Larangan Ekspor Dicabut Jokowi, Harga CPO Dunia Berpeluang Turun

Pencabutan larangan ekspor CPO dari Indonesia bakal menambah pasokan minyak nabati dunia.
Image title
19 Mei 2022, 19:07
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Harga jual Tanda Buah
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Harga jual Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit tingkat petani sejak dua pekan terakhir mengalami penurunan dari Rp2.850 per kilogram menjadi Rp1.800 sampai Rp1.550 per kilogram, penurunan tersebut pascakebijakan pemeritah terkait larangan ekspor minyak mentah atau crude palm oil

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyambut baik keputusan Presiden Joko Widodo yang akan membuka keran ekspor CPO dan produk turunannya mulai 23 Mei 2022. Namun demikian, kebijakan tersebut berpotensi untuk menurunkan harga CPO global.

Sekretaris Jenderal Gapki Eddy Martono menyatakan pembukaan keran ekspor CPO dan produk turunannya merupakan langkah yang tepat. Saat ini, kapasitas tampung CPO di lebih dari 50% tangki milik perusahaan kelapa sawit (PKS) dan industri sudah mulai penuh. 

PKS adalah entitas yang menyerap tandan buah segar (TBS) dan mengubahnya menjadi CPO. Adapun, kapasitas penampungan CPO di dalam negeri sekitar 5 juta ton. 

"Kalau ini (keran ekspor) dibuka kembali, yang akan dilakukan (PKS) adalah mengeluarkan CPO dari tangki-tangki dengan catatan pembeli CPO juga sudah membeli kembali. Di industri hilir pasti juga akan melakukan hal yang sama agar mereka dapat mengoptimalkan kembali produksi," kata Eddy kepada Katadata.co.id, Kamis (19/5). 

Advertisement

Eddy optimistis CPO dan produk turunannya dari Indonesia masih diminati oleh pasar global. Hal itu karena permintaan minyak nabati dunia sedang tumbuh didorong oleh terbatasnya pasokan dari produsen utama.

Saat ini, harga CPO di pasar ekspor melonjak secara tahunan. Gapki mendata rata-rata harga CPO setelah biaya logistik dan asuransi (cost, insurance, and freight/Cif) di Rotterdam, Belanda mencapai US$ 1.813 per ton per Maret 2022. Angka tersebut naik 62,45% dari harga CPO Cif Rotterdam per Maret 2021 senilai US$ 1.116 per ton. 

Eddy mengatakan, pembukaan keran ekspor CPO bisa mempengaruhi harga global. Sebab, pembukaan ekspor akan menambah pasokan minyak nabati dunia. 

"Kemungkinan harga (CPO) internasional akan turun, walaupun mungkin tidak signifikan," kata Eddy. 

Presiden Joko Widodo memutuskan untuk membuka lagi keran ekspor bahan baku minyak goreng mulai Senin (23/5). Langkah ini dilakukan setelah melihat adanya penambahan pasokan dan penurunan harga imbas larangan ekspor pada April lalu.

Selain itu, Jokowi juga mempertimbangkan nasib para pekerja industri sawit yang berjumlah 17 juta orang. Meski ekspor dibuka, namun pemerintah tetap akan mengawasi pasokan minyak goreng kepada masyarakat.

"Saya putuskan ekspor minyak goreng akan dibuka lagi pada Senin 23 Mei 2022," kata Jokowi dalam konferensi pers, Kamis (19/5).

Berdasarkan data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), harga minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) di Pasar Spot Medan ditutup turun 1,34% menjadi Rp26.453,87 per kilogram (kg) pada perdagangan Rabu, 18 Mei 2022, dari penutupan sehari sebelumnya.

 

Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait