Swasembada Kedelai Sulit Tercapai, Minat Tanam Petani Rendah

Minat petani untuk menanam kedelai minim lantaran komoditas impor yang dijual di dalam negeri lebih rendah dari biaya produksi kedelai lokal.
Andi M. Arief
26 September 2022, 18:21
Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Mampang, Jakarta, Selasa (20/9/2022).
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/tom.
Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Mampang, Jakarta, Selasa (20/9/2022).

Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia atau Puskopti menyatakan baha swasembada kedelai sulit tercapai dalam waktu dekat. Walaupun harga kedelai saat ini cukup menarik bagi petani, peningkatan minat petani untuk menanam kedelai masih rendah.

Ketua Puskopti DKI Jakarta, Sutaryo, mengatakan langkah riil yang bisa dilakukan pemerintah adalah peningkatan produksi kedelai lokal hingga 1 juta ton. Menurutnya, kedelai tersebut dapat digunakan oleh produsen tahu, sementara itu produsen tempe masih akan bergantung pada kedelai impor.

"Kalau rencana ini gol, kemenangan bagi Indonesia. Jadi, nggak usah bicara swasembada kedelai dan semua hasil produksinya bisa dipakai produsen tahu tempe lokal, omong kosong. Kita yang rasional saja," kata Sutaryo di Jakarta, Senin (26/9).

Dia mendata rata-rata kebutuhan kedelai nasional adalah 3 juta ton per tahun. Menurutnya, peningkatan minat petani untuk menanam kedelai secara cepat akan menantang walaupun harga kedelai saat ini cukup menarik.

Sutaryo menyampaikan, minat petani untuk menanam kedelai terlampau rendah lantaran kedelai impor yang dijual di dalam negeri lebih rendah dari biaya produksi kedelai lokal atau Rp 7.000 per kilogram (kg). Adapun, biaya produksi yang dikeluarkan petani untuk memproduksi 1 kg kedelai adalah Rp 8.000.

 Saat ini, harga kedelai impor telah naik menjadi Rp 12.000 per kg. Artinya, harga kedelai lokal menjadi kompetitif di pasar domestik. Sutaryo menilai petani kedelai lokal bahkan dapat menjual kedelainya senilai Rp 10.000 per Kg.

Namun demikian, dia menilai Kementerian Pertanian harus pelan-pelan meningkatkan minat petani untuk menanam kedelai. Oleh karena itu, Sutaryo mendorong pemerintah untuk memperpanjang periode program subsidi selisih harga yang dilakukan oleh Perum Bulog.

Sebagai informasi, Perum Bulog mensubsidi selisih harga senilai Rp 1.000 per Kg pada April-Juli 2022. Program tersebut ditargetkan untuk pembelian kedelai sebanyak 800.000 ton. Pemerintah sebelumnya berencana untuk melanjutkan program subsidi tersebut hingga akhir 2022.

Sutaryo mencatat realisasi volume kedelai yang tersubsidi selama program subsidi tersebut baru mencapai 80.000 ton atau hanya 10% dari target pada April-Juli 2022. Selain itu, Sutaryo mengatakan kelanjutan program subsidi tersebut belum kunjung dilakukan hingga saat ini.

Menurut dia, program subsidi tersebut menjadi penting lantaran harga kedelai yang diterima pengrajin tahu-tempe saat ini telah mencapai Rp 13.000 per Kg. Artinya, harga kedelai hampir naik 100% jika dibandingkan dengna harga pra-pandemi yakni sekitar Rp 7.000 per Kg.

Advertisement

Sutaryo mengatakan, pengrajin tahu-tempe di dalam negeri berusaha membantu pemerintah untuk menjaga kondisi perekonomian tetap kondusif dengan tidak melakukan demonstrasi. Pasalnya, kata Sutaryo, kondisi perekonomian saat ini sudah cukup bergejolak dengan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM.

"Tapi, kalau pemerintah nggak mendengar permohonan kami, kami nggak bisa menghalangi lagi keinginan para pengrajin untuk melakukan demonstrasi. Kalau bisa dilakukan dengan cara yang elegan, ayo kita lakukan secara bersama-sama," kata Sutaryo.

Seperti diketahui, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyiapkan dana sekitar Rp 900 miliar untuk memberi subsidi bagi pengrajin tahu-tempe di dalam negeri, di tengah harga kedelai yang melonjak. Skema subsidi yang dipilih adalah pembiayaan selisih antara harga jual importir dan harga yang diinginkan melalui Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog).

Sebelumnya, Direktur Utama Bulog Budi Waseso atau biasa dipanggil Buwas mengatakan, harga kedelai yang didapatkan dari importir kini terlampau tinggi. Buwas menilai hal itu disebabkan kedelai yang dimiliki oleh importir berasal dari Amerika Serikat (AS).

Adapun, tingginya kedelai dari Negeri Paman Sam disebabkan oleh inflasi yang cukup tinggi. Alhasil, biaya produksi kedelai di sana melonjak dan tercermin dalam harga jual di pasar internasional.




Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait