Kementan Tolak Permintaan Ekspor 100.000 Ton Jagung, Ini Alasannya

Permintaan jagung Indonesia dari negara Asia Tenggara sangat tinggi.
Andi M. Arief
22 September 2022, 15:19
Petani memanen jagung untuk kebutuhan bahan baku pakan ternak ayam di Desa Babakan Kondang, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (7/9/2022).
ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/foc.
Petani memanen jagung untuk kebutuhan bahan baku pakan ternak ayam di Desa Babakan Kondang, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (7/9/2022).

Kementerian Pertanian atau Kementan telah menerima permintaan 100.000 ton jagung pipilan dari pasar ekspor. Namun demikian, Kementan menolak permintaan tersebut karena waktunya tidak tepat.

Direktur Serealia Kementan, Ismail Wahab, mengatakan volume produksi jagung pada September-Oktober cenderung melemah secara historis. Oleh karena itu, Ismail menilai penjualan jagung ke luar negeri pada masa itu menjadi riskan lantaran volume konsumsi jagung di pihak peternak cenderung tidak berubah sepanjang tahun.

"Saya berpikir kalau mau ekspor jagung jangan di bulan-bulan Agustus-September karena kita produksinya turun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Untuk jagung dengan kadar air 14%, kondisinya mepet," kata Ismail dalam webinar Pro Kontra Ekspor Jagung, Kamis (22/9).

Ismail mengatakan, volume permintaan tersebut awalnya datang saat isu kelangkaan minyak goreng melanda. Saat itu, volume permintaan jagung lokal di pasar ekspor baru 50.000 ton.

Karena isu kelangkaan minyak goreng, Ismail mengatakan, Kementan tidak memberikan rekomendasi ekspor terkait permintaan tersebut. Ismail lalu memastikan pasokan jagung ke beberapa sektor, seperti pabrik pakan dan ternak.

Permintaan jagung dari negara ASEAN

Selain itu, Ismail menilai waktu permintaan tersebut tidak tepat dengan siklus produksi jagung di dalam negeri. Akan tetapi, Ismail mengakui banyak negara tetangga di Asia Tenggara yang membutuhkan jagung besutan Indonesia.

"Saya bilang, kalau mau ekspor jagung, sebaiknya jangan di bulan yang berakhiran ber sampai Februari. Masalah jagung ini sering terjadi di bulan berbunyi ber," kata Ismail.

Ismail mengatakan rata-rata volume kebutuhan jagung untuk pakan ternak adalah sekitar 800.000 ton per bulan. Sementara itu, Badan Pangan Nasional atau NFA memproyeksikan produksi jagung pada Agustus-November 2022 kurang dari 1 juta ton per bulan.

Namun demikian, stok jagung pada akhir tahun ini masih diproyeksikan surplus hingga 2,56 juta ton. Angka tersebut naik lebih dari tiga kali lipat dibandingkan stok pada akhir 2021 sebanyak 720.123.

Pasalnya, produksi bersih sepanjang 2022 diperkirakan mencapai 16,59 juta ton. Sementara itu, perkiraan kebutuhan nasional adalah 14,75 juta ton.

Produksi jagung dengan volume tinggi terjadi pada Januari-Juli 2022 atau lebih dari 1 juta ton per bulan. Produksi bersih terbanyak pada tahun ini diperkirakan terjadi pada Februari 2022 atau mencapai 3,32 juta ton.

"Pabrik pakan itu kebutuhannya konstan setiap bulan dengan volume yang tetap. Kalau produksi jagung bersangkut dengan musim," kata Ismail.

 Ismail menilai produksi jagung pada tahun ini cukup baik dilihat dari animo pengepul besar jagung dan produsen jagung yang menginginkan untuk melakukan ekspor. Dengan kata lain, menurut Ismail, gudang-gudang penyimpanan produsen maupun pengepul besar jagung saat ini hampir penuh.

Di sisi lain, Ismail masih mau memastikan keberadaan ketersediaan jagung di dalam negeri dengna melakukan survey cadangan jagung nasional. Menurutnya, survey tersebut baru akan dilakukan pada 2023.

Ismail menilai program tersebut penting agar kebutuhan dalam negeri tidak mengalami kekurangan. Sejauh ini, Ismail menduga keberadaan stok jagung nasional saat ini dimiliki pabrik pakan dan pedagang besar.

Harga jagung di pasar internasional untuk kontrak dua bulan ke depan terpantau turun. Transaksi harian Harga jagung diperjualbelikan USD686,75 per bushel. Bila disetarakan rupiah, nilai ini setara dengan Rp 4.058,6 per kg. Harga ini dihitung sesuai kurs yang tercatat di Bank Indonesia yakni Rp 15,01 ribu per dolar.

Advertisement

Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait