Mendag Zulhas Curhat Rendang di Arab Saudi Bumbunya dari Thailand

Indonesia selalu mengalami defisit neraca perdagangan dengan Arab Saudi selama 28 tahun.
Tia Dwitiani Komalasari
1 Oktober 2022, 16:00
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (kiri) melihat stok telur saat digelar Operasi Pasar Telur Ayam Ras di Pasar Minggu, Jakarta, Jumat (2/9/2022).
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (kiri) melihat stok telur saat digelar Operasi Pasar Telur Ayam Ras di Pasar Minggu, Jakarta, Jumat (2/9/2022).

Produk ekspor Indonesia seringkali kalah saing dengan negara Asia Tenggara lainnya karena harganya lebih mahal. Tak jarang produk makanan khas Indonesia malah menggunakan bahan baku dari luar negeri.

Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, mengatakan tidak mudah bagi Indonesia untuk menembus pasar ekspor, terutama UMKM. Daya tawar produk Indonesia pun seringkali lemah dibandingkan negara lain.

Pria yang akrab dipanggil Zulhas ini mencontohkan perdagangan dengan Arab Saudi. Menurut dia, neraca perdagangan Indonesia selalu defisit dengan negara tersebut.

"Kita ini aneh, negeri dengan penduduk Islam terbesar tapi perdagangannya dengan Arab Saudi kecil. Memang lumayan US$ 2 miliar, tapi kita defisit," ujar Zulhas saat peresmian UMKM Halal Hub Jakarta, Sabtu (1/10).

Advertisement

Berdasarkan data Comtrade, nilai perdagangan Indonesia-Arab Saudi pada 2021 mencapai US$5,55 miliar atau setara Rp79 triliun (dengan kurs Rp14.269 per dolar AS).  Ekspor Indonesia ke Arab Saudi pada 2021 mencapai US$1,58 miliar. Namun, impor Indonesia dari Arab Saudi mencapai US$3,97 miliar.

Alhasil, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$2,38 miliar atau setara Rp34 triliun. Jika dirunut ke belakang, defisit neraca perdagangan dengan Arab Saudi ini selalu dialami Indonesia dalam 28 tahun terakhir, seperti terlihat pada grafik.

Grafik:

Bumbu rendang di Arab Saudi dari Thailand

Dia mengatakan, Indonesia banyak mengimpor minyak dari Arab Saudi. Warga Indonesia juga banyak yang menghabiskan uang di Arab Saudi saat ibadah umrah dan haji. Namun demikian, Indonesia sulit memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan ekspor dan kalah dengan negara Asia Tenggara lainnya.

"Saat haji, uang dari kita. Umrah, uang dari kita. Tapi ikan Patinnya (yang dikonsumsi jamaah) dari Vietnam. Itu karena Patin Indonesia lebih mahal 40%," ujarnya.

Selain ikan patin, Zulhas juga mencontohkan bumbu rendang yang justru banyak diimpor Arab Saudi dari Thailand. Padahal rendang merupakan makanan khas dari Indonesia.

"Kita makan rendang di Arab Saudi, bumbunya bukan dari Padang atau Jakarta, tapi dari Thailand. Itulah dagang, harganya kompetitif dan bersaing,"ujarnya.

Zulhas mengatakan, bahwa dirinya telah berkomunikasi dengan Menteri Perdagangan Arab Saudi. Kedua menteri telah sepakat untuk membentuk tim kecil dalam rangka meningkatkan perdagangan kedua negara.

Dia menargetkan Indonesia bisa mendirikan tiga hypermarket di tiga kota Arab Saudi yaitu Jeddah, Mekah, dan Madinah. Dengan demikian, UMKM Indonesia bisa menyalurkan produk-produk ekspornya ke hypermarket tersebut.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait