulai trial digital operation,” kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja saat paparan kinerja BCA kuartal III-2019, Senin (28/10) di Jakarta.

BCA mengakuisisi 100% saham Bank Royak pada April 2019 lalu. Dana yang digelontorkan diperkirakan mencapai Rp 1 triliun.

Direktur BCA Vera Eve Lim menambahkan, Bank Royal kelak akan tetap menjadi entitas mandiri, tidak melebur dengan BCA. Namun, bisnis digitalnya dirancang agar terintegrasi. "Tentunya kita mau berkolaborasi juga sehingga ekosistemnya itu lebih bagus," katanya.

Sebelum mengumumkan akuisisi Bank Royal, BCA juga sempat diisukan akan membeli Bank Artos yang juga merencanakan transformasi untuk menjadi bank digital. Namun, Bank Artos mendapat investor lain, yakni Jerry Ng dan Patrick Walujo.

(Baca: BCA Target Pengguna Alipay & WeChat Pay Bisa Transaksi di RI Awal 2020)

Selain itu, untuk mewujudkan rencana transformasinya, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Bank Artos Deddy Triyana mengatakan, perseroan akan menerbitkan 15 miliar saham baru. "Nilai rights issue yang direncanakan sekitar Rp 1,5 triliun sampai Rp 1,6 triliun," kata Deddy di Gedung BEI, Jakarta, Senin (14/10) lalu.

Secara detail, dana hasil rights issue bakal digunakan untuk pengembangan infrastruktur, pengembangan teknologi informasi, dan sumber daya manusia. Dana right issue juga digunakan untuk perbaikan struktur permodalan. Targetnya, Bank Artos bisa naik kelas dari Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU) 1 ke BUKU 2 dengan bisnis model yang baru.

BUKU 1 memiliki modal dasar di bawah Rp 1 triliun. Sedangkan BUKU 2 memiliki modal dasar antara Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun. Per Juni 2019, modal inti Bank Artos baru mencapai Rp 120,6 miliar.

(Baca: Dikabarkan Jadi Bank Gojek, Harga Saham Bank Artos Melejit 1.438%)

Rencananya right issue dilaksanakan setelah proses akuisisi 51% saham Bank Artos oleh Jerry Ng dan Patrick Walujo rampung. Saat ini proses akuisisi 51% Bank Artos dalam tahap permohonan izin ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bank Artos menargetkan persetujuan akuisisi dari OJK bisa terbit pada minggu pertama November 2019. Dengan begitu, penutupan jual beli saham antara pembeli dan penjual bisa rampung pada 12 November 2019.

Jerry Ng yang mengakuisisi 37,65% saham Bank Artos melalui PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) yakin perseroan memiliki banyak peluang untuk memberikan layanan jasa perbankan yang berbeda di masyarakat. "Jika akusisi tersebut terlaksana, Jerry berharap Bank Artos dapat meluncurkan bisnis model baru dan memberikan pilihan dengan layanan berbeda kepada para konsumen," kata Jerry kepada Katadata pada Kamis (3/10).

Dia juga menyebut Bank Artos membuka peluang berkolaborasi dengan berbagai ekosistem teknologi sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat dan kemudahan dari layanan perbankan digital. "Namun demikian, saat ini tidak ada rencana bagi Bank Artos nantinya untuk melakukan kerja sama eksklusif dengan platform teknologi atau ekosistem mana pun," kata Jerry menanggapi rencana kerja sama Bank Artos dengan Gojek.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mendorong pembentukan bank digital alias bank virtual. Apalagi, beberapa negara telah memiliki bank virtual seperti di Singapura dan Hongkong.

(Baca: OJK Pantau Modal Fintech dari Aliran Dana Pencucian Uang)

Bank virtual merupakan institusi keuangan tanpa kantor cabang fisik di mana semua transaksi dilakukan secara daring (online). "Indonesia juga akan menuju ke sana (seperti Hongkong dan Singapura)," ujar Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital OJK Sukarela Batunanggar.

Ia mengungkapkan transformasi digital pada perbankan tidak hanya pada proses bisnis tetapi juga mencakup bisnis model. Untuk itu, bank diharapkan bisa lebih responsif dan inklusif.

Kelahiran bank digital sendiri, kata dia, memiliki dua pola. Pertama, bank yang bertransformasi dari model bisnis, strategi bisnis hingga produknya. Kedua, bank digital yang lahir dari nol sebagai bank digital.

Transformasi ini merupakan konsekuensi dari perubahan tatanan sektor keuangan akibat perkembangan teknologi. "Pola konsumsi sudah berubah jadi kami tidak bisa bertahan dengan pola model bisnis yang sekarang. Artinya konsumen mengharapkan dan menuntut perubahan," katanya.

Reporter: Fariha Sulmaihati dan Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha