Serapan Garam Lokal oleh Industri Diperkirakan Masih Rendah Tahun Ini

Rendahnya serapan garam tersebut disebabkan karena musim kemarau yang bergeser dan juga minimnya permintaan oleh industri pengguna garam dengan kemurnian tidak tinggi.
Andi M. Arief
5 Agustus 2022, 16:25
Petani mengeruk garam dari "klakah" atau bilah bambu saat panen garam Jono di Desa Jono, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (24/6/2022). Pengelolaan garam Jono telah dimulai di masa kolonial Belanda dengen keunggulan rasa lebin gurih karena bahan
ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/foc.
Petani mengeruk garam dari "klakah" atau bilah bambu saat panen garam Jono di Desa Jono, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (24/6/2022). Pengelolaan garam Jono telah dimulai di masa kolonial Belanda dengen keunggulan rasa lebin gurih karena bahan bakunya berasal dari air sumur sekitar dan sekarang terdapat 50 petani yang memproduksi garam itu dengan harga jual Rp10.000 per kilogram.

Kementerian Perindustrian atau Kemenperin menargetkan serapan garam lokal oleh industri pengolah garam dapat mencapai 1,05 juta ton pada tahun ini. Namun demikian, pergeseran musim kemarau membuat volume garam yang dapat diserap industri pengolah garam tidak jauh berbeda dengan capaian 2021.

Berdasarkan data Kemenperin, total garam lokal yang diserap oleh industri pengolah garam pada tahun lalu adalah 767.611 ton. Rendahnya volume serapan garam lokal tersebut disebabkan oleh bergesernya musim kemarau dari Mei-November menjadi Agustus-November.

"Tahun ini kayaknya serapan garam lokal oleh industri pengolah garam hampir sama dengan tahun lalu. Kemarin rapat dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, maksimal serapan garam lokal oleh industri pengolahan hanya 1 juta ton," kata Direktur Industri Kimia Hulu Fridy Juwono kepada Katadata, Jumat (5/8).

Fridy mengatakan puncak serapan garam lokal oleh industri pengolah garam terjadi pada 2019 atau mencapai 1,5 juta ton. Menurutnya, serapan garam lokal oleh industri tidak pernah lebih besar dari 1 juta ton sejak 2020.

Selain karena pergeseran musim kemarau, Fridy mengatakan penurunan produksi juga disebabkan oleh minimnya permintaan oleh industri pengguna garam dengan kemurnian tidak tinggi, seperti pengasinan ikan, ikan segar, dan olahan ikan.

Di samping itu, Fridy menyatakan kemurnian garam yang dihasilkan petambak garam lokal tidak bergerak dari posisi 89%-94%selama pandemi. Namun demikian, mayoritas garam hasil tambak garam lokal adalah sebesar 89%.

 Maka dari itu, industri dengan konsumsi garam lokal terbanyak pada tahun ini adalah Industri Pengasinan Ikan yang mencapai 499.987 ton. Sementara itu, Industri Aneka Pangan yang membutuhkan kemurnian tinggi hanya akan menyerap garam lokal sebanyak 135,425 ton, sedangkan selebihnya atau 466.000 ton akan dipasok dari impor. 
 
Berdasarkan data Kemenperin, garam lokal akan diserap oleh delapan jenis industri nasional, yakni Aneka Pangan (135.425 ton), Water Treatment (22.456 ton), Penyamakan Kulit (40.261 ton), Pakan Ternak (36.299 ton), Sabun dan Deterjen (12.655 ton), Pertambangan (34.668 ton), Pengasinan Ikan (499.987 ton), dan Tekstil dan lainnya (54.019 ton). Secara total, industri domestik akan menyerap garam lokal sebanyak 835.770 ton.
Mengutip data Statista, Amerika Serikat merupakan negara importir garam terbesar di dunia. Sementara Indonesia berada di urutan ketujuh.
 
 
 

Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait