Bukan Migor Curah, Minyak Ini Paling Banyak Digunakan Negara G20

Minyak goreng sawit paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia yaitu sebesar 78,22 juta metrik ton berdasarkan data Statista 2020/2021.
Image title
31 Maret 2022, 15:15
Pekerja mengontrol kualitas kemasan minyak goreng di dalam pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) PT Berkah Sumber Emas Terang disela pantauan Tim Satgas Pangan Polda Jawa Tengah dan Forkopimda Kota Semarang di Semarang, Jawa Tengah, Selas
ANTARA FOTO/Aji Styawan/tom.
Pekerja mengontrol kualitas kemasan minyak goreng di dalam pabrik pengolahan minyak goreng kelapa sawit (Crude Palm Oil) PT Berkah Sumber Emas Terang disela pantauan Tim Satgas Pangan Polda Jawa Tengah dan Forkopimda Kota Semarang di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (29/3/2022).

Minyak goreng nabati menjadi salah satu kebutuhan pokok yang dikonsumsi banyak negara termasuk anggota G20. Di Indonesia, minyak goreng sawit merupakan jenis yang paling banyak dikonsumsi masyarakat.

Konsumsi minyak sawit dalam negeri terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), konsumsi minyak sawit tercatat sebesar 18,42 juta ton pada 2021, atau naik 3,7% dibandingkan 2020.

Adapun data Statista menunjukkan, minyak goreng sawit juga  paling banyak digunakan di seluruh dunia yaitu sebesar 78,22 juta metrik ton di periode 2020/2021. Konsumsi terbesar didominasi oleh negara-negara G20 yang memiliki kontribusi perdagangan terbesar di dunia seperti Indonesia, India, Cina, uni Eropa, hingga Amerika Serikat (AS).

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menyatakan Indonesia merupakan satu-satunya negara anggota G20 yang masih mengonsumsi minyak goreng sawit curah. Ada dua negara lain yang mengonsumsi minyak goreng curah di dunia selain Indonesia, yakni Bangladesh dan satu negara di Benua Afrika. Namun, dua negara itu tidak termasuk anggota G20. 

Banyak negara G20 yang menggunakan alternatif minyak goreng selain yang berbahan baku sawit. Berikut jenis minyak goreng selain sawit yang paling banyak dikonsumsi negara-negara G20:

1. Minyak Kedelai

Orang Indonesia kerap menggunakan kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu. Namun di negara lain, kedelai juga diproduksi menjadi minyak goreng. Konsumsi minyak goreng kedelai bahkan yang terbesar kedua setelah sawit yaitu 58,89 juta metrik ton di 2020/2021.

Berdasarkan data Indek Mundi, China merupakan negara dengan konsumsi minyak kedelai terbesar yaitu 18,28 juta metrik pada 2021. Negara lainnya yang juga mengonsumsi minyak ini adalah AS, Brazil, India, Argentina, dan Afrika Selatan.

2. Minyak Zaitun

Minyak zaitun banyak digunakan di AS dan negara-negara uni Eropa. Berbeda dengan minyak goreng, minyak zaitun relatif bebas dari kolesterol. Namun, tanaman zaitun yang menjadi bahan baku minyak goreng itu hanya dapat tumbuh di Kawasan Mediterrania, Portugal, hingga Timur Tengah.

Turki merupakan negara dengan komsumsi minyak zaitun terbesar di dunia. Negara ini juga merupakan salah satu produsen minyak zaitun terbesar di dunia dengan rata-rata produksi 143.600 ton per tahun. Sementara berdasarkan situs Uni eropa, 69 persen produksi minyak zaitun berasal dari wilayahnya. Negara G20 yang menjadi produsen utama minyak zaitun di Eropa adalah Italia dan Prancis.

3. Minyak Kelapa

Indonesia merupakan negara penghasil sekaligus konsumen minyak kelapa terbesar di dunia. Berdasarkan data Statista, Indonesia mengonsumsi 390 ribu metrik ton minyak kelapa pada 2021. Salah satu industri yang memproduksi minyak kelapa yaitu Sarimas.

Negara G20 lain yang mengonsumsi minyak kelapa terbesar yaitu uni Eropa, AS, Cina, Meksiko, dan Korea Selatan.

4. Minyak Biji Bunga Matahari

Pada 2021, negara dengan konsumsi minyak biji bunga matahari adalah Uni Eropa yaitu melebihi lima juta metrik ton. India menempati urutan kedua dengan jumlah konsumsi setengah dari Uni Eropa. Selain itu, Saudi Arabia juga mengkonsumsi minyak goreng jenis ini.

Minyak dari biji bunga matahari ini tidak memiliki rasa yang kuat sehingga cocok untuk menggoreng makanan. Namun, minyak bunga matahari mengandung omega-6 yang tinggi yang bisa menyebabkan peradangan tubuh.

5. Minyak Kanola

Berdasarkan data Statista, konsumsi domestik minyak kanola di AS mencapai 2,41 juta metrik ton di 2021. Penggunaan minyak kanola di AS tersebut mencapai tiga kali lipat dari jumlah konsumsi dua decade lalu.

Kanada juga merupakan salah satu negara produsen sekaligus konsumen minyak kanola terbesar dunia. Pada 2021, produksi minyak Kanola Kanada mencapai 12,6 juta metrik. Mereka mengeskpor produknya ke AS, Cina, Jepang, dan Uni Eropa.

6. Minyak Rapa

Banyak yang salah kaprah menyamakan minyak kanola dengan minyak biji rapa (rapeseed), padahal keduanya berbeda. Berdasarkan situs Index Mundi, rapeseed oil banyak dikonsumsi di negara-negara Uni eropa, China, India, As, Jepang, Kanada, Inggris, Australia hingga Rusia.

Konsumsi minyak goreng rapeseed merupakan yang ketiga terbesar secara global yaitu sebesar 28,85 juta metrik ton.

7. Minyak Jagung

Berdasarkan United States Department of Agriculture, minyak jagung lebih rendah lemak dan kolesterol dibandingkan minyak nabati lain. Namun minyak ini memiliki kandungan omega-6 yang tinggi dan tidak sebanding dengan Omega-3 sehingga bila berlebihan bisa menyebabkan ibesitas, gangguan fungsi otak, depresi, dan jantung.

Negara G20 yang mengkonsumsi minyak jagung  diantaranya AS, Cina, Brazil, Afrika Selatan, Turki, dan Argentina.

Di Indonesia, kelangkaan minyak sawit membuat beberapa masyarakat mencari alternatif minyak lainnya. Hasil survei Jakpat menunjukkan minyak kelapa menjadi substitusi utama minyak goreng sawit.

 

Dalam rangka mendukung kampanye penyelenggaraan G20 di Indonesia, Katadata menyajikan beragam konten informatif terkait berbagai aktivitas dan agenda G20 hingga berpuncak pada KTT G20 Oktober 2022 nanti. Simak rangkaian lengkapnya di sini.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait