Menilik Persaingan Holding Rumah Sakit BUMN dengan RS Swasta

Penulis: Sorta Tobing

Editor: Hari Widowati

12/2/2020, 18.14 WIB

Persaingan menarik pasien BPJS Kesehatan antara holding rumah sakit BUMN dan RS swasta akan semakin ketat.

Telaah - Holding RS BUMN
KATADATA/JOSHUA SIRINGO RINGO
Menteri BUMN Erick Thohir menargetkan pendapatan dari pembentukan holding rumah sakit BUMN akan mencapai Rp 10 triliun.

Persaingan Menarik Pasien BPJS Kesehatan

Terbentuknya holding rumah sakit BUMN diperkirakan tidak akan mengancam kinerja jaringan rumah sakit swasta yang sudah lebih dulu hadir, seperti RS Siloam, RS Mitra Keluarga, dan RS Hermina. Analis Reliance Sekuritas Anissa Septiwijaya mengatakan, hal yang penting dalam bisnis ini adalah kualitas layanan medis, kebersihan rumah sakit, dan kecepatan pelayanan.

Selama rumah sakit konsisten melakukan pelayanannya dengan baik, tidak akan menjadi masalah. “Terlebih antara rumah sakit BUMN dan swasta sudah memiliki pangsa pasarnya masing-masing,” katanya.

Di sisi lain, kehadiran konsolidasi BUMN ini bakal menjadi hal yang positif bagi bisnis kesehatan. Kualitas rumah sakit antara milik negara dan swasta dapat saling bersaing untuk melayani kebutuhan masyarakat.

Hal senada juga diucapkan analis saham Panin Sekuritas William Hartanto. “Kalau memperhatikan respons pasar, saham-saham rumah sakit swasta nampak tidak terpengaruh dengan konsolidasi ini,” katanya.

Yang menarik, menurut William, akan terjadi persaingan dalam menarik pasien BPJS Kesehatan. Rumah sakit BUMN kemungkinan besar akan sulit unggul karena kualitasnya yang berbeda-beda. “Sejauh ini rumah sakit swasta masih dicari oleh orang-orang, baik pasien BPJS maupun tidak,” ujarnya.

(Baca: Erick Thohir Bakal Merger atau Likuidasi BUMN dengan Bisnis Tak Jelas)

Sejalan dengan pembentukan holding rumah sakit BUMN, ekspansi jaringan rumah sakit swasta pun tak kalah saing. Misalnya, seperti Siloam dan Hermina, yang banyak membangun rumah sakit di berbagai kota untuk memperluas penetrasi pasar. "Ini terkait pembangunan infrastruktur pemerintah dan kawasan ekonomi khusus," kata Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta.

Bisnis rumah sakit, terlihat dari grafik di bawah, sebanyak 63% masih dikuasai oleh swasta. Total kepemilikannya mencapai 1.787 rumah sakit. Paling kecil adalah kepemilikan oleh pemerintah pusat sebanyak 33 unit.

Jaringan rumah sakit yang agresif mengembangkan usahanya saat ini adalah PT Siloam International Hospitals Tbk. Anak usaha Grup Lippo ini memiliki 36 rumah sakit di 24 kota seluruh Indonesia. Selain rumah sakit, perusahaan dengan kode efek SILO itu memiliki 23 klinik termasuk di Jakarta, Palembang, Surabaya, dan Bogor.

Melansir dari laporan keuangan SILO pada kuartal III-2019, pasien BPJS Kesehatan berkontribusi 20% sampai 30% ke pendapatan perusahaan. Sisanya berasal dari pasien yang membayar secara pribadi atau asuransi.

Laba perusahaan pada kuartal tersebut melonjak tinggi, dari Rp 2,99 miliar pada triwulan III-2018 menjadi Rp 42,88 miliar. Pendapatan SILO juga terdongkrak 18,68% menjadi Rp 5,21 triliun.

Mitra Keluarga KATADATA | Arief Kamaludin
Rumah Sakit Mitra Keluarga (KATADATA | Arief Kamaludin)

 

Perusahaan rumah sakit lainnya yang terdaftar di lantai bursa adalah PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. Pemilik jaringan Rumah Sakit Mitra Keluarga ini memiliki 24 rumah sakit yang tersebar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Surabaya, Tegal, dan Waru.

Kinerjanya pada pada kuartal ketiga 2019 juga positif. Pendapatannya naik 17,24% menjadi Rp 2,38 triliun. Laba bersihnya juga mengalami pertumbuhan positif 9,24% menjadi Rp 531,79 miliar. MIKA membatasi kontribusi dari pasien BPJS Kesehatan maksimal 40% dari total pendapatan hingga lima tahun ke depan.

(Baca: Erick Thohir Bakal Evaluasi Kinerja BUMN yang Punya Kampus)

Terakhir, PT Medikaloka Hermina Tbk dengan kode efek HEAL. Pemilik jaringan RS Hermina ini memiliki 32 rumah sakit tersebar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Medan, Balikpapan, Makassar, Padang, Bitung, dan Solo.

Pada kuartal III-2019 laba bersihnya naik hampir dua kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp 210,05 miliar. Pendapatannya naik 17,47% menjadi Rp 2,68 triliun. Pendapatan dari pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) alias BPJS Kesehatan berkontribusi sekitar 40% dari pendapatan perusahaan.

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha