Air products Cairkan Investasi Rp 102 T di Industri Hilir Batu Bara

Air Products merealisasikan investasi di Indonesia untuk membangun fasilitas produksi DME yang diharapkan dapat menekan impor Liquefied petroleum gas (LPG) hingga 7 ton per tahun.
Image title
13 Mei 2022, 10:41
Pekerja dibantu alat berat memulai pembangunan proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Tanjung Lalang, Tanjung Agung, Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (24/1/2022).
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/hp.
Pekerja dibantu alat berat memulai pembangunan proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Tanjung Lalang, Tanjung Agung, Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (24/1/2022).

Air Products and Chemicals, Inc sedang membangun tiga fasilitas produksi turunan gasifikasi batu bara di Indonesia yakni Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim, Methanol di Balongan, dan Methanol di Cepu. Ketiga fasilitas produksi tersebut merupakan wujud pencairan investasi tahap pertama Air Products senilai US$ 7 miliar atau setara Rp 102,2 triliun.

Sementara total investasi  Air Producst di Indonesia rencananya mencapai US$ 15 miliar atau setara Rp 219,1 triliun. Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menekankan, fasilitas produksi DME penting direalisasikan untuk mengurangi impor Liquefied petroleum gas (LPG) hingga 7 ton per tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata impor LPG mencapai  US$ 4,09 miliar pada 2021. Angka itu naik  58,5% jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 2,58 miliar. 

"Investasi Air Products di Indonesia harus segera dieksekusi, karena uangnya ada, proyeknya sudah ada. Sekarang saya pulang, harus mengawal ini supaya targetnya tercapai," kata Bahlil di akun resmi Sekretariat Negara, Kamis (12/5). 

Advertisement

Air Products masih memiliki komitmen investasi senilai US$ 8 miliar di Indonesia.  Perusahaan Amerika Serikat tersebut rencananya akan membangun fasilitas produksi hidrogen di beberapa bendungan milik pemerintah Indonesia. 

Selain itu, Bahlil menyampaikan, Air Products sedang mendiskusikan kemungkinan investasi di industri petrokimia terintegrasi. Pembangunan industri di sektor hilir diharapkan dapat memenuhi kebutuhan petrokimia dan turunannya di dalam negeri. 

Di sisi lain, Bahlil menilai investasi oleh Air Products menandakan bahwa animo investor dari Amerika Serikat mulai tumbuh. "Ini menunjukkan bahwa investasi di Indonesia mulai merata, tidak hanya hanya dikuasai satu negara tertentu," kata Bahlil. 

Data Kementerian Investasi menunjukkan, realisasi penanaman modal asing (PMA) sepanjang Januari-Maret 2022 mencapai Rp 147,2 triliun, tumbuh 31,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Singapura, Hong Kong, China, Jepang dan Amerika Serikat masih menjadi penanam modal terbesar.

Berdasarkan lokasi proyek, realisasi investasi pada kuartal I 2022 paling banyak tersebar di DKI Jakarta, Jawa Barat, Riau, Jawa Timur dan Sulawesi Tengah. Realisasi investasi di periode ini didominasi oleh industri logam dasar, barang logam bukan mesin dan peralatannya; transportasi, gudang dan telekomunikasi; sektor pertambangan; sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran; serta listrik, air dan gas.

Realisasi investasi Indonesia mengalami tren peningkatan tiap tahun selama periode 2017-2021, dengan rata-rata kenaikan sebesar 6,9%. Pada 2021, realisasi investasi Indonesia meningkat 9% (year-on-year/yoy) dibanding tahun 2020 yang nilainya Rp826,3 triliun.

 

Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait