Industri Tekstil RI saat Pandemi: Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga

Penulis: Sorta Tobing

Editor: Yura Syahrul

28/4/2020, 14.01 WIB

Belum siuman akibat perang dagang, industri tekstil Indonesia kembali terpukul oleh dampak pandemi corona. Stimulus pemerintah lebih diperlukan.

Telaah - Investasi Asabri
123RF.com/Thodonal
Ilustrasi. Industri tekstil terkena dampak pelemahan kinerja tahun ini akibat anjloknya permintaan karena pandemi corona.

Malang nian nasib industri tekstil Indonesia. Pasar tekstil domestik dan ekspor ke luar negeri tergerus oleh produsen dari negara lain dalam beberapa tahun terakhir. Pukulan makin berat akibat perang dagang. Belum pulih oleh pukulan-pukulan tersebut, industri tekstil saat ini kolaps karena dampak pandemi corona.

Permintaan pakaian di masa pandemi anjlok tajam seiring tutupnya mal dan pusat perbelanjaan hingga pusat tekstil seperti Pasar Tanah Abang, Jakarta. Alhasil, perusahaan-perusahaan tekstil terkena dampaknya.

Jutaan karyawan terancam pemutusan hubungan kerja alias PHK dan sebanyak 80% pekerja telah dirumahkan. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengatakan, setidaknya ada pengurangan 2,1 juta orang tenaga kerja di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sejak pekan lalu.

Pengurangan karyawan dilakukan karena utilitas produksi tekstil menyusut hingga 90%. Sedangkan volume produksi anjlok hingga 85%.

Likuiditas perusahaan berdarah-darah. Rata-rata pengusaha tekstil akan kehabisan kas pada bulan Juni karena pembayaran dari ekspor dan dalam negeri tidak mengalir. “Begitu juga pembayaran dari departement store yang mundur sejak Maret dan hingga saat ini belum juga dibayar," kata Jemmy dalam diskusi daring bersama Komisi VI DPR RI, Senin (27/4).

(Baca: Industri Tekstil Bertumbangan, 80% Karyawan Sudah Dirumahkan)

Kondisi tersebut mendorong asosiasi pertekstilan meminta sitmulus dari pemerintah. Keringanan pembayaran listrik dan gas bisa membuat industri tekstil sedikit bernapas lega.

API juga mendesak penangguhan pajak penjualan dan penundaan cicilan selama enam bulan ke depan. “Relaksasi cicilan nyatanya hinga kini belum diberikan karena perbankan juga memiliki masalah pembayaran,” ucapnya.

Pekan lalu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman mengungkapkan, infeksi virus Covid-19 telah membuat penjualan industri tekstil susut 50%. Banyak pesanan ekspor dibatalkan, permintaan dalam negeri pun turun.

Momen Ramadan dan Idul Fitri juga tak bisa lagi diharapkan untuk mendongkrak kinerja perusahaan. Daya beli turun karena masyarakat juga tertekan pendapatannya terdampak virus corona. Akibat permintaan lesu, omzet produk pakaian juga diperkirakan anjlok hingga 50%.

(Baca: Imbas Covid-19, Pertumbuhan Industri Diramal Terpangkas Jadi 2,5%)

Pasar Beringharjo di Yogyakarta dan Tanah Abang di Jakarta yang biasanya ramai menjelang bulan puasa, kini sepi pembeli. Bahkan, selama beberapa pekan tutup. Minimnya pembeli sudah terasa sejak bulan lalu ketika kebijakan pembatasan sosial atau social distancing berlaku.

“Dampaknya sangat terasa bagi kami para pedagang. Apalagi, kondisi ekonomi sektor riil sudah mulai turun sejak tahun lalu dan sekarang ditambah wabah virus corona," kata Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo (Pager Raharjo) Ujun Junaedi.

Banyak penjual batik dan barang fesyen berusaha bertahan dengan membuka kios, tapi tidak ada pembeli yang datang. Pilihan menutup kios akhirnya ditempuh, ketimbang menambah biaya operasional.

Pasar Tanah Abang yang biasanya ramai jelang Ramadan pun tampak lengang. Seluruh aktivitas perdagangan di pasar tersebut libur sementara. “Ini merupakan salah satu langkah pencegahan dan penyebaran Covid-19, terkecuali di Blok G boleh berjualan khusus bahan pangan saja,” ucap Direktur Utama PD Pasar Jaya, Arief Nasrudin melalui siaran persnya.

(Baca: Diprotes Buruh, Jokowi Tunda Bahas Omnibus Law soal Ketenagakerjaan)

EKSPOR DAN PENJUALAN TEKSTIL MENURUN
Ilustrasi ekspor dan penjualan tekstil yang turun terdampak pandemi corona. (ANTARA FOTO/Fauzan/aww.)

Kinerja Industri Tekstil Terpuruk Sejak 2018

Pelaku industri pesimistis kinerja ekspor tekstil dan produknya dapat terdorong tahun ini. Covid-19 yang sudah menginfeksi tiga juta orang secara global menimbulkan ketidakpastian.

Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk Anne Patricia Sutanto mengatakan, ekspor tekstil akan sangat bergantung permintaan global. "Tiongkok, Korea Selatan maupun Singapura yang lebih dulu kena virus corona juga masih berjaga-jaga. Sebab, berapa lama negara bisa lockdown (isolasi penuh), tidak ada tahu," ujar Anne dalam konferensi pers, 23 Maret lalu.

Angka ekspor kalau masih bisa sama dengan tahun lalu merupakan sebuah prestasi. Anne mengatakan, sambil menunggu permintaan global pulih, produk industri tersebut akan diarahkan untuk kebutuhan domestik.

(Baca: Sri Mulyani Akan Guyur Insentif Pajak Corona untuk 11 Sektor Industri)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai US$ 12,84 miliar. Kinerja ini sebenarnya tak terlalu cemerlang. Angkanya turun 2,87% dibanding tahun sebelumnya.

Pada 2019 industri ini terpukul dampak perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Perang dagang sebetulnya menjadi peluang bagi tekstil Indonesia untuk mengambil alih pasar Cina. Namun sayangnya, daya saing produk domestik masih lemah.

Komponen yang menghambat itu adalah biaya energi, logistik, dan tenaga kerja. Pasar Indonesia malah menjadi sasaran empuk Tiongkok karena pemerintah tidak melakukan hambatan dagang.

Tiongkok menjadi eksportir tekstil dan produk tekstil (TPT) terbesar ke Indonesia. Pada 2018, volume impornya mencapai 4.392 ton, turun 27,18% dibandingkan dengan 2017 yang mencapai 6.031 ton. Impor TPT dari Tiongkok pada 2017 sempat melonjak hingga 123,29% dibandingkan 2016 yang sebesar 2.701 ton, seperti terlihat pada grafik Databoks berikut ini.

Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia atau Ikatsi mencatat pada 2018 merupakan kinerja TPT terburuk sepanjang sejarah. Pertumbuhan ekspornya jauh lebih rendah daripada impor.

Perlambatan kinerja neraca perdagangan tersebut dipicu kebijakan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 64 Tahun 2017 tentang Ketentuan Impor Tekstil dan Produk Tekstil. Peraturan ini dinilai mendorong pertumbuhan impor sehingga menyebabkan surplus neraca perdagangan turun.

Padahal, pada tahun itu pakaian jadi menjadi salah satu produk andalan ekspor nonmigas Indonesia. Nilainya terbesar ketiga setelah batu bara dan sawit. Negara tujuan utamanya adalah Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.

(Baca: Pengusaha Sebut Gangguan Rantai Pasok Akibat PSBB Sulit Pulih)

Pada kuartal I tahun ini, nilai ekspor pakaian dan aksesorinya mencapai US$ 856,6 juta atau anjlok 12,97% dibandingkan periode sama tahun lalu. Secara lebih spesifik, nilai ekspor produk ini pada Maret lalu sebesar US$ 258 juta atau turun 11,9% dibandingkan bulan sebelumnya.

Berbeda dengan ekspor barang tekstil jadi lainnya, yang sebenarnya menunjukkan geliat pada awal tahun ini. BPS mencatat, ekspor barang tekstil periode Januari - Maret 2020 mencapai US$ 134 juta atau melonjak 189% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Namun, tren penurunan mulai terlihat pada Maret lalu. Nilai ekspor barang tekstil pada Maret 2020 sebesar US$ 33 juta, anjlok 60% dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini seiring meluasnya penyebaran Covid-19 sehingga banyak negara melakukan karantina negara atau kota (lockdown).

Selanjutnya: Produksi APD, Diversifikasi Industri Tekstil untuk Bertahan Hidup

Reporter: Ekarina dan Tri Kurnia Yunianto Muchammad Egi Fadliansyah Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha