Perbandingan Omzet MS Glow dengan Tiga Merek Kosmetik Indonesia

Pendapatan MS Glow melebihi tiga perusahaan kosmetik Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia yaitu PT Martina Berto (MBTO), PT Mustika Ratu Tbk (MRAT), dan Victoria Care Indonesia (VICI).
Image title
25 Maret 2022, 16:06
MS Glow
pexels.com/Polina Kovaleva
Ilustrasi perawatan kecantikan. Pendapatan MS Glow melebihi tiga perusahaan kosmetik Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Produk perawatan kulit atau skin care MS Glow tengah menjadi perbincangan publik beberapa waktu terakhir. Perusahaan tersebut dirintis oleh Shandy Purnamasari dan Maharani Kemala, serta mulai beroperasi sejak 2013. MS Glow merupakan singkatan dari Magic for Skin.

Nama mereka semakin mencuat karena media hiburan dan akun gosip sering membahas gaya hidup mewahnya. Shandy dan suaminya Gilang Widya Pramana alias Juragan 99 kerap memamerkan outfit miliaran rupiah, rumah, dan kendaraan mewah di media sosial. Misalnya, di akun Instagram terbarunya mereka memuat liburan mewah ke Swiss dan Prancis. 

Mereka juga sering memamerkan keakraban dengan artis-artis ibu kota. Pendiri MS Glow lainnya, Maharani Kemala dan pasangannya Dewa Gede Adiputra juga melakukan hal serupa. 

MS Glow
Shandy dan suaminya Gilang Widya Pramana alias Juragan 99. (Katadata/Instagram Shandy)

 

Advertisement

Shandy mengatakan, MS Glow bisa menjual sekitar dua juta lebih produk setiap bulan. Produk kosmetik MS Glow dibanderol berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu per unit dan menjual paket sekitar Rp 300 ribu. Artinya, bila MS Glow hanya menjual dua juta dari produk yang paling murah, omzet mereka bisa mencapai Rp 100 miliar per bulan atau Rp 1,2 triliun per tahun.

Omzet MS Glow ini melebihi perolehan tiga perusahaan kosmetik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, berdasarkan laporan keuangan 2020. Ketiganya adalah PT Martina Berto Tbk (MBTO) yang memegang merk Sariayu Martha Tilaar, PT Mustika Ratu Tbk (MRAT), dan Victoria Care Indonesia (VICI) yang menjadi produsen pewarna rambut mereka Miranda serta lulur Herborist.

Berikut perbandingan penjualan  tiga perusahaan kosmetik tersebut:  

Sariayu Martha Tilaar

PT Martina Berto Tbk (MBTO)  merupakan bagian dari Martha Tilaar Group. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1977 oleh HC. Martha Tilaar, (Alm) Pranata Bernard, dan Theresa Harsini Setiady.  Mereka memproduksi kosmetik dan jamu dengan merek Sariayu Martha Tilaar untuk pertama kalinya pada tahun 1981. Produk utamanya adalah barang kosmetik dan jamu tradisional diantaranya merek Belia, Biokos, Carig Colour, Mirabella, Rudy Hadisuwarno, dan Sariayu.

Berdassarkan laporan keuangan yang disampaikan ke BEI, perusahaan meraih penjualan Rp 297 miliar tahun 2020 dengan rata-rata penjualan per bulan Rp 24,75 miliar.

Mustika Ratu

Didirikan pada tanggal 14 Maret 1978, PT Mustika Ratu Tbk. (Perseroan) merupakan perusahaan kosmetik dan Jamu Modern tradisional ternama yang didirikan oleh BRA Mooryati Soedibyo. Mustika ratu mengeluarkan produk perawatan tubuh dan kosmetik dengan merek serupa diantaranya shampo, pembersih wajah, perawatan badan dan lainnya.

Berdassarkan laporan keuangan yang disampaikan ke BEI, perusahaan meraih penjualan Rp318 miliar tahun 2020 dengan rata-rata penjualan per bulan Rp 26,4 miliar.

Victoria Care Indonesia

Victoria Care Indonesia Tbk adalah perusahaan manufaktur yang menjual kosmetik serta perlengkapan mandi dan didirikan tahun 1988. Perusahaan didirikan oleh mantan akuntan Billy Hartono Salim. Saat ini perusahaan telah membawahi berbagai merek produk kecantikan seperti pewarna rambut Miranda dan lulur Herborist.

Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan ke BEI, perusahaan meraih penjualan Rp 1,04 triliun di tahun 2020 dengan rata-rata penjualan per bulan Rp 87 miliar.

Strategi Jualan Online MS Glow 

Shandy mengatakan keberhasilan bisnis MS Glow yang mencapai dua juta unit produk per bulan ini berkat optimalisasi strategi berbagai channel digital atau omnichannel serta pemasaran digital sejak 2013. Saat ini, MS Glow sudah memiliki pabrik sendiri, padahal sebelumnya hanya menjual produk saja.

"Di awal pandemi, ketika banyak perusahaan lokal yang mengalami berbagai tantangan akibat pembatasan sosial, perusahaan skincare dan kecantikan MS Glow justru berhasil membukukan penjualan yang luar biasa," kata Shandy dalam keterangannya pada Jumat (25/3) dikutip dari Antara.

Hasil survei Katadata Insight Center (KIC) dan Sirclo menunjukkan, penjualan produk kecantikan memang meningkat selama pandemi. Terdapat pergeseran kategori produk yang paling digemari konsumen saat online. Jumlah transaksi produk kesehatan dan kecantikan meningkat menjadi 40,1% saat pandemi Covid-19. Nilai itu naik dibandingkan pada 2019 yang hanya sebesar 29,1%.  

Peningkatan transaksi produk kesehatan dan kecantikan melampaui barang konsumen yang bergerak cepat (Fast-Moving Consumer Goods/FMCG). Tercatat, transaksi FMCG hanya tumbuh dari 30,5% pada 2019 menjadi 31,2% pada 2020/2021.

Tingginya transaksi produk kesehatan dan kecantikan serta FMCG karena masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Selain itu, masyarakat kian sadar mengenai kesehatan saat pandemi Covid-19.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait