Anggota DPR Marah Ambon New Port Mangkrak karena Persoalan Anggaran

Anggota Komisi IV Saadiah Uluputty mempertanyakan komitmen pemerintah dalam kontruksi pelabuhan Ambon New Port, karena pemerintah dapat membangun infrastruktur lain, seperti IKN Nusantara.
Image title
23 Maret 2022, 15:21
Menteri Perhubungan Budi Karya (tengah) melihat peta lokasi Ambon New Port dan Lumbung Ikan Nasional (LIN) di Pelabuhan Tulehu, Salahutu, Maluku Tengah, Maluku, Jumat (5/2/2021).
ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah/aww.
Menteri Perhubungan Budi Karya (tengah) melihat peta lokasi Ambon New Port dan Lumbung Ikan Nasional (LIN) di Pelabuhan Tulehu, Salahutu, Maluku Tengah, Maluku, Jumat (5/2/2021).

Komisi IV DPR RI menolak tegas alasan pemerintah dalam keterlambatan pembangunan Pelabuhan Ambon Baru (Ambon New Port). Alasannya, konstruksi pelabuhan terintegrasi itu telah dijanjikan Presiden Joko Widodo pada 2016,  dan peletakan batu pertama pada November 2017. 

Anggota Komisi IV Saadiah Uluputty mempertanyakan komitmen yang diberikan Presiden Jokowi serta Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan terhadap pembangunan konstruksi Ambon New Port. Dia heran karena pemerintah dapat membangun infrastruktur lain, seperti Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan Ibu Kota Negara (IKN) Baru. 

"Kalau alasan tidak ada uang, bagi kami tidak adil. Benar-benar kami ditipu, pembohongan ini. Saya tidak bisa terima (alasan itu) di sini," tegas Saadiah dalam rapat kerja bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, Rabu (23/3). 

Saadiah menjelaskan keberadaan pelabuhan itu penting bagi masyarakat di Provinsi Maluku yang mata pencaharian utamanya menjadi nelayan.  Saadiah mencatat ada tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang berada di dalam Provinsi Maluku, yakni WPP-714, WPP-715, dan WPP-718.

Advertisement

Maluku memiliki potensi tangkapan ikan sebesar 4,7 juta ton per tahun atau 37% dari total nasional. Namun, saat ini masyarakat Maluku baru dapat menjaring 543 ribu ton ikan per tahun.

Ambon New Port diproyeksikan meningkatkan hasil tangkapan ikan menjadi 750 ribu ton per tahun. Potensi  terbesar adalah ikan pelagis termasuk di dalamnya ikan tuna, tongkol, cakalang, teri, dan kembung.

Secara rinci, Ambon New Pot akan berlokasi di samping Pelabuhan PT. ASDP Ferry Indonesia di Waai, Kabupaten Maluku Tengah. Luas pelabuhan terintegrasi itu dirancang mencapai 200 hektar dengan total nilai investasi yang ditelan senilai Rp 4,05 triliun. 

Pada tahap pertama, Ambon New Port akan dibangun seluas 100 hektar dengan investasi senilai Rp 2,21 triliun. Karena menggunakan skema pendanaan kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), anggaran yang digunakan dalam tahap pertama adalah Rp 1,2 triliun. 

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan pihaknya tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membangun Ambon New Port saat ini. Di samping itu, Sakti masih mencari investor yang mau menanamkan uangnya di proyek Ambon New Port. 

"Ini semua (masalah) investasi. (Ambon) New Port lalu tidak jadi (dibangun tahun ini) karena memang anggarannya tidak ada," kata Sakti. 

Dalam mengundang investor, Sakti memberikan pilihan, yakni bernaung dalam salah satu dari delapan pelabuhan milik pemerintah atau membangun Ambon New Port. Sebagai informasi, investor dalam proyek Ambon New Port akan mendapatkan konsesi selama 50 tahun, termasuk tiga tahun masa konstruksi. 

Sebagai negara maritim, keberadaan infrastruktur pelabuhan di Tanah Air berperan penting sebagai pintu masuk orang dan logistik. Pelabuhan juga memiliki peran yang penting untuk kegiatan perdagangan maupun industri.

Menurut laporan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah pelabuhan di Indonesia sebanyak 2.439 pelabuhan pada 2020. Angka tersebut meningkat 38,6% dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 1.760 pelabuhan.

Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait